SALAHKAH AKU MENCINTAIMU

SALAHKAH AKU MENCINTAIMU
Bab 38


__ADS_3

Seharian menemani Laura memburu barang-barang kesukaannya di pusat perbelanjaan, serta seharian memikirkan Zara membuat Juna merasa sangat lelah. Lelah fisik dan pikiran menjadi satu. Satu hal yang Juna sadari sekarang adalah jika Juna mengharapkan Laura dan Zara menjadi miliknya.


Egois, Juna akui jika dirinya sangat egois karena menginginkan kedua wanita itu sekaligus. Juna telah mencoba memilih antara keduanya tetapi tetap saja Juna tidak dapat melepaskan salah satunya.


"Sayang, terima kasih karena sudah menemaniku seharian ini. Aku merasa sangat senang," ucap Laura mencium sebelah pipi Juna yang sedang mengemudikan mobil.


Laura tak memperpanjang respon Juna yang begitu datar padanya. Tatapan Luara yang ikut menatap jalanan membuat Laura jelas menyadari arah jalanan yang mereka lewati.


"Kenapa ke arah sini?" tanya Laura membuat Juna menoleh sekilas padanya.


"Kita akan pulang, aku lelah," jawab Juna.


"Iya, aku tahu kita akan pulang. Namun kenapa ke arah sini? Rumahmu ke arah sana!" ucap Laura jelas mengatakan jika pulang yang Laura inginkan adalah rumah Juna, bukan apartemennya.


Juna yang mendengar itu mengela nafas kasar. Juna menemani Laura seharian, selain karena untuk membukuk Laura, itu juga Juna lakukan agar bisa membawa Laura keluar dari kediamannya. Rasa bersalah benar-benar membebani Juna saat Laura berada di kediamannya yang harusnya di tempati oleh Zara. Belum lagi ucapan Ina yang terus saja terngiang-ngiang di telinganya.


"Aku tidak bisa membawamu pulang ke rumahku. Tolong mengerti posisiku, jangan membuatku semakin sulit. Semua pelayan tahu statusku, mereka semua menyukai Zara. Mereka merasa tidak nyaman dengan keberadaanmu di rumahku," jawab Juna yang akhir-akhir ini tanpa sadar selalu membuat Laura tersinggung dengan kalimatnya.

__ADS_1


"Kamu lebih memikirkan kenyamanan pelayan-pelayan itu daripada aku? Apa aku tidak lebih penting dari pelayan itu?" tanya Laura kesal.


"Aku lelah terus berdebat denganmu. Kenapa kamu tidak bisa seperti Zara?" ucap Juna semakin memancing emosi Laura yang mendengarnya.


"Jangan pernah membandingkan aku dengan wanita itu!" bentak Laura.


"Aku tidak bermaksud membandingkan kalian. Aku hanya berharap kamu bisa lebih pengertian seperti Zara. Lihatlah, dia bahkan tidak pernah sedikit pun protes akan sikapku. Tolong jaga sikapmu, tolong mengerti keadaanku. Jika sikapmu selalu seperti ini, itu akan membuatku mulai berpikir untuk membandingkan kalian," balas Juna membuat Laura terdiam mendengarnya.


‘Sial. Wanita itu benar-benar akan mengancam posisiku. Aku tidak bisa diam saja, aku harus bertindak,’ Batin Laura.


"Baiklah, aku minta maaf. Tapi kali ini saja, sayang. Untuk terakhir kalinya aku ingin malam ini menginap di rumahmu, selagi Zara tidak ada di rumah. Sangat jarang aku bisa menghabiskan waktu seharian bersamamu, setelah kamu menikah. Kamu selalu membagi waktumu, kamu mengingkari janjimu dulu yang selalu berkata akan menjadikan aku prioritasmu," ucap Laura pelan dengan memasang raut wajah sedih.


"Hanya malam ini. Setelah itu aku tidak akan datang ke rumahmu tanpa izinmu," ucap Laura lagi menatap penuh harap pada Juna yang terpaksa mengangguki kepalanya dengan harapan Laura akan menepati janji yang dia ucapkan untuk tidak datang ke rumahnya lagi.


Juna memutar arah mobilnya menuju ke arah rumahnya. Setengah jam kemudian, mereka tiba di kediaman Juna. Juna mengembuskan nafas berat dan itu membuat Laura seketika menatapnya.


"Ada apa?" tanya Laura.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Ayo turun!" jawab Juna.


Juna merasa enggan masuk ke dalam rumahnya. Bukan karena Laura, tetapi karena Juna tidak ingin kembali merasakan perasaan sesak di dadanya setiap kali sadar jika tidak akan ada sosok yang menyambutnya pulang.


Keduanya masuk ke dalam rumah tanpa merasa curiga pada para pelayan yang menatap penuh arti pada mereka. "Aku akan mengantarmu ke kamar, setelah itu aku akan kembali ke kamarku. Aku sangat lelah dan ingin beristirahat sejenak, jadi tolong jangan menggangguku saat aku tengah istirahat," ucap Juna sembari melangkah menaiki anak tangga.


Tiba di depan kamar yang ditempati Laura. Baik Laura dan Juna sama-sama merasa terkejut melihat kamar Laura yang terlihat kosong tanpa ada satu barang pun di sana.


"Apa maksud semua ini? Kamu meminta pelayan mengosongkan kamarku? Di mana barang-barangku?" tanya Laura kesal menatap marah pada Juna yang sama sekali tidak tahu dengan apa yang sudah terjadi.


"Aku tidak melakukannya," ucap Juna.


"Lalu siapa yang berani melakukan semua ini?" bentak Laura dengan suara yang benar-benar terdengar marah.


"Saya yang melakukannya," jawab seseorang membuat Juna dan Laura seketika menatap ke asal suara dan dibuat amat terkejut melihat kehadirannya.


__ADS_1


__ADS_2