SALAHKAH AKU MENCINTAIMU

SALAHKAH AKU MENCINTAIMU
Bab 39


__ADS_3

Tubuh Juna membeku dengan mata terbelalak saat melihat seseorang yang saat ini ada di depannya. Juna melepaskan tanganya yang dapat memegang tangan Laura sebelum akhirnya terdiam.


"Apa maksud dari semua ini, Juna?" ucap seseorang itu lagi membentak Juna yang masih saja terdiam menatap takut padanya.


Camila Nugraha. Ya, orang itu adalah ibu dari Arjuna Aditya Nugraha, wanita yang telah melahirkan dan membesarkan Juna.


Bukan hanya Juna yang terdiam. Laura dan para pelayan pun hanya bisa terdiam menatap takut pada Camila yang terlihat jelas emosi di wajahnya.


"Ma," cicit Juna yang bahkan tak dapat berkata apa-apa.


Juna sama sekali tidak menyangka jika mamanya akan datang ke rumah tanpa mengabarinya. Meskipun hidup terpisah, selama ini keluarganya selalu mengabari setiap kali akan datang berkunjung, begitu juga Juna yang akan mengabari setiap kali akan datang ke tempat orang tuanya.


"Jadi, ini jawaban dari semua perasaan tak nyaman di hati mama selama ini. Ini yang telah kamu lakukan. Luar biasa, kamu sangat-sangat luar biasa, Juna."


Camila benar-benar tak habis pikir jika putranya akan berbuat hal yang begitu buruk seperti sekarang. Jika saja dia tidak datang ke sana, mungkin selamanya mereka tidak akan mengetahui pengkhianatan yang telah diperbuat oleh Juna.


Camila kembali teringat saat tadi dia tiba di rumah Juna.


Tiga jam yang lalu.


"Aku benar-benar merindukan mereka, terlebih lagi Zara. Sepertinya mereka benar-benar sudah melupakan kita," ucap Camila yang saat ini tengah bersandar di bahu suaminya–Candra.


"Kamu benar-benar akan ke sana?" tanya Candra lada istrinya.


"Ya, aku akan memberikan mereka kejutan. Aku ingin melihat respon mereka saat melihatku datang ke sana tanpa memberitahu mereka," jawabnya tersenyum senang membayangkan ide yang ada di kepalanya.


"Baiklah kalau itu keputusanmu. Maaf aku tidak bisa menemanimu ke sana," ucap Candra yang di anggukkan mengerti oleh istrinya karena memang pekerjaan Candra sama sibuknya dengan pekerjaan Juna.


Satu jam kemudian, seperti yang Camila rencanakan akhirnya terjadi. Saat ini wanita yang masih terlihat cantik meskipun usianya sudah tak lagi muda itu sudah berdiri di depan pintu rumah dan di sambut dengan begitu baik oleh para pelayan.


"Selamat datang, Nyonya. Senang melihat kedatangan Anda," ucap Ina menyambut ibu dari majikannya.


"Terima kasih, Ina. Apa Juna dan Zara ada di rumah? Di mana Zara? Aku sangat merindukan putri cantikku itu," tanya Camila yang begitu tidak sabar ingin bertemu dengan Zara.


Pelayan yang mendengar pertanyaan ibu Juna hanya bisa terdiam. Antara ingin menjawab tetapi juga ragu untuk menjawab karena pastinya jawaban yang keluar akan membuat masalah untuk Juna.

__ADS_1


Melihat respon pelayan yang seperti itu, rasa penasaran hadir. Wanita yang menjadi nyonya besar keluarga Nugraha itu menatap penuh selidik pada Ina.


"Apa yang terjadi? Katakan dengan jelas! Jangan tutupi apapun dariku!" ucap Camila dengan begitu tegas dan lantang membuat Ina tersudutkan sehingga tak ada pilihan selain menjawab pertanyaan Camila padanya.


"Itu-anu- Nyo–"


"Katakan dengan benar! Ada apa?" bentak Camila semakin penasaran saat melihat Ina terbata-bata dalam bicara.


"Non Zara tidak ada di rumah," jawab Ina berusaha untuk tenang, meskipun Ina tetap saja takut membayangkan masalah yang akan menimpah Juna dan kehebohan yang pastinya akan terjadi setelah Camila mengetahui kelakuan Juna.


"Di mana Zara? Dia pergi bersama Juna?" tanya Camila lagi sedikit menurunkan nada bicaranya.


"Tidak Nyonya. Nona Zara pulang ke rumah keluarganya." Ina benar-benar takut mengatakan hal itu. Ina bahkan tidak berani mengangkat wajahnya untuk menatap Camila. Ina hanya bisa menunduk takut.


"Apa? Apa maksudmu pulang ke rumahnya? Di mana Juna?" Emosi Camila kembali terpancing setelah mendengar jawaban Ina.


Camila bahkan belum sempat duduk di rumah Juna, tetapi emosinya sudah dibuat begitu menggebu mendengar ucapan Ina.


"Di mana Juna! Katakan dengan benar, jangan membuatku marah!" tukas Camila.


Camila yang mendengar itu nyaris saja terjatuh saat tubuhnya tiba-tiba terasa lemas ketika mendengar jawaban Ina yang menyebutkan nama Laura. Ina dan beberapa pelayan yang ada di sana dengan cepat membawa Camila menuju sofa yang ada di sana lalu membantunya untuk duduk di sana.


"Kenapa? Apa Zara tidak cukup untuk Juna? Zara jauh lebih baik dari wanita itu. Kenapa Juna masih saja bersamanya?" ucap Camila meneteskan air matanya.


