
Saking terkejutnya Camila dengan apa yang dilihat, dia sampai kehilangan sosok suaminya. Dia segera beranjak, menatap awas pada sekitarnya untuk mencari sosok yang dia ikuti kemari. Camila juga menerobos lautan manusia yang sedang menari menikmati musik dj yang sangat keras.
"Mas Candra!" panggil Camila di tengah keputusasaannya.
Dia merasa risih di tempat itu, apalagi saat beberapa mata lelaki menatap ke arahnya dengan liar. Camila hampir menyerah dan kembali, saat matanya menangkap sosok teman suaminya yang dia kenal.
Camila segera berlari mengejar, tak memperdulikan umpatan beberapa orang yang terusik akibat ulahnya. Dia mengikuti satu-satunya orang yang dia kenal di sini. Teman suaminya itu terus melangkah, membawa Camila naik tangga dan menuju ruangan lain dari area dansa.
"Tempat apa sebenarnya ini?" gumam Camila bertanya dengan lirih, sambil mengawasi sekitar.
Langkah Camila terhenti, ketika teman suaminya itu masuk ke pintu ruangan lain. Awalnya Camila merasa ragu, karena belum tentu juga dia akan menemukan suaminya di sana. Tetapi, rasa penasarannya begitu kuat saat ini, dan ingin tahu apa yang sebenarnya ada di dalam ruangan itu.
Kali Camila melangkah pelan, membuka pintu ruangan itu dengan hati-hati agar sosoknya tak dicurigai. Tepat ketika dia bisa melihat apa yang ada di dalam sana, matanya melebar dengan bibir setengah terbuka.
"Mas Candra," panggilnya dengan detak jantung sudah tak beraturan.
__ADS_1
Dengan mata kepalanya sendiri, Camila melihat sang suami berada di ruangan itu bersama teman-temannya yang lain. Yang lebih mengejutkan lagi, adalah sosok wanita telanjang yang sedang menari di atas sebuah meja.
Napas Camila menderu, dan dia langsung menghampiri suaminya begitu saja. Dia marah, melampiaskan semuanya pada Candra dengan pukulan dan tamparan yang bertubi-tubi.
Tak hanya di sana, dia juga mengancam para teman-teman Candra yang sudah menikah, dan akan melaporkan hal ini pada istri mereka masing-masing.
Setelah melampiaskan amarahnya pada semua lelaki yang ada di sana, amukan Camila berganti ke arah satu-satunya wanita telanjang yang ada di sana. Camilla hampir memukuli wanita itu, ketika dihentikan oleh Candra. Meskipun Candra menjelaskan semuanya jika itu bukan perselingkuhan. Tetapi tetap saja, sosok wanita penghibur itu masih terus menghantui benak Camila.
"Dan apa kamu tahu siapa wanita telanjang yang mama lihat waktu itu?" tanya Camila kemudian, setelah dia selesai berbicara. Dia menatap Juna dengan tatapan yang sangat terluka. "Dia adalah Laura, Juna. Wanita itu ... wanita itu adalah penari telanjang yang hampir melayani ayahmu sendiri," imbuhnya dengan suara serak karena mengingat luka batin yang pernah terjadi padanya.
Juna tak menjawab, sejak tadi dia terdiam dengan frustasi. Napasnya tampak putus-putus, dan kepalanya begitu pusing sampai-sampai dia harus menyangganya dengan tangan.
Ada perasaan sesak di hatinya, yang membuat dadanya terasa sakit. Dia tidak tahu, apakah itu perasaan kecewa, marah, ataupun sedih. Juna seperti orang linglung dengan perasaan campur aduk tersebut.
"Ma ... apa Mama yakin dengan apa yang Mama lihat waktu itu? Maksudku, mungkin saja Mama lupa karena itu kejadian yang sudah lama?" tanya Juna kemudian setelah hening beberapa saat. Dia seperti belum bisa percaya dan menerima begitu saja cerita masa lalu sang ibu.
__ADS_1
"Kamu meragukanku, Juna? Bagaimana bisa Mama melupakan wajah wanita yang selama ini menghantui mimpi buruk Mama?" tanya Camila balik dengan ketus.
"Tapi, bagaimana bisa?" tanya Juna lagi dengan bingung. "Bagaimana jika ini hanya siasat Mama? Bagaimana jika Mama berbohong agar sosok Laura menjadi hina di mataku?" Napas Juna bahkan terlihat putus-putus, dan tatapan matanya masih tak beraturan.
"Semua itu benar, Juna!"
Camila baru saja akan menjawab, ketika suara lantang terdengar dari arah depan. Ketika dia menoleh, dia melihat suaminya masuk dengan langkah yang tegas. Senyum Camila terbit sekilas, melihat suaminya membelanya untuk membongkar masa lalu.
"Papa!" tutur Juna kaget melihat kedatangan ayahnya. Dia langsung mendongak, untuk melihat lelaki paruh baya yang membuatnya ada di dunia ini.
"Laura memang wanita penghibur yang disewa oleh temanku lima tahun yang silam. Dia benar-benar menjadi penari telanjang, saat melayani kami," imbuh Candra lagi dengan serius. Dia bahkan tak malu untuk mengungkap aibnya sendiri pada sang anak.
"Jika memang itu benar, kenapa kalian tak mengatakan hal ini padaku dari awal, hah?" bentak Aruna bertanya balik dengan hati yang kecewa. "Kenapa, Ma, Pa? Kenapa?" raungnya.
Tangis Camila yang sejak tadi dia tahan, kini meledak juga melihat anaknya terlihat frustasi. Dengan cepat, dia menghampiri anaknya dan memeluknya penuh kasih sayang. "Karena Mama dan papa tidak ingin kamu merasa malu dan jijik pada diri sendiri, Nak. Papa tidak ingin kamu menyalahkan diri sendiri akibat mencintai wanita murahan seperti Laura."
__ADS_1