SALAHKAH AKU MENCINTAIMU

SALAHKAH AKU MENCINTAIMU
Bab 75


__ADS_3

Kabar yang didapat di pagi hari tadi, membuat seluruh keluarga Emirhan langsung pergi ke Villa yang menjadi tempat Zara berada. Mereka bahkan tak sempat mandi, bahkan sarapan sekaligus saat mendengar laporan dari Liam jika Zara menghilang.


Anaknya itu tak ditemukan, Emirhan sudah menyuruh anak buah Zayyan mencari keberadaan Zara. Bahkan dia juga menelpon beberapa orang untuk membantu. Tapi sosok Zara benar-benar tak ada sama sekali. Jejaknya seperti lenyap ditelan bumi.


"Kenapa kalian tidak becus bekerja, hah? Kenapa bisa kecolongan?!" Zayyan langsung mengamuk pada Liam dan juga Pram begitu sampai di villa. Lelaki itu terlihat begitu marah, tatapan matanya berapi-api dengan teriakan lantang yang menggema.


Emirhan dan istrinya sampai kaget, karena belum pernah melihat Zayyan mengamuk seperti ini. Anak mereka itu benar-benar kalap, terlihat bukan seperti Zayyan yang mereka kenal. Meskipun begitu, mereka tak kecewa, karena mereka tahu jika Zayyan pun sedang kalut dengan hilangnya Zara.


"Zayyan, sudah ... jangan terlalu keras pada mereka," pinta Zavier menengahi, dan meminta kembarannya itu untuk tenang.


"Tch! Jika mereka tidak lalai, Zara tidak akan hilang seperti ini!" decak Zayyan protes, masih saja tidak terima.


Zavier yang melihat itu segera meminta Zayyan untuk mundur. Kini, dia yang maju untuk mengintrogasi Liam dan juga Pram.


"Bisa kalian ceritakan detailnya? Jam berapa kalian melihat Zara terakhir kalinya?" tanya Zavier yang kini dengan tenang, tanpa suara berteriak.


"Tengah malam, Tuan," jawab Pram menyahut. "Saya berjaga sendiri, karena Liam istirahat setelah seharian penuh mengawasi. Saat itu, saya melihat nona Zara menangis di balkon. Saya membiarkannya, dan mengawasinya dari jarak jauh tapi tetap terlihat. Selang beberapa menit, kantuk menyerang yang membuat saya ke dapur untuk membuat kopi. Tapi saat saya kembali, Nona Zara tidak ada. Saya mencarinya, sampai menemukan sepanjang jalan lantai basah karena air, saat saya telusuri ternyata itu mengarah ke kamar Nona Zara." Pram berkata panjang lebar, menjelaskan apa yang dilihat dari matanya sendiri semalam.


"Saya yang khawatir, mengetuk pintu kamar. Nona Zara keluar, dia terlihat pucat tapi dia berkata baik-baik saja dan ingin istirahat. Setelah itu, dia menutup pintunya lagi dan saya menunggu di sofa ruang santai dekat kamarnya dan malah ketiduran. Pagi tadi saat Liam memintaku mengecek, ternyata Nona Zara sudah tidak ada." Anak buah Zayyan itu menunduk ketakutan, merasa bersalah karena lengah menjaga majikannya.


Emirhan yang mendengar itu langsung lemas, dia merasa dadanya sedikit sakit kembali. Lelaki paruh baya itu tampak tertekan, dan terus menggumamkan nama Zara.


Zayyan yang ada di dekat ayahnya, segera memapah untuk duduk di sofa. "Pa, tenang ... aku janji akan menemukan Zara."


"Aku tidak mau tahu, Zayyan. Kamu tidak boleh pulang jika adikmu belum ditemukan." Emirhan meraung penuh frustasi.


Di tengah kekalutan suasana tersebut, tiba-tiba Liam menyela, "Maaf, Tuan. Saya menemukan surat-surat ini di kamar Nona Zara saat sedang mencarinya tadi."


"Surat apa?" cetus Zavier penasaran, lalu mengulurkan tangan untuk meminta amplop yang dipegang oleh Liam.


Terdapat dua amplop yang tersegel. Satu tertulis untuk keluargaku tersayang, dan dua tertulis untuk suamiku tercinta.


"Biar Papa lihat, Zavier." Emirhan yang melihat itu langsung meminta dengan tergesa. Dia segera membuka amplop yang pertama, dan cepat-cepat membaca tulisannya.


Surat pertama untuk keluargaku tersayang.


Dear keluargaku tersayang.


Jika kalian membaca surat ini, berarti aku sudah pergi jauh. Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Aku hanya ingin menenangkan diri, meskipun tidak tahu harus ke mana. Aku hanya ingin sendiri, tanpa diganggu siapapun. Berikan waktu untukku, agar bisa memulihkan luka pada hatiku yang kini berongga dengan lubang yang sangat besar.

