
"Kamu dengar itu, Zara?" Reflek Juna langsung menoleh pada sang istri dengan wajah bahagianya. Melihat Zara mengangguk penuh haru, membuat Juna segera bangkit untuk memeluk sang istri.
Tapi gerakannya itu ditahan oleh Emirhan. Lelaki paruh baya itu kembali menyeret Juna ke hadapannya. "Jika kamu berani membuat kesalahan lagi, aku tak segan untuk memotong burungmu sampai tandas."
Orang tua Juna terkekeh, begitu juga ibu Zara dan si kembar. Meskipun wajahnya terlihat sangat, Emirhan masih bisa mengajak bercanda.
Juna mengangguk mantap. "Akan kuterima konsekuensinya, Pa," katanya penuh senyum. Setelah ayah Zara melepaskan dirinya, dia dengan cepat menghampiri sang istri dan memberikan pelukan. Juna tak segan untuk mencium wajah Zara berkali-kali, yang malah membuat Zara malu sendiri.
"Hentikan, Mas. Masih ada banyak orang!" keluh Zara, memukuli bahu Juna dengan pelan.
Lelaki itu hanya meringis sebagai jawaban. Dia yang mendapat restu kembali, seolah tak merasa sungkan dengan sikapnya yang kelewatan itu.
"Jadi, bisakah kita duduk berkumpul dengan santai? Cuacanya begitu dingin, dan sepertinya menikmati teh hangat adalah hal yang bagus." Zavier menyela tiba-tiba, dan menatap semua orang dengan sebelah alisnya terangkat.
"Aku setuju!" sahut Zayyan menimpali.
Emirhan yang melihat itu mengangkat kedua bahunya. "Well, kita akan pindah ke ruang santai sekarang. Ayo, Pak Candra!" ajaknya, yang langsung merangkul besannya itu.
__ADS_1
Camila tersenyum, dia mengikuti sang suami sambil bergandengan tangan dengan ibu Zara.
"Bolehkah aku istirahat saja? Kepalaku masih pusing," kata Juna menyela ketika semua orang sampai di pintu.
Emirhan mengerutkan dahi, tapi sedetik kemudian mengangguk dan tersenyum. Lalu kembali membawa semua orang pergi dari kamar Zara, dan tak lupa menutup pintu.
Kini, di ruangan kamar itu tinggal sepasang suami istri yang saling menatap dengan canggung. Zara tampak salah tingkah, dan Juna masih diliputi kebahagiaan karena mendapatkan Zara kembali.
"Sayang."
Baru kali ini Juna memanggilnya seperti itu. Rasanya aneh, tapi terasa menggelitik hatinya. Zara tak bisa menghentikan bibirnya yang terus tersenyum saat menatap suaminya.
"Tentu," jawab Zara mengangguk senang. "Aku akan terus bersama kamu mulai sekarang. Tolong jangan hancurkan kepercayaanku kali ini."
"Aku janji, hal ini tak akan terulang lagi, Zara. Aku akan membuktikan ucapanku!" sahut Juna serius.
Keduanya saling bertatapan dengan lekat. Mata Zara berbinar. Sedangkan Juna tak tahan untuk tidak menyentuh pipi Zara dengan kasih sayangnya.
__ADS_1
Tak ada kata yang terucap, tapi mereka tahu apa yang diinginkan hati mereka masing-masing.
Juna menarik tengkuk Zara. Untuk pertama kalinya, dia memberikan ciuman untuk wanita itu. Meskipun Zara terlihat kikuk, tapi Juna senang karena istrinya itu menyambut ciumannya.
"Kamu lupa bernapas, Zara?" tanya Juna ketika ciuman itu terlepas, dan napas sang istri tampak terengah.
Wajah Zara langsung memerah mendengar hak tersebut. Tanpa sadar dia menggigit kecil bibirnya dengan malu. "Aku...." Dia bahkan tak menemukan kata-kata untuk menjawab ucapan suaminya.
Juna hanya tersenyum, melihat sang istri tampak malu-malu membuatnya gemas. Gairah atas rasa cinta yang selama ini tak dia sadari, terasa membuncah yang membuatnya tidak tahan untuk tidak mengecup Zara kembali.
Dia kembali memberikan wanita itu ciuman. Kini ******* itu sedikit nakal, karena sesekali Juna menggigit kecil bibir Zara.
Zara sendiri tak protes kali ini. Sambil mengatur napasnya pelan, dia mencengkram kuat baju suaminya. Wanita itu terlena, yang membuatnya memejamkan mata.
Sampai akhirnya sebuah rasa geli menerpa diri Zara. Dia merasa ada kupu-kupu di perutnya, yang membuatnya tergelitik dengan perasaan tak nyaman meskipun terasa menyenangkan. Tanpa sadar, Zara melenguh, menimbulkan suara di dalam ciumannya.
Hal ini membuat Juna melepaskan ciumannya, dan akal Zara kembali pada tempatnya. Dia baru sadar, jika tangan Juna ternyata sedang menjamah di balik baju yang dia pakai. Entah kenapa Zara merasa gugup. Wanita itu melepaskan Juna, dan bangun begitu saja.
__ADS_1
"Zara, ada apa?" tanya Juna tampak kecewa karena Zara menjauh darinya.
Zara menggeleng, wanita itu tampak mengerutkan wajah merasa bersalah. "Maafkan aku, Mas Juna. Tapi sepertinya aku belum siap untuk melangkah jauh dari sekedar ciuman." Tepat setelah mengatakan hal tersebut, Zara berbalik dan keluar dari kamar begitu saja.