
"Mas, sudah kubilang singkirkan selimut ini!" keluh Zara ketika berkali-kali Juna menutup tubuhnya dengan sebuah kain. Wanita itu tampak kesal, dan segera bangun dengan cemberut.
"Kamu apa-apaan, sih!" imbuhnya kesal.
"Bagaimana bisa aku membiarkanmu seperti ini, Zara? Meskipun tubuhmu tertutup sempurna, tapi tetap saja kamu masih memperlihatkan lekuk tubuhmu yang seksi. Aku tidak ingin hal ini dilihat orang-orang," kata Juna panjang lebar, mengeluh balik.
"Di sini bahkan hanya ada kita berdua, Mas. Lihatlah, apa ada pengunjung lain? Kamu sudah bilang padaku, kan jika kamu menyewa tempat ini pribadi untuk kita sore ini sehingga tak ada siapapun yang datang. Tak ada orang lain di sini!" ketus Zara mulai kesal dengan sikap sang suami yang terus saja melilitkan selimut pada tubuhnya. Jika tahu hal ini terjadi, lebih baik dia tak datang ke pantai tadi.
"Tetap saja, aku takut jika ada yang tiba-tiba datang!" tutur Juna bersikeras.
"Tch, menyebalkan." Hal ini membuat Zara berdecak, dia mulai bangun dari kursi santainya. Melemparkan kain selimut itu begitu saja ke pasir. Lalu beranjak dari sana.
"Zara, kamu mau ke mana?" tanya Juna yang ikut bangun, melepaskan kaca mata hitam yang sejak tadi bertengger di atas hidungnya.
"Mau kembali saja, kamu menyebalkan!" ketus Zara tanpa menoleh pada Juna.
Hal ini tentu saja membuat Juna panik, dengan cepat dia berlari mengejar Zara. Dia tidak ingin wanita itu kembali ke resort saat ini.
"Zara, maafkan aku. Kembalilah, oke?" bujuk Juna memeluk istrinya itu dari belakang.
"Nggak mau!" tutur Zara jual mahal.
Hal ini membuat Juna mendesah, membalik tubuh Zara untuk menatapnya. "Maaf jika aku terlalu posesif padamu. Kamu benar, di sini tidak ada orang, seharusnya aku tidak khawatir. Maafin Mas, ya?" pintanya dengan lembut.
Bibir Zara mengerucut, menatap Juna dengan kesal. Melihat lelaki itu menyesal, membuat Zara akhirnya mau kembali lagi ke pantai. Lagipula, dia masih ingin di sini karena dia belum puas untuk bermain.
Tapi jika dia mau begitu saja, suaminya itu pasti akan berpikir dirinya gampang dibujuk. Akhirnya Zara masih bersikap jual mahal, mengalihkan pandang dari Juna lalu melipat kedua tangannya di dada. "Tidak, mood-ku sudah berubah. Aku tidak mau kembali lagi!" ketusnya berdusta.
"Ayolah, Zara. Jangan marah lagi, oke? Ini liburan kita, tak seharusnya kita kesal satu sama lain." Juna bersikap memohon, menarik tangan Zara dalam genggaman dan mengusapnya lembut.
__ADS_1
Melihat istrinya itu bersikeras, membuat Juna tak tahan lagi. Dia yang mempunyai kesabaran tipis, akhirnya nekat untuk menggendong wanita itu.
"Aaa ... Mas Juna!" Zara sendiri langsung memekik ketakutan, apalagi saat suaminya itu menggendongnya dipanggul sehingga kini kepalanya berada di bawah. "Mas, lepaskan aku!" teriak Zara panik, karena dia melihat semua hal di sekitarnya dengan terbalik.
"Kamu nakal, sih! Jadi jangan salahkan aku berbuat begini!" ucak Juna terkekeh. Sesekali dia menepuk bokong Zara dengan gemas yang membuat wanita itu berteriak.
Sesampainya di kursi santai yang mereka gunakan tadi, kini Juna menurunkan wanita itu. Bisa dia lihat, wajah kesal Zara. Melihat Zara bersiap untuk mengamuk padanya, membuat Juna segera menangkup kedua pipi wanita itu dan memberikan ciuman.
Hampir beberapa saat, Juna tak melepaskan. Zara yang tadinya kesal lama-lama ikut terbuai untuk membalas ciuman tersebut. Dan ketika Juna melepaskannya, Zara tersenyum dengan napas yang terengah. "Dasar licik!" gumamnya ketus.