__ADS_1


Maafkan aku, Papa. Aku mencintaimu. Maaf belum bisa menjadi putri yang baik. Kini aku menyesali keputusanku karena tidak mendengarkanmu. Andai saja aku tahu, jika semua yang Papa katakan itu demi kebaikanku, aku tak pernah melakukan hal ini.


Sayangnya, saat itu aku terlalu bodoh. Rasa cintaku pada Mas Juna terlalu besar sehingga membuatku buta akan segalanya. Meskipun begitu, aku tidak menyesal. Aku anggap semuanya pelajaran hidupku yang harus aku jalani agar bisa tumbuh menjadi sosok yang lebih dewasa.


Jangan cari aku, Papa. Aku janji, jika waktunya tiba nanti aku akan kembali. Tenangkan diri Papa, dan jangan kesehatan. Jangan sampai Papa sakit, hanya karena kepergianku.


Untuk mamaku tersayang, aku menyayangimu. Begitupula dengan Kak Zayyan dan Kak Zavier. Maaf telah menyusahkan kalian. Aku harap kalian bisa tegar menerima keputusanku sekarang. Satu lagi, tolong jaga Papa untukku agar saat aku kembali dia tetap baik-baik saja.


Aku pamit, sampai jumpa di lain waktu. Oh, ya satu lagi. Maaf karena aku telah mencuri perhiasan Mama. Aku butuh modal untuk hidup sendiri. Tolong jangan marah ya, Ma.


Aku mencintai kalian semua …


Dari Zara, yang akan selalu merindukan kalian.


Tangis Emirhan pecah, dia tak sanggup membaca surat perpisahan dari Zara. Anak perempuannya itu berpamitan, dan pergi meninggalkannya. Jelas sekali tertulis, jika dia tak boleh khawatir. Tapi bagaimana bisa?


"Zara...!" Emirhan merung frustasi, memukul-mukul dadanya yang terasa sakit. "Kenapa kamu tega melakukan ini pada Papa, Nak? Papa memang menginginkan kamu berpisah dengan Juna, tapi tidak dengan meninggalkan keluargamu juga. Astaga, Zara, di mana kamu sekarang?"


Zavier meneteskan air mata, dia tak menyangka jika adiknya itu akan pergi meninggalkan mereka semua. Adiknya itu bahkan tak membawa telepon yang membuatnya benar-benar tidak bisa dihubungi.


Zayyan sendiri merasa terpuruk, raut wajahnya begitu sedih. Lelaki itu tertuduk, menjatuhkan dirinya di lantai begitu saja sambil menopang kepalanya yang tertunduk dengan pandangan kosong.


Keluarga Emirhan benar-benar merasakan duka yang mendalam, akibat kepergian Zara yang hanya pamit dengan secarik kertas. Mereka syok, merasa sedih, dan sangat terpukul.


Juna sedang melamun, tatkala sering sipir datang mendekatinya. Mendengar jika ada sering pengacara yang ingin bertemu dengannya, membuat harapan Juna membumbung tinggi. Dia yakin, orang tuanya itu pasti akan melakukan segala cara agar dirinya terbebas dari kurungan sel besi ini.


Senyum Juna merekah saat bertemu seseorang di ruang pertemuan itu. Merasa tidak sabar, dia segera bertanya, "Jadi, apa yang diusahakan orang tuaku sekarang agar aku bisa cepat bebas?"


Seorang lelaki paruh baya yang berpenampilan rapi memakai kacamata di hadapan Juna itu tampak mengerutkan dahi dalam. "Maaf, tapi saya bukan utusan orang tua Anda," jawabnya dengan lugas.


Tentu saja hal ini membuat Juna merasa syok, entah kenapa jantungnya berdegup kencang seolah merasakan firasat yang buruk.


"Perkenalkan, nama saya Aditama. Saya pengacara yang diutus oleh keluarga Emirhan," kata lelaki paruh baya itu sambil tersenyum.


Juna tercengang, matanya sampai tak bisa berkedip. Entah kenapa, dia terlihat gugup. "A-apa ... a-apa yang Anda lakukan di sini?" tanyanya sedikit terbata-bata.


Aditama tersenyum, dia membuka tas kerjanya yang ada di meja. Lalu mengambil berkas map berwarna merah, dan menyerahkannya pada Juna. "Tuan Emirhan meminta saya untuk menyerahkan surat perceraian Anda. Katanya, ini perintah dari Nona Zara. Beliau juga menitipkan surat ini untuk Anda," tutur Aditama, mengeluarkan amplop kecil dari saku jasnya.


