
Setelah dua hari pemulihan di rumah Zara, dan mendengarkan semua wejangan dari orang tua Zara dan kakak iparnya, kini Juna mengajak Zara untuk pulang. Dia terlihat senang, karena istrinya itu mau hidup kembali bersamanya.
Di rumah, ada Camila. Ibu Juna itu menyambut kedatangan Zara dengan bahagia. Tak hanya Camila, bahkan Ina dan beberapa pelayan yang lain senang dengan kepulangan Zara di rumah ini.
"Oh, Sayang. Aku bahagia karena kamu akhirnya bisa kembali dengan Juna. Jangan sungkan untuk mengatakan padaku jika Juna aneh-aneh. Aku tak segan untuk mengikatnya terbalik di atas pohon," kata Camila, menyapa Zara pertama kali saat mereka bertemu.
Zara yang mendengar itu merasa bahagia. "Terima kasih, Ma. Zara akan lapor langsung pada Mama jika mas Juna berani macam-macam," sahutnya terkekeh.
Juna yang ada di dekat sana memutar bola matanya malas. "Apakah kalian senang membicarakanku seperti itu?" keluhnya berpura-pura mengerutkan wajahnya.
"Tentu saja kami senang!" Camila menjawab antusias, yang disambut tawa oleh Zara.
Tersenyum, Juna hanya menggelengkan kepala melihat sikap ibu dan istrinya itu. "Di mana papa, Ma? Kenapa tidak ikut datang?" tanya Juna mengalihkan pembicaraan.
Wajah Camila langsung cemberut. "Di mana lagi? Orang itu lebih gila pekerjaan daripada istrinya sendiri!" jawabnya ketus dengan kesal. "Jika Juna lebih mementingkan pekerjaan daripada kamu, Zara, sebaiknya potong saja jarinya agar tak bisa lagi bekerja."
"Hey, tindakan macam apa itu? Mama mengajari menantu Mama bersikap buruk," keluh Juna kesal.
__ADS_1
"Biarin," sahut Camila tak peduli. Dia menatap Juna dengan senyum penuh ejekan, lalu menarik Zara untuk pergi dari sana.
Para wanita itu meninggalkan Juna sendiri, yang masih menenteng koper-koper milik Zara yang sempat disingkirkan oleh Camila. Karena orangnya sudah kembali, kini Camila berinisiatif untuk mengembalikan semuanya.
"Apa kamu lapar, Nak? Apa kamu sudah makan?" tanya Camila penuh perhatian, membawa Zara ke ruang makan.
"Sudah, Ma. Tadi kami sempat sarapan sebelum datang ke sini," jawab Zara tersenyum, merasa senang mendapatkan mertua yang pengertian padanya.
"Baiklah, jangan sampai kamu menjadi kurus lagi, ya. Mama tidak ingin orang tuamu mengeluh padaku. Yang ada mereka akan menyalahkan Juna karena tak merawatmu dengan baik," tutur Camila panjang lebar.
Mereka terus berbincang santai, sampai akhirnya Juna datang menyusul. Lelaki itu mendekati sang ibu dengan kesal, sebelum berkata, "Bisakah aku mengambil istriku? Kami masih harus menebus waktu yang telah hilang."
"Kenapa seperti pengganti baru?" keluh Camila bertanya balik, tanpa menjawab anaknya.
"Oh ayolah, Ma. Biarkan kami bersama. Mama pulang sana, urus papa agar tak bekerja terus. Kalau bisa kunci saja papa di kamar!" ketus Juna mengeluh balik.
Sontak hal ini membuat Camila malu, karena anaknya itu berbicara frontal. "Juna...!" ucapnya merendahkan suaranya.
__ADS_1
Camila baru saja akan mengusir Juna dan Zara, ketika doa mengingat akan sesuatu. Maka darinya, dia segera menatap anaknya lekat kembali. "Ngomong-ngomong, apa kalian mau bulan madu?" tanyanya antusias.
Zara yang sejak tadi diam memperhatikan, sampai terbatuk karena tersedak air liurnya sendiri mendengar ucapan sang mertua. Matanya melotot dengan wajah yang kaku.
Sedangkan Juna, tampak tersenyum dengan puas. "Kenapa aku tidak memikirkan hal itu? Oh, Mama, terima kasih karena membantuku menemukan ide membawa Zara menjauh dari kalian," ucapnya memekik senang, dan merangkul ibunya dari samping.
Camila yang mendengar itu mendesah kasar sambil memukul tangan anaknya. "Kamu ini, bisa-bisanya bilang begitu. Memangnya selama ini Mama mengganggu apa?"
"Sangat!" sahut Juna tertawa lebar.
"Aruna!" pekik Camila tidak terima dengan ucapan sang anak. Wanita itu tampak menggeram kesal, dan berniat untuk memukul Juna kembali.
Sayangnya, anaknya itu malah lari, dan membawa Zara pergi dari sana. Hal ini membuat Camila mengembuskan napas kasar. Dia terdiam di tempatnya selama beberapa saat, lalu senyum-senyum sendiri seperti orang gila.
Sialnya, kebetulan Ina akan ke dapur. Sehingga dia melihat sikap ibu majikannya itu aneh. Karena penasaran, dia segera menghampiri dan bertanya, "Nyonya, Anda baik-baik saja?"
"Tentu saja, Ina. Aku bahkan sangat-sangat baik sekarang," jawab Camila menyahut cepat. Matanya berbinar saat kembali mengatakan, "Aku hanya sedang tidak sabar untuk mendapatkan cucu dari Juna dan Zara."
__ADS_1