Juna menanggapinya hanya terkekeh. Dia lalu duduk, dan menarik Zara ke dalam pangkuannya. "Jangan pergi lagi, oke!" pintanya membujuk.
Zara mengembuskan napas panjang dengan bola mata memutar malas. "Baiklah," ucapnya dengan pasrah kemudian.
Mereka berdua kini berbaring bersebelahan di kursi santai yang sedikit sempit itu. Tak ada yang berbicara sama sekali. Keduanya sama-sama menikmati suasana damai dengan pemandangan matahari yang mulai tenggelam.
"Mataharinya menghilang dan hari mulai gelap, bagaimana jika kita kembali saja?" tanya Juna memecah keheningan yang hampir satu jam melanda.
"Ayo, di sini juga mulai dingin. Tubuhku menggigil," sahut Zara. Dia mulai bangun, dan disusul oleh Juna.
Tepat ketika mereka sama-sama berdiri dan akan beranjak untuk kembali ke resort, Juna menarik Zara ke dalam pelukannya dan mengecup kepalanya dengan penuh kasih sayang.
"Aku mencintaimu, Zara," ucap Juna tiba-tiba.
Zara yang mendengar itu tersenyum. Melonggarkan sedikit pelukannya agar dia bisa mendongak untuk menatap sang suami. "Aku juga mencintaimu, Mas. Sangat-sangat mencintaimu," balasnya yang kemudian berjinjit untuk mengecup bibir Juna.
Keduanya akhirnya mulai kembali. Berjalan berdampingan saling merangkul satu sama lain. Mereka terus menunjukkan wajah bahagia dengan senyuman.
Tepat ketika langkah mereka sampai di halaman resort, Juna tiba-tiba berpaling ke belakang dan menutup mata Zara.
__ADS_1
"Mas, ada apa?" Tentu saja hal ini membuat Zara kaget. Dia sedikit panik dan berusaha melepaskan tangan suaminya.
"Tak apa, Zara. Berjalanlah, aku akan memandumu," tutur Juna tersenyum.
Melihat Zara mengangguk, Juna langsung mengomandoi langkah istrinya itu untuk terus berjalan masuk ke dalam resort.
Jantung Zara berdegup kencang. Dalam hatinya menebak-nebak apa yang disiapkan suaminya itu untuknya. Dan ketika langkahnya terhenti, kini dia tidak sabar untuk melihatnya.
"Kamu siap, Zara?" tanya Juna berbisik di telinga Zara.
Zara langsung mengangguk antusias. Setelah itu, dia bisa rasakan jika tangan Juna mulai menyingkir dari penglihatannya. Wanita itu terlihat gugup saat mulai membuka matanya. Tapi dengan apa yang dilihatnya, dia tak bisa lagi menyembunyikan keterkejutannya.
"Mas Juna...."
Wanita itu tercengang, di hadapannya kini sebuah ranjang dihias dengan mawar yang berbentuk hati. Ada juga selimut yang menyerupai angsa. Suasana kamarnya itu begitu romantis dengan cahaya lilin yang menerangi. Rasanya begitu damai, dan sangat menakjubkan.
"Kapan kamu menyiapkan ini?" tanya Zara yang langsung berbalik menatap suaminya.
"Tadi, saat kita di pantai," jawab Juna tersenyum. "Apa kamu menyukainya?" tanyanya.
"Tentu saja, Mas. Ini sangat indah!" pekik Zara senang. Dia langsung memeluk suaminya dengan erat. "Terima kasih, Mas Juna."
Juna membalasnya, selama beberapa saat membiarkan istrinya itu dalam pelukannya. Sampai akhirnya sebuah kendali membuat tubuhnya bergejolak, yang membuatnya melepaskan pelukan itu dan langsung menatap ke arah Zara.
"Jadi, bisakah kita memulainya, Sayang?"
Zara bisa melihat pancaran hasrat yang ada di mata Juna. Setelah beberapa hari dia menahan untuk tidak lepas kendali, malam ini juga dia siap. Wanita itu mengangguk, lalu memberikan Juna ciuman malu-malu.
Ciuman yang panas akan hasrat bergejolak, yang membawa mereka berdua terbang di angan-angan untuk mencapai sebuah kepuasan. Setelah sekian lama, malam itu juga pertama kali mereka menyalurkan perasaan dengan percintaan panas.
__ADS_1