SALAHKAH AKU MENCINTAIMU

SALAHKAH AKU MENCINTAIMU
Bab 45


__ADS_3

"A-aku ... a-aku merasa nyaman bersama Zara, Ma," lirih Juna kemudian dengan tatapan tak beraturan terlihat bingung.


Mendengar itu, Camila tersenyum sinis. "Kamu mencintai dua wanita dalam waktu yang sama, Juna? Apa kamu waras?" sindir Camila, terlihat angkuh sambil melipat kedua tangan di dada. Dia masih tak membiarkan anaknya untuk menginjakkan kaki di dalam rumahnya.


"Ma, kenapa aku tidak bisa memiliki keduanya? Aku mencintai Laura, dan aku juga mempunyai perasaan pada Zara. Tolong jangan membuatku bingung dengan keadaan ini, Ma. Juna mohon sama Mama, kembalikan barang-barang Zara lagi. Biarkan dia tetap di sisiku!" raung Juna penuh frustasi menatap ibunya dengan kalut.


Lelaki yang biasanya terlihat gagah itu, kini penampilannya begitu berantakan. Kancing kemeja yang dia pakai copot di dua bagian sebelah atas, lengan bagian siku tertekuk tak beraturan. Bahkan, rambutnya sekalipun terlihat sangat acak-acakan. Terlihat sekali, jika Juna memang tidak baik-baik saja sekarang.


"Mama tidak mau mendengar apapun alasan kamu, Juna. Kamu lelaki, seharusnya kamu bisa tegas. Pilihanmu hanya pada Laura, atau Zara. Lepaskan salah satu di antara mereka!" ketus Camila lagi yang teguh pada pendiriannya. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu, seolah bersikap tak peduli pada perasaan anaknya.


"Ma ...," lirih Juna yang pada akhirnya ambruk jatuh ke lantai. Tubuhnya lunglai, dan kini dia merangkak ke arah ibunya.


Camila yang melihat itu sampai melotot kaget, tapi dia membiarkan sang anak, tak berniat mengelak ataupun menolong. Meskipun begitu, hati seorang ibu tetap saja merasakan sakit melihat anaknya seperti itu.


"Tentukan pilihanmu, Juna," kata Camila mengembuskan napas panjang dengan tatapan yang rumit. "Jika kamu memilih Zara, lepaskan Laura. Buang dia dan jangan pernah sesekali kamu berhubungan dengannya. Jika kamu memilih Laura, ceraikan Zara, dan silahkan pergi dari kehidupan Zara. Mama juga tidak akan mengurusi urusanmu lagi, Mama akan melepaskanmu jika memang itulah pilihanmu."


"Kenapa tak ada yang menguntungkan jika aku memilih Laura di sini? Apa sebegitu bencinya Mama pada Laura? Mama bahkan belum mengenal sepenuhnya sosok Laura, tapi kenapa Mama sangat anti padanya?" tanya Juna kemudian, wajahnya memelas terlihat lelah, seolah menanggung beban yang sangat berat.


"Kata siapa Mama tak mengenal Laura?" pekik Camila kemudian dengan marah.


Melihat anaknya terlihat kaget akibat bentakkannya, membuat Camila mendesah kasar.

__ADS_1


"Dari mana Mama mengenalnya?" tanya Juna.


"Berdirilah, aku akan menceritakan sesuatu padamu," pinta Camila kemudian, mengulurkan tangan pada Juna yang berada di bawahnya.


Kali ini Juna tak mengelak, dia menurut dan mengikuti ibunya yang kini menggandengnya masuk ke dalam rumah. Wanita yang melahirkannya itu membawanya duduk di ruang tamu.


Berkali-kali Juna melihat ibunya menghela napas panjang. Dalam hatinya bertanya-tanya, apa yang sebenarnya wanita itu pikirkan sampai terlihat begitu frustasi seperti itu?


"Juna...," kata Camila kemudian, setelah suasana hening selama beberapa saat. Tatapannya terlihat lembut penuh kasih sayang saat menatap sang anak.


"Mama melakukan semua ini bukan tanpa sebab. Kamu tahu, kan, jika Mama tidak pernah membenci orang tanpa alasan?" tanya Camila menegaskan suaranya.


Melihat anaknya mengangguk, Camila segera melanjutkan, "Dulu ... hubungan Mama dan papa pernah pada ujian yang terberat sampai-sampai Mama ingin menyerah untuk berpisah."


"Lima tahun yang lalu, papamu pernah membuat ulah. Dia--"


"Apa Papa juga pernah selingkuh?" tanya Juna menyela tiba-tiba dengan wajah yang tegang.


Camila yang mendengar itu segera menggeleng diiringi senyuman. Dia mengulurkan tangan untuk mengusap kepala sang anak. "Bukan, papamu tidak pernah menduakan Mama. Hanya saja ... dia pernah terseret dengan sikap buruk teman-temannya."


Mata Camila terlihat sendu saat menatap kosong ke arah depan. Wanita paruh baya itu terlihat seperti menerawang untuk mengingat kejadian yang pernah dia alami.

__ADS_1


Lima tahun yang lalu...


Hubungan Camila dan Candra tidaklah harmonis. Candra tak lagi romantis pada Camila, dan sering mengabaikan istrinya. Candra bahkan selalu tak mempunyai waktu bahkan di hari libur sekalipun.


Camila menduga, jika Candra mempunyai wanita lain. Setiap kali mereka bertemu di rumah, keduanya sering bertengkar karena Camila terus-terusan menuduh dan Candra tak pernah mengakui.


"Aku tak pulang malam ini, jangan menungguku!" Hingga suatu pagi, Candra berpamitan pada Camila saat mereka sedang sarapan bersama.


"Mau ke mana?" tanya Camila, mendadak berwajah cemberut.


"Itu bukan urusanmu!" sahut Candra yang langsung pergi begitu saja.


Melihat sikap dingin sang suami, membuat hati Camila begitu sakit. Tanpa sadar emosinya meluap dan tak bisa dibendung lagi.


Wanita itu segera bangun, tanpa mengganti baju santainya dia segera mengikuti sang suami. Seharian Camila berada di kantor Candra, memantau lelaki itu dari ruang resepsionis. Dia bahkan menyamar, dan meminta bantuan karyawan Candra agar posisinya tidak diketahui.


Camila terus menunggu, sampai menjelang malam barulah Candra keluar. Dengan cepat dia mengikuti lelaki itu kembali. Langkahnya membawa dia ke salah satu rumah milik teman sang suami.


Rumah itu sedang diadakan pesta saat Camila datang. Melihat suaminya masuk, dia dengan cepat turun dari mobil dan berniat mengikuti sang suami.


Namun, begitu Camila masuk ke rumah tersebut, tubuhnya hanya bisa kaku penuh ketegangan. Melihat banyak lelaki berkelas, dan para wanita nakal yang menemani dengan pakaian yang super seksi.

__ADS_1


'Apa maksudnya ini?'


__ADS_2