SALAHKAH AKU MENCINTAIMU

SALAHKAH AKU MENCINTAIMU
Bab 76


__ADS_3

Di sebuah tempat, di belahan dunia yang lain. Seorang anak kecil berlarian mengitari taman bunga. Tampak riang dengan suara tawa yang terdengar cekikikan. Di sebelahnya ada kucing anggora yang ikut berlarian, mengejar anak kecil itu sambil terus mengeong.


Dari kejauhan, seorang wanita tampak tersenyum melihatnya. Dia terlihat santai, menikmati waktu sorenya sambil menikmati secangkir teh hangat dan camilan kue jahe. Wajahnya tampak teduh, terlihat begitu dewasa dan sangat tenang.


"Nara, jangan berlarian, Nak … awas jatuh!" Seorang wanita paruh baya baru saja muncul dari dalam rumah. Meskipun rambutnya telah memutih semua, tapi dia terlihat masih bugar dengan begitu sehat.


"Dia baik-baik saja, Emily," sahut wanita yang duduk itu, dia tersenyum untuk menenangkan wanita paruh baya yang baru saja datang itu.


"Oh, Zara … kamu selalu membiarkannya bertindak sendiri, apa kamu tidak khawatir?" tanya Emily, menyusul duduk di samping wanita muda itu.


Zara menggeleng, masih saja menampilkan senyum manisnya. "Dengan begitu dia akan belajar, tugas kita hanya mengawasinya dan membimbingnya jika dia salah melangkah," tuturnya menjawab dengan lembut.


Emily memutar bola mata malas, wanita paruh baya itu mulai menyesap tehnya yang kini terasa sedikit dingin. Setelahnya, dia ikut mendongak sambil memperhatikan bocah yang berlarian di hadapannya itu.

__ADS_1


"Kita terlalu terlena sampai tidak menyadari waktu telah berlalu. Lihatlah, anakmu bahkan sudah hampir berusia lima tahun sekarang." Emily memulai perbincangan sambil membayangkan masa lalu.


"Kamu benar." Tatapan Zara melayang ke enam tahun silam, saat pertama kalinya dia menginjakkan kaki di Belanda.


Dia tersenyum, mengingat lagi bagaimana hancurnya dia dulu setelah mendengar kabar suaminya mempunyai anak wanita lain. Zara yang hancur kala itu memutuskan untuk kabur dengan mencuri perhiasan sang ibu.


Saat itu, Zara tak tak menetap. Dia selalu pergi ke satu tempat dan tempat lainnya agar dirinya tak bisa dilacak oleh keluarganya. Usahanya berhasil, tetapi hal itu juga membuat uangnya habis.


Dia sempat menyerah dan hampir putus asa, ketika Tuhan memberinya takdir lain. Sebulan setelah kepergiannya, dia baru menyadari jika dirinya tengah hamil. Zara yang mengetahui fakta itu menjadi menyesal telah meninggalkan keluarganya.


Zara tak bisa kembali, perhiasannya pun sudah habis berikut uang tunainya. Untungnya, kala itu dia bertemu dengan Emily. Wanita tua pemilik restoran yang memberinya makan kala itu saat menemukan dirinya pingsan di jalanan. Setelah itu, mereka menjadi akrab setelah Zara menceritakan segalanya tentang dirinya. Emily yang bersimpati membantunya, merawatnya, dan membiayai semua kebutuhannya. Bahkan menguruskan Visa untuknya agar bisa lebih lama lagi tinggal di Belanda.


Dan di sinilah akhirnya Zara berada. Di tempat yang jauh, tanpa seorang pun mengenal dirinya, tanpa keluarga ataupun teman yang mengetahui keberadaannya. Dia tinggal bersama Emily yang seorang janda, dan juga Nara, anaknya.

__ADS_1


Zara sengaja mencantumkan nama singkatan pada anaknya, agar dia tak melupakan kejadian di masa lalunya.


"Entah kenapa aku merindukan keluargaku, Emily," tutur Zara tiba-tiba setelah lama terdiam melamun.


"Apa kamu ingin kembali negaramu untuk menemuinya?" tanya Emily penasaran.


Zara masih tersenyum, menatap kosong ke arah depan. "Entahlah, aku tidak tahu."


Mungkin memang sudah waktunya untuk aku kembali. Sudah cukup lama aku bersembunyi dan lari dari masalah.


Sebentar lagi, Papa. Tunggu aku.


...End...

__ADS_1


__ADS_2