
Mata Juna basah, baru kali ini dia menangisi rasa penyesalannya. Mendengar semua perkataan ayah dan ibunya, membuat hidupnya terasa hancur. Juna merasa dunianya berhenti sekarang.
Tubuh lelaki itu lemas, dan merosot jatuh ke lantai. Tangannya memeluk kaki sang ibu dengan erat. Juna meraung, melampiaskan semua kebodohan yang selama ini hinggap dalam dirinya.
"Maafkan aku, Zara ... maafkan aku." Tanpa sadar, kata-kata itulah yang terucap dari bibirnya. Lelaki itu merasa sangat-sangat bodoh, telah menyakiti hati sang istri hanya demi wanita yang selama ini pernah akan melayani ayahnya sendiri.
"Juna," panggil Camila ikut berjongkok, dia terlihat sedih melihat anaknya seperti itu.
"Maafkan Mama. Andai saja Mama mengatakan hal ini dari awal, kamu pasti tak akan terjerumus begitu dalam pada wanita ****** itu."
"Tidak ... bukan Mama yang salah. Juna yang seharusnya salah karena membawa orang yang selama ini menyakiti hati Mama. Maafkan Juna, Mama ... Juna sangat menyesal. Tolong ampuni Juna, Ma," raung Juna dengan suara bergetar, napasnya bahkan terdengar putus-putus karena dadanya yang terasa sangat sesak.
"Oh, Juna." Camila tak bisa berkata apa-apa lagi. Satu sisi dia merasa bahagia, karena akhirnya Juna tahu kebenaran tentang Laura. Tapi satu sisi pun, dia merasa sakit hati mengingat ulah wanita itu di masa lalu. Kini Camila memeluk anaknya dan menangis bersama.
Candra yang melihat itu menghela napas panjang. Perasaan bersalah kembali menghantui dirinya melihat sang istri begitu terluka. Lelaki yang biasanya terlihat tangguh itu, kini menunjukkan kelemahannya. Dia segera mendekati sang istri, dan menarik Camila dalam pelukannya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Sayang," lirih Candra pada Camila, sesekali dia mengecup kening istrinya itu dengan perasaan bersalah.
Juna tak melihat orang tuanya, pikirannya sudah sangat kacau sekarang. Rasa bersalahnya begitu besar dan dia benar-benar merasa frustasi telah menyakiti dua wanita yang ada dalam hidupnya. Bukan hanya pada Zara, kini dia juga bersalah pada sang ibu karena telah membuka luka lama.
Hampir beberapa saat, Juna menangis lirih penuh penyesalan. Sampai akhirnya dia merasa tenang, dia segera bangun untuk menghadap orang tuanya.
"Terima kasih untuk hari ini, Ma. Juna pergi dulu," pamit Juna bersiap.
"Kamu mau ke mana, Nak?" tanya Camila menatap sang anak dengan cemas.
Untungnya, Camila tak menentang hal tersebut. "Baiklah, tapi jangan terlalu kalut, oke? Kamu harus segera menyelesaikan masalahmu. Mama percaya padamu," kata Camila memberi nasihat.
Juna mengangguk, segera memeluk ibunya dengan erat. Dia memejamkan mata saat meresap kehangatan yang diberikan ibunya. "Sekali lagi maafkan Juna, Mama." Tepat setelah dia berkata seperti itu, dia melepaskan pelukannya.
Lelaki itu segera pergi tanpa berpamitan pada sang ayah. Juna merasa sangat malu atas tindakannya selama ini. Sampai-sampai tak mempunyai wajah untuk menghadap sang ayah.
__ADS_1
Di hari yang beranjak malam itu, Juna meninggalkan rumah orang tuanya. Dia mengemudikan mobil dengan perasaan tak menentu. Pikirannya berkecamuk sehingga tak bisa berpikir jernih saat ini.
Dia akhirnya pergi ke sebuah bar. Malam ini, Juna melampiaskan semuanya dengan mabuk-mabukan. Kebenaran yang baru saja dia ketahui benar-benar membuat dunianya hancur, dan rasanya dia tak bisa berdiri tegak di atas bumi ini.
"Pergi sialan, jangan dekat-dekat denganku!" bentak Juna, ketika dirinya diganggu oleh seorang wanita malam di Bar tersebut. Melihat wanita-wanita nakal itu, membuatnya dia terus mengingat apa yang dikatakan ibunya tentang Laura.
Lelaki itu terus menenggak alkoholnya. Terus meminta pada bartender, saat botol winenya sudah habis. Juna baru berhenti, ketika dia merasa kepalanya mulai ringan sekarang.
Saat itu juga, dia akhirnya memutuskan pulang. Juna mengendarai mobilnya ugal-ugalan dalam kondisi mabuk. Terus menertawakan dirinya sendiri dengan bodoh, bahkan tak segan untuk memukul kepalanya sendiri.
"Juna, apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu mabuk?"
Sampai akhirnya dia sampai di rumah, Laura menyambutnya. Namun, Juna yang sudah sangat kecewa pada wanita itu mengabaikannya. Dia bahkan tak segan untuk mendorong Laura, ketika wanita itu mendekat padanya dan terus bertanya tentang keadaannya.
'Pergilah, kenapa kamu di sini? Aku tidak mau melihatmu ada di rumahku.'
__ADS_1