
Cinta berlari menuju lift yang terbuka di lobby. Hari ini dia terlambat 15 menit.
"Cinta?" tanya Rey sambil menekan lift untuk menutup pintu setelah membiarkan terbuka supaya gadis yang berlari itu bisa masuk.
"Hah, maaf saya terlambat pak." Jawab lelah Cinta tersengal-sengal setelah tau dihadapannya itu adalah bosnya.
"Ada hukuman untuk yang terlambat," ucap Rey.
Tring.. pintu lift terbuka. "Ting" kedipan mata Rey ke arah Cinta lalu keluar mendahuluinya.
"Haduh, kenapa terlambat sih, kirakira hukuman apa ya dari pak Rey nanti." Batin Cinta menutup wajahnya.
"Ada apa Ta." Suara lembut Rey tepat di depan wajah Cinta yang sedang duduk dimeja kerjanya, Cinta membuka wajahnya "eh bapak, ga apa apa koq pak," jawab Cinta.
"Oh iya boleh saya nanti pulang cepat pak?" tanya lagi Cinta setelah Rey berdiri dan sudah tidak mensejajarkan lagi wajahnya.
"No, kamu dapat hukuman karena terlambat," jawab Rey dan berlalu dari hadapan Cinta. Benar benar hari yang melelahkan, padahal malam ini Cinta sudah merencanakan jauh jauh hari bertemu dengan Inka, Melly dan Jessy, pasalnya setiap kali mereka berencana bertemu selalu gagal karena Cinta.
Jam menunjukkan pukul 5 sore. Cinta sudah berkemas untuk pulang, karena sepertinya tidak ada tugas lembur dari Rey.
"Kamu sudah mau pulang?" suara lembut Rey terdengar berdiri dipintu ruangan Cinta.
"Iya pak, ini sudah rapih. saya hari ini ga lembur kan pak?" tanya balik Cinta.
"Siapa bilang ga ada lembur." Seringai licik Rey "ini," meletakkan dua tiket twenty one premier di meja Cinta.
"Apaan ini?" Cinta mengambil tiket yang Rey letakkan.
"Hukuman buat yang terlambat." Sambil tersenyum Reypun keluar dan berjalan mendahului Cinta menuju basement.
Di bioskop, Rey dan Cinta berdiri melihat jadwal film yang sedang tayang hari ini. Posisi berdiri Rey dan Cinta begitu dekat. Rey menempelkan dada bidangnya pada bahu Cinta yang ada didepannya.
"Kamu mau nonton apa sayang?" tanya Rey lembut di telinga Cinta.
"Ihh apaan sih pak, nama saya Cinta bukan sayang."
"Lucu," jawab Rey sambil tersenyum.
"Bapak jangan macem-macem ya." Protes Cinta sambil menoleh ke arah Rey.
"Kita lagi diluar Ta, jangan panggil bapak, emangnya saya keliatan bapak-bapak apa," kesal Rey.
"Iya maaf kak."
"Nah gitu lebih enak didenger," sumringah Rey.
Setelah mereka sepakat dengan film yang akan mereka tonton, akhirnya mereka antri membeli dan masuk ke Pintu 2.
__ADS_1
"Kak..." Suara manja Cinta.
"Iya sayang.." jawab lembut Rey, sungguh momen ini sangat membahagiakan buat Rey.
"Jangan pegang terlalu erat," ucap Cinta. Ternyata tanpa Rey sadari sudah menggenggam erat tangan Cinta dari membeli tiket, masuk ruang bioskop, saat film dimulai dan berakhir, juga sampai pulang menuju basement.
"Ah demi apa, sumpah pengen banget setelah ini menciumnya." Batin Rey.
*****
Hari berikutnya di RC Company, Cinta sudah meminta izin Rey untuk datang setelah jam makan siang. Hari ini dia harus ke kampusnya untuk menyelesaikan berkas berkas dan persiapan wisuda yang tinggal satu bulan lagi.
Dret..dret..dret.. ponsel Cinta berdering.
"Hallo."
"........"
"Saya masih dijalan pak."
"......."
"Sudah pak."
"......."
"......."
"Baik pak, oke."
"........" Tut.. tut.. tut.. sambungan telepin terputus.
Di hotel X, Rey, Mario dan Andre tengah duduk direstoran hotel tersebut setelah bertemu dengan klien pentingnya. Hotel X adalah hotel yang mereka bangun bertiga diluar dari perusahaan masing-masing.
"Sial." Gerutu Rey meletakkan kasar ponselnya dimeja.
"Kenapa sih," sahut Mario.
"Ada masalah dengan Mr. Farid?" tanya Andre.
"Iya nih, kita udah janjian ketemu jam 7 sekalian makan malam, eh mendadak dia telepon minta sekarang ketemuannya. gak profesional banget, klo ngga gw yang lagi butuh, males banget kaya gini."
"Telepon Cinta, jemput lo disini?" ucap Andre.
Rey langsung meraih lonselnya dan menghubungi Cinta.
"......."
__ADS_1
"Cinta, kamu dimana?"
"......."
"Udah selesai urusannya."
"......."
"Jemput aku ya Ta dihotel X, tadi mendadak Mr.Farid dari malaysia telepon aku untuk ketemu sekarang."
"........"
"Iya, tp beliau minta sekarang, cepet ya Ta, setengah jam kita harus sampe daerah kemang."
"........"
"Oke hati-hati."
"Lo ga bakal sampe kemang kalo naek mobil Rey," ucap Andre.
"Bener Rey sekarang udah mulai jam traffic," sahut Mario.
"Trus gimana donk?" tanya Rey yang tiba-tiba melihat dari jendela ada motor sport hitam datang menuju lobby.
"Itu Cinta," tunjuk Andre dari dalam lobby, melihat Cinta membuka helmnya dan celangakcelinguk mencari keberadaan Rey.
"Dahsyat bener anaknya Ferdi, keren abis." Celetuk Mario dan merekapun berjalan ke arah Cinta.
"Widiih, keren bgt," sapa Mario sambil menepuk stang motor sport Cinta.
"Iya tadi supaya cepet jadi bawa motor," jawab Cinta.
"Kebetulan, lo naik motor aja sama Cinta Rey supaya cepet dan ga kena macet." Timpal Andre.
"Ngga.. ngga.. gw ga bisa naik motor," ucap Rey dengan panik.
"Ya lo di bonceng Cintalah, bisa kan Ta?" saran Andre.
"It's oke, come on naik pak," senyum Cinta sambil menepuk jok belakang motornya.
Kemudian Reypun naik, "yakin bisa Ta?" tanya ragu Rey, pasalnya bobot Rey lebih berat jauh dari Cinta.
"Relaks pak, jangan tegang jadi saya bawanya enak,"
jawab Cinta.
"Pegangan yang erat Rey." Teriak Mario meledek.
__ADS_1
diperjalanan Rey mencuri kesempatan dalam kesempitan, dia berpegangan sangat erat dipinggang Cinta. "Kak, jangan pegang terlalu erat," ucap Cinta.