
Tubuh Juna terhuyung ketika Zayyan kembali menghempaskan dirinya. Untung saja dia masih bisa berdiri, akibat berpegangan pada sandaran tangga di belakangnya. Meskipun saat ini tubuhnya hampir mati rasa, Juna tetap ingin mempertahankannya selagi menghadapi kedua kakak kembar Zara itu.
Dia kembali berjalan tertatih, mendekati saudara-saudara iparnya itu dengan wajah memelas penuh kesedihan. "Aku memang salah, aku mengakui perbuatanku itu memang tidak terpuji. Tapi apakah tidak ada kesempatan untukku memperbaiki diri? Bagaimana dengan keputusan Zara terhadapku? Apakah dia benar-benar ingin berpisah denganku?" tanya Juna beruntun dengan pedih.
Zayyan dan Zavier tampak saling pandang, dan lagi-lagi mereka sepemirikan. Zara memang memang masih mengharapkan Juna, terlepas dengan sikap bajingan Juna selama ini. Adik mereka itu masih mencintai lelaki brengsek itu, dan berniat untuk kembali.
Zayyan mengembuskan napas kasar. Dia baru saja melangkah maju untuk memberikan Juna pelajaran lagi ketika Zavier menghentikannya. Zavier menggeleng pelan, sambil mendorong saudaranya itu ke belakang. Kini, gantian dia yang maju dan menghadapi adik iparnya itu.
"Apa kamu benar-benar berniat berubah dan ingin kembali pada Zara?" tanya Zavier. Dia masih bersikap lembut penuh ketenangan, daripada Zayyan yang terkesan bar-bar dan penuh emosi.
"Tentu saja, aku tidak ingin berjanji, tapi aku akan membuktikan keseriusanku pada Zara dan menebus kesalahanku," jawab Juna tersenyum dengan kesedihan. Napasnya tampak putus-putus saat ini.
"Bersikaplah tegas, Juna!" sahut Zavier menekan kalimatnya dengan rendah. "Kamu itu lelaki, dan lelaki seharusnya mempunyai prinsip. Kamu harus bisa memutuskan, dan jangan egois untuk berambisi memiliki semuanya."
"Jika memang kamu mencintai Zara, tebus kesalahanmu untuk meninggalkan Laura. Biar wanita ular itu menghilang selamanya dari kehidupan kalian kelak. Aku tak ingin mendengar lagi, jika dia masih berkeliaran di sekitarmu, terlebih lagi jika aku mengetahui Zara kembali tersakiti," imbuh Zavier kemudian.
Senyum Juna perlahan merekah. Mengabaikan rasa sakitnya, dia mengangguk dengan cepat. "Akan kulakukan permintaan kalian. Aku bersumpah akan membuktikan semuanya."
Zavier ikut tersenyum tipis karena hal itu. "Baiklah, kalau begitu urus dulu masalahmu. Kami selesai," tuturnya yang langsung menghampiri Zayyan dan mengajak saudara kembarnya itu pergi.
__ADS_1
Zayyan masih sedikit mengelak, karena belum puas memukuli Juna. Meskipun begitu, dia tampak pasrah saat Zavier terus saja menariknya.
Tepat ketika dia tiba di hadapan Juna, Zayyan kembali berkata, "Kamu tidak boleh menemui Zara, jika sampai urusanmu dengan si ular itu belum kelar! Jauhi Zara, dan jangan sampai kamu melukainya lagi. Kamu boleh bertemu dengannya, jika kamu benar-benar terbebas. Jangan mencoba untuk membohongiku, Juna, aku punya banyak mata-mata untuk mengawasimu!"
"Zayyan." Zavier mengeluh dengan sikap saudara kembarnya itu.
Sedangkan Juna menjawab dengan anggukan penuh semangat disertai senyumnya yang lebar. Terlihat begitu senang karena kakak kembar Zara itu memberinya kesempatan untuk membenahi diri. Dia berjanji pada dirinya sendiri, akan menyelesaikan semuanya dengan cepat.
Juna bersyukur karena setidaknya Tuhan masih memberikannya kesempatan untuk menebus kesalahannya.
Juna hanya bisa menjatuhkan diri, ketika Zayyan dan Zavier mulai pergi dari rumahnya. Lelaki itu sedikit terpuruk, dan tak kuat untuk menopang tubuhnya lagi yang terasa sangat sakit akibat pukulan yang didapat dari Zayan.
"Terima kasih, Ina. Tolong berikan aku obat untuk pereda nyeri," pinta Juna.
"Anda tidak ingin ke rumah sakit saja, Tuan?" tanya Ina yang masih saja tampak khawatir.
"Tidak apa-apa, aku hanya butuh istirahat untuk sementara," tutur Juna menjawab dengan suara yang lirih.
"Ina, apa kau juga kecewa padaku?" tanya Juna.
__ADS_1
Ina tersenyum hambar. Kecewa jelas saja Ina kecewa, tetapi Ina sadar semua orang pernah mempunyai kesalahan.
"Tuan, yakin tidak ingin saya panggilkan dokter atau ke rumah sakit?" tanya Ina tak menanggapi pertanyaan Juna padanya.
"Aku hanya ingin istirahat dan merenungi semuanya. Maafkan aku, Bi. Aku tahu kalian semua pasti kecewa padaku," ucap Juna.
"Buktikan jika Anda dapat menjadi pria yang jauh lebih baik lagi, Tuan. Hanya itu yang kami semua harapkan," ucap Ina.
Ina tak lagi berkata apa pun setelah itu, terlebih melihat kondisi Juna saat ini.
Karena majikannya bersikeras seperti itu, Ina akhirnya setuju tidak memanggir dokter. Ina memberikan obat pereda nyeri pada tuannya itu, dan membantunya minum.
Juna terbatuk kecil ketika dia meminum obat tersebut. Rasanya tenggorokannya begitu tercekat sekarang. Dia sampai mendesah kasar karenanya.
Dia baru saja akan membaringkan tubuhnya, ketika ingat akan sesuatu. "Ina," panggilnya tiba-tiba kemudian.
"Ya, Tuan?" tanya Ina.
"Sampaikan pada salah satu penjaga, pastikan dia untuk mengiring Laura pergi menjauh. Aku tidak ingin suatu saat wanita itu kembali. Kalau perlu, culik saja Laura dan buang di suatu tempat terpencil," pinta Juna dengan serius. Kali ini, dia tak lagi memikirkan perasaan wanita itu sekarang. Dia hanya ingin memfokuskan dirinya dengan masa depannya saja.
__ADS_1
Ina mengangguk, dan juga menahan tawa mendengar ucapan Juna, tapi dengan sigap melaksanakan perintah majikannya untuk memberitahukan hal ini pada salah satu penjaga rumah.