SALAHKAH AKU MENCINTAIMU

SALAHKAH AKU MENCINTAIMU
Bab 50


__ADS_3

"K-kamu ... K-kamu--"


"Ya, aku sudah tahu semuanya, Laura!" pekik Juna menyela ucapan Laura yang terdengar gugup. Lelaki itu m TVasih menatap wanita yang selama ini menemaninya dengan tatapan tajam. "Ibuku sudah menceritakan semuanya tentang dirimu. Untuk apa kamu menutupinya lagi, hah?"


"Tapi, Juna--"


"Semuanya sudah selesai, Laura. Kita tidak bisa lagi bersama. Aku ...." Juna sampai-sampai tak bisa melanjutkan ucapannya karena saking bingungnya dia dalam bertindak. Dia tidak ingin ada pertengkaran yang rumit, yang dia inginkan adalah perpisahan yang baik-baik dan Laura pergi meninggalkannya. Juna masih punya hati, untuk tidak melukai wanita itu terlalu dalam.


Lelaki itu mengembuskan napas panjang penuh frustasi, sedetik kemudian tangannya terulur untuk mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Juna berteriak dengan lantang, meluapkan emosinya sendiri dengan stres.


Setelah merasa tenang, barulah dia kembali menatap ke arah wanita di depannya itu. "Pergilah, Laura. Selagi aku memintamu pergi baik-baik, maka segeralah menyingkir."


Laura yang sejak tadi terdiam dengan isak tangis, mulai melangkah mendekati Juna. Tapi, hatinya terasa begitu sakit tatkala lelaki yang dicintainya itu mundur menjauhinya. Tangan Laura hanya mengambang di udara dengan sia-sia.


"Juna," panggilnya lirih sambil mengusap wajahnya kasar yang basah akibat air mata.


"Juna, tolong ... aku masih ingin di sini bersamamu, Juna," kata Laura lagi penuh permohonan.


"Apa kamu tak mengindahkan perintahku, Laura?" sahut Juna tampak ketus.


Melihat wanita itu bersikeras tidak ingin berpisah darinya membuat Juna bosan. Lelaki itu segera menarik tangan Laura kasar, menyeretnya menuju pintu keluar.


"Jangan lakukan ini padaku, Juna. Aku mohon, jangan seperti ini. Kita sudah bersama selama ini, jangan buat aku menderita seperti ini, Juna."

__ADS_1


Laura meraung, tapi Juna tetap mengabaikan wanita itu. Dia terus membawa Laura keluar dari rumahnya. Bahkan saat sampai di depan pintu, dia tak segan untuk menghempaskan tubuh Laura sampai jatuh.


"Penjaga!" teriak Juna ketika melihat Laura merangkak ingin mendekatinya lagi.


Tak berselang lama, dua penjaga rumah Juna datang dengan tergopoh-gopoh. Juna yang melihat itu segera memberi perintah, "Bawa wanita itu keluar dari rumahku, dan jangan izinkan dia masuk lagi ke sini. Pastikan, kakinya tak pernah menginjak ke rumahku lagi!"


"Siap, Tuan," jawab dua penjaga itu serempak.


Sedetik kemudian, dia mendekati Laura dan menyeret wanita itu menjauh dari Juna.


Laura terus berteriak, bahkan tak segan memaki dan berontak untuk bisa terbebas. Tapi sebagai wanita, tenaganya jauh kalah dibandingkan dua lelaki yang menjadi penjaga rumah Juna itu. Kini tubuhnya hanya bisa terseret ke arah gerbang. Laura tak memperdulikan lagi dengan tubuhnya yang terasa sakit sekarang.


"Arjuna!!!"


Lelaki itu masuk kembali ke dalam rumah dengan langkah yang tegas. Sorot matanya tajam, saat memandangi pintu kamar tamu yang terletak di sebelah tangga.


"Ina!" Tiba-tiba, dia berteriak memanggil pembantu rumahnya itu.


Wanita yang selama ini ikut Juna sejak Juna pindah ke rumah ini itu datang dari arah dapur dengan panik. Dia segera menghadap Juna dengan hormat tatkala tiba di depan majikannya itu. "Ya, Tuan," jawabnya dengan lugas.


"Bantu aku menyingkirkan semua barang-barang Laura sekarang juga!" perintah Juna, tanpa menatap Ina dia masuk begitu saja ke kamar tamu dan membongkar lemari.


Dari belakang, Ina tersenyum tipis. Dia merasa senang dengan keputusan majikannya itu. Entah kenapa, hatinya malah ikut bahagia mendengar wanita ular itu diusir dari rumah. Tanpa membuang waktu lagi, Ina segera beranjak untuk menyusul Juna.

__ADS_1


Hampir setengah jam kemudian, mereka menyelesaikan kegiatan dadakan mereka itu. Juna tampak bernapas lega, ketika akhirnya kamar tamu itu benar-benar kosong.


"Lalu akan saya apakan barang-barang ini, Tuan?" tanya Ina ketika melihat Juna akan pergi.


"Kamu bisa memilikinya, tapi jika tidak suka minta penjaga untuk membuangnya saja. Jangan sampai aku melihat barang-barang Laura ada di sini lagi," pinta Juna..


"Baik, Tuan," sahut Ina mengangguk. Dia menundukkan kepala saat Juna berpamitan untuk naik ke kamar beristirahat.


Setelahnya, Ina memandangi empat koper di depannya itu dengan wajah kesal. "Aku tidak sudi memakai baju wanita yang telah menyakiti nyonya Zara. Sebaiknya aku buang saja!" gumamnya mengeluh.


Ina menyeret dua koper, dia memanggil temannya yang lain untuk menyeret koper sisanya. Setelahnya, dia membawa koper-koper itu ke depan menuju pos penjaga yang berada di dekat gerbang.


Namun, sesampainya di sana Ina heran. Pasalnya ada suara berisik dari arah luar gerbang. Hal ini membuatnya segera bertanya pada para penjaga.


"Suara berisik apa itu?"


"Wanita yang diusir tuan Juna masih berada di depan gerbang. Dia memukuli pintu dan berteriak memaksa untuk masuk," jawab salah satu penjaga yang berada lebih dekat dengan Ina.


Entah kenapa, hal ini malah membuat Ina merasa senang. "Kalau begitu, berikan koper-koper ini padanya agar kita tidak kesusahan untuk membuangnya," pintanya.


Ina membiarkan koper-koper yang dibawanya tadi, kini diambil alih oleh para penjaga. Bisa dia lihat, para penjaga itu membawa koper ke luar gerbang. Terdengar perdebatan dan sedikit kekerasan dari luar, tapi Ina tak memperdulikannya lagi.


Wanita paruh baya itu kembali masuk dengan senyum yang puas. Dia tak sabar untuk masuk ke kamar, mengambil teleponnya dan menghubungi nyonya Camila. Ina tidak tahan untuk tidak menceritakan kabar bahagia ini pada ibu sang majikan.

__ADS_1


__ADS_2