Semua pelayan yang mendengar itu termasuk Ina, dibuat sangat terkejut. Mereka sama sekali tidak menyangka jika ibu dari majikan mereka mengetahui tentang Laura.


"Apa Zara mengetahui semua itu?" tanyanya menatap pelayan dan berharap pelayan mengatakan tidak, karena Camila sama sekali tidak bisa membayangkan jika Zara mengetahui semua itu. Gadis cantik yang selama ini sangat dia dambakan untuk menjadi putrinya sama sekali tidak ingin Camila lihat Zara tersakiti. Camila mencintai Zara sama besarnya dengan rasa cinta dan sayang Camila untuk Juna.


"Kapan Zara pergi?" tanya Camila lagi.


"Dua hari yang lalu, Nyonya."


"Sudah dua hari dan Juna membiarkan Zara pergi?" ucap Camila semakin terluka dengan fakta yang didengarnya.


"Apa Zara mengetahui semua ini?" ulang Camila masih menunggu jawaban dari pertanyaannya.

__ADS_1


"Kami tidak tahu, Nyonya." Jawaban yang terdengar sama sekali tidak membuat Camila merasa puas.


"Apa mereka pernah bertengkar?" tanyanya.


"Tidak. Keadaan di rumah ini benar-benar tenang berkat kehadiran Non Zara. Kehadirannya dapat membuat suasana menjadi tenang, nyaman dan berwarna, Nyonya. Non Zara wanita yang sangat baik, dan sepertinya Tuan Juna juga menyadari itu. Tuan Juna juga selalu bersikap lembut pada Mon Zara. Hubungan keduanya sangat baik," jawab salah satu pelayan saat Ina tak mampu berbicara.


"Tapi, tuan Juna selalu pulang larut malam. Saya tahu jika Non Zara merasa sedih meskipun dia selalu terlihat tersenyum. Sebaik-baiknya wanita pasti akan bertanya-tanya ke mana suaminya pergi? Kenapa bisa setiap hari pulang terlambat? Tapi semua itu tidak terjadi pada Non Zara. Dia selalu saja terlihat tenang menghadapi semuanya. Dia selalu saja berusaha menjadi istri yang begitu baik untuk tuan Juna. Dia benar-benar sosok yang sempurna di mata saya, Nyonya." Ina tak dapat lagi menyembunyikan rasa simpatinya pada Zara. Ina siap menerima resiko atas semua ucapannya jika saja nanti Juna memecatnya. Yang pastinya Ina tidak ingin hanya diam membiarkan wanita yang sudah dianggap seperti putrinya terluka.


Camila yang baru saja akan merasa tenang setelah mendengar jawaban pelayan sebelumnya tentang keharmonisan rumah tangga Juna, sekarang menjadi ikut terluka mendengar penuturan Ina.


Camila sangat mengenal Ina sebab Ina adalah pelayan pertama Juna dan dia sendiri yang mempekerjakan Ina untuk menjaga Juna. Ina tidak mungkin mengarang cerita, dan itu juga yang membuat Camila akhirnya menangis.


Kesedihan menyelimuti Camila membayangkan apa yang terjadi lada Zara.


Camula juga sangat mengenal Zara. Zara adalah wanita yang begitu baik, tidak pernah mengeluh dan selalu berusaha tenang menghadapi setiap masalahnya.


Jika benar Juna selalu pulang larut malam, bisa dipastikan ada luka yang begitu besar di hati Zara.


"Aku menjodohkan mereka agar Juna terlepas dari wanita ular itu dan agar Nuna dapat memiliki wanita yang sempurna seperti Zara. Aku sangat menyayangi ZRa seperti aku menyayangi Juna. Aku bersalah dalam hal ini," ucap Camila menyalahkan dirinya atas apa yang telah terjadi.


"Ceritakan semuanya padaku! Semuanya!" pinta Camila pada semua pelayan hingga akhirnya Camila bisa mengetahui tentang kamar yang menjadi kamar Laura di sana.


Dengan tubuh gemetar Juna coba mendekat pada Camila. Kemarahan yang terlihat jelas di wajah Camila benar-benar membuat Juna merasa takut. Juna benar-benar bingung harus berbuat ataupun berkata apa menghadapi emosi ibunya, sebab Camila sangat jarang atau bahkan bisa dikatakan tidak pernah marah. Melihat Camila marah adalah hal yang menakutkan untuk Juna.


"Ma, dengarkan penjelasanku!" ucap Juna.


PLAKK…


Satu tamparan yang begitu kencang mendarat di sebelah pipi Juna. Juna sama sekali tidak merasakan sakit di wajahnya, sebab melihat tatapan kecewa di mata Camila lebih menyakitkan untuknya.


"Tentukan pilihanmu. Mama atau wanita ini yang keluar dari rumah ini. Bukan hanya kali ini, tapi selamanya!" ucap Camila bak petir yang menggelegar menyambar tubuh Juna yang mendengarnya.


"Ma," lirih Juna.


"Juna, sampai kapan kita harus bersembunyi seperti ini? Aku pikir inilah saatnya mengakhiri semua sandiwara ini dan katakan yang sebenarnya tentang hubungan kita. Aku tidak ingin selamanya dianggap sebagai simpananmu seperti ini!" sahut Laura yang sedari tadi diam, akhirnya angkat bicara saat Laura merasa posisinya terancam.

__ADS_1


"Dia benar. Akhiri semua ini," ucap Camila.


__ADS_2