Bagai tersambar petir, tubuh Juna menegang. Dia benar-benar merasa syok, sampai-sampai tak bisa bernapas dengan normal. Jantungnya berdegup sangat kencang, seolah ingin lari dari tempatnya dan meninggalkan raganya.

__ADS_1


Juna masih terdiam, tanpa berbicara, tanpa bergerak, bahkan suara napasnya pun tidak terdengar. Hanya matanya yang melotot kaget, serta tubuhnya yang lemas bagikan agar-agar yang tak mempunyai tulang.


"Anda baik-baik saja, Pak Juna?" tanya Aditama mengerutkan dahi dalam melihat Juna tak merespon sama sekali.


"A-aku ... a-aku...." Bahkan untuk berbicara sekalipun, Juna tak bisa membuka mulutnya dengan normal.


"Sepertinya Anda masih syok, kalau begitu saya akan pergi saja. Terima kasih untuk waktunya, Pak Juna. Sampai jika di pengadilan," tutur Aditama lalu membereskan barang-barangnya. Tugasnya hanya untuk memberikan surat gugatan perceraian, dan juga surat yang dititipkan oleh keluarga Emirhan.


Bahkan di saat Adithama pergi, Juna masih terdiam. Tetapi lama-lama tubuhnya gemetar, dan dia menangis. Matanya menatap nanar, dua amplop surat yang ada di hadapannya.


"Aku tidak mau berpisah, Zara. Tidak!" teriaknya penuh emosi, sambil merobek amplop yang tertulis dari pengadilan. Dia bahkan langsung membuangnya begitu saja.


Namun, saat mata Juna menatap pada amplop surat yang satunya. Dia tak bisa menahan kegugupannya. Juna membukanya pelan-pelan penuh perasaan, seolah menganggap surat itu adalah bagian dari diri Zara.


Mata Juna bergerak tak beraturan saat membaca surat tersebut. Semakin lama, dia semakin terisak. Dia begitu tertekan, dan sangat frustasi setelah selesai tulisan tersebut.


Surat kedua untuk suamiku tercinta.


Dear Mas Juna, cintaku, belahan hatiku.


Maaf jika aku tak bisa menjengukmu di penjara, dan maaf karena membawa kabar buruk untukmu.


Aku pamit, Mas. Aku sudah tidak sanggup menderita lagi. Luka yang kamu berikan sangat menyakiti hatiku, dan membuat hidupku terasa hancur.


Mungkin aku masih bisa memaafkanmu, tapi maaf karena kali ini aku tak bisa kembali padamu. Kamu benar-benar membuatku kecewa, dan kamu merusak rasa kepercayaan yang selama ini aku bangun lagi setelah kamu meminta kesempatan kedua.


Andai saja waktu bisa diputar kembali, aku ingin mengenalmu lebih awal. Aku ingin Tuhan mempertemukan kita, dan membuat kita saling jatuh cinta sebelum kita mengenal dunia lainnya lebih dalam. Agar hanya ada kamu dan aku yang ada, tanpa adanya orang lain yang masuk lebih dulu.


Sayangnya, semuanya hanya kata 'andai', sehingga hanya bisa dibilang keinginan dalam imajinasi yang tak pernah terwujud. Nyatanya, kita dipertemukan dalam keadaan yang rumit.


Meskipun begitu, aku tetap bersyukur bisa mengenal dirimu, jatuh cinta padamu, dan sempat memilikimu. Aku rasa, waktu singkat itu sudah teramat cukup untukku.


Kini aku ingin mengakhiri semuanya. Aku tidak ingin egois, Mas, karena masih ada yang lebih membutuhkan dirimu daripada diriku. Yaitu, anak yang sedang dikandung Laura sekarang.


Jika kamu memang mencintaiku, bolehkah aku meminta kamu merawat anak itu dan menikahi Laura? Aku harap kamu bisa berkorban, seperti aku yang merelakan dirimu sekarang.


Selamat tinggal, Mas Juna. Semoga kamu bisa menuruti permintaanku yang terakhir. Aku mencintaimu, lebih dari kamu mencintaiku. Izinkan aku pergi, dan jangan mencariku kembali. Jika memang kita berjodoh, kita pasti akan bertemu lagi.


Salam sayang

__ADS_1


Cintamu, Zara.


"Arghhh!!!! Kenapa kamu melakukan hal ini padaku, Zara!" Lelaki itu berteriak, meraung histeris sambil memukuli kepalanya berkali-kali. Dia tak menyangka jika perbuatannya akan membuatnya kehilangan sang istri tercinta, dan juga calon anaknya sendiri. Juna benar-benar terpuruk, dan sangat menyesal dengan semua yang terjadi.


__ADS_2