
"Bukankah kamu sudah tahu tentang masa laluku, Juna? Aku sudah menceritakannya padamu," kata Laura menyahut sambil memasang senyum terpaksa. Wanita itu masih belum berani menatap Juna, dan malah menunduk untuk melihat piring makannya.
"Ceritakan lagi, Laura, aku ingin mendengarnya lagi," pinta Juna tegas terkesan memaksa.
"Kamu ingin aku terluka lagi karena mengingat masa lalu?" tanya Laura balik dengan tatapan sedih, seolah sedang menyudutkan Juna. Melihat Juna masih terdiam membuatnya berteriak, "Baiklah kalau itu maumu, aku akan menceritakannya lagi. Aku adalah wanita korban pemerkosaan. Aku sempat mengalami depresi berat, sampai akhirnya aku keluar untuk mencari suasana baru. Aku kembali menatap ulang hidupku, dan bekerja, mencoba melupakan semua masalahku, dan akhirnya aku bertemu denganmu."
"Kenapa kamu membicarakan masalah ini, Juna? Kenapa kamu tega membuatku terluka kembali dengan ingatan kejadian yang telah lalu? Kenapa kamu mengungkit masa lalu burukku? Kenapa, hah?" imbuhnya meraung, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
'Pintar sekali kamu memainkan peran, Laura? Andai saja tak ada bukti, mungkin aku akan percaya dengan semua ucapan tipu dayamu ini,' gumam Juna dalam hati.
Sedetik kemudian, lelaki itu tertawa sinis. Dia mulai berdiri, lalu mengembuskan napas kasar dengan tangan bertolak pinggang. "Padahal aku sudah memberimu kesempatan, tapi kamu tetap tidak mau menggunakannya," katanya begitu lirih.
"Apa, Juna?" Ternyata Laura mendengarnya, dia bertanya karena suara Juna tidak jelas. Wanita itu ikut berdiri dan menatap Juna dengan lekat.
__ADS_1
Arjuna tersenyum, sedetik kemudian dia berkata, "Aku ingin mengakhiri hubungan ini, Laura."
Kali ini, Juna mengatakan dengan jelas sehingga Laura bisa mendengarnya. Wanita itu sangat syok, dan langsung menatap Juna dengan tajam.
"Aku tidak mau, Arjuna!" ketus Laura dengan suara yang merendah marah. "Aku tidak mau putus denganmu, aku tidak mau berpisah. Aku ingin terus bersamamu, sampai kita tua dan maut memisahkan. Kamu adalah satu satunya lelaki yang ada di hidupku selama ini. Aku tidak pernah rela jika kamu mengakhiri hubungan ini!"
"Pergilah, Laura. Aku tidak ingin melihatmu lagi. Sudah cukup sampai di sini hubungan kita. Aku tidak bisa meneruskannya lagi," jawab Juna masih dengan nada yang lembut meskipun sedikit tegas.
Lelaki itu sudah malas dengan hal ini, membuatnya ingin segera mengakhiri dengan pergi dari ruang makan tersebut.
"Juna ... aku tidak mau putus denganmu," kata Laura dengan sedikit sesegukan karena menangis.
Hal ini membuat Juna mendesah kasar, sebelah tangannya bertolak pinggang, sedangkan tangan yang lain dia gunakan untuk memijat pangkal hidungnya karena kepalanya mendadak pusing.
__ADS_1
"Laura," panggil Juna kemudian menatap wanita itu lekat. "Aku sudah membelikanmu apartemen, aku bahkan memberimu sebuah mobil. Aku selalu memenuhi kebutuhanmu dan keinginanmu selama ini. Kamu bahkan masih mempunyai tabungan dari tanah yang pernah kubelikan untukmu. Lalu apa lagi? Bagiku, rasanya semua ini sudah impas. Aku pikir inilah yang sebenarnya niatmu sejal dulu, kamu hanya mengincar hartaku saja. Tapi bukankah aku sudah berbaik hati memberikan semua apa yang kamu mau? Jadi tolong ... lepaskan aku. Akhiri saja semuanya di sini dan biarkan aku melanjutkan hidupku dengan benar."
"Tidak, Juna ... itu salah. Semuanya salah, yang aku inginkan hanyalah dirimu. Yang aku mau dalam hidupku adalah kamu, bukannya harta melimpah seperti itu. Aku ingin kamu, Juna. Aku menginginkan dirimu untuk terus berada di sampingku sampai tua nanti," raung Laura dengan kepala terus-terusan menggeleng. Dia memegangi tangan Juna dan menggoyangkannya, seolah sedang memohon lelaki itu untuk menarik lagi kata-katanya.
"Aku tidak bisa," tolak Juna masih dengan suara yang lembut. Dia menyingkirkan tangan Laura begitu saja.
"Aku sangat menyesal telah memperjuangkan dan mencintai wanita yang salah," ucap Juna.
"Juna, tolong ... katakan apa kekuranganku. Jelaskan apa kesalahanku sampai kamu bersikap seperti ini. Aku tidak mau pisah, Juna, aku tidak mau. Kenapa kamu bersikeras untuk mengakhiri hubungan ini?"
Didesak terus-terusan oleh Laura membuat kesabaran Juna habis. Emosinya meledak, dan dia menghempaskan tubuh Laura yang berusaha memeluknya. Napas lelaki itu memburu dengan tatapan yang tajam.
"Karena aku tidak ingin menjalin hubungan dengan wanita yang hampir pernah melayani ayahku sendiri!" Pada akhirnya, dia meluapkan emosinya dengan berteriak dan mengatakan kesalahan Laura yang sebenarnya.
__ADS_1
Lelaki itu benar-benar terlihat marah kali ini. Sampai-sampai tangannya menunjuk Laura dengan jijik.
"Aku jijik padamu bahkan pada diriku sendiri, Laura. Pergilah!" ucapnya.