
Rey hanya bisa merutuki dirinya sendiri.
"Apa yang udah gue lakuin, brengsek, dasar baj*ng*n, tetep aja baj*ng*n. Apa segitunya lo ga bisa nahan nafsu lo Rey? Bodoh, stupid" semua umpatan itu keluar dari mulutnya untuk dirinya sendiri.
Kemudian Rey melempar semua benda yang ada disekitarnya dan terduduk dilantai sambil memegang kepalanya.
Ingin rasanya dia berlari menyusul arah Cinta pergi, namun kakinya enggan untuk bergerak, hatinya pilu mendengar tangis histerisnya Cinta.
Didalam mobil yang berada diparkiran apartemen, Cinta masih menangis sejadi-jadinya, sungguh dia tidak menyangka atas apa yang dilakukan Rey tadi. Cinta sudah menganggap Rey seperti kakak lelakinya, dia yakin Rey akan menjaganya. Kalaupun Cinta diam ketika Rey peluk, itu karena Cinta merasa kasihan dengan beban berat yang dipikul Rey. Cinta tau betul bagaimana jadi anak tunggal yang butuh teman berbagi.
Cinta mengusap airmata dipipinya dan mencoba untuk berhenti menangis, lalu meraih ponselnya
"......."
"Waalaikumusalam, a Alif sudah selesai urusannya?"
"........."
"A, Cinta terima lamaran a Alif."
"........."
"Tapi Cinta ga mau lama-lama."
"........."
"Cinta tungga dirumah ya a, assalamualaikum."
"........"
Tut.. tut...tut.. panggilan telepon terputus.
Cinta menyalakan mesin mobilnya dan pergi.
Alif baru saja sampai rumahnya. Dia tinggal sendirian. Alif adalah anak yatim piatu, ayahnya meninggal ketika berusia 10tahun. Kemudian ia pindah ke komplek rumah Cinta, namun ibunya Alif juga meninggal ketika Alif duduk dibangku SMA. Paman dan bibi Alif tunggal di mesir, Alifpun bisa berkuliah disana atas rekomendasi mereka juga didasari kepintaran Alif sendiri.
Tak lama ponsel Alif berdering, tertera nama "my love"
"Assalamualaikum."
__ADS_1
"......."
"Sudah, mulai hari ini a alif tugas dijakarta terus."
"........"
"Benarkah? alhamdulillah."
"........"
"Sama A Alif juga ga mau lama-lama"
"......."
"Waalaikumusalam."
Sungguh betapa berbunga-bunganya hati Alif. Dia tersenyum sendiri, ingin ke kamar mandi malah ke dapur, ingin mengambil minum malah yang diambil sikat gigi. Begitulah orang yang tengah kasmaran, begitu bahagianya hingga tidak lagi fokus.
****
Malam ini Rey merasa suntuk, isi kepalanya penuh. Marah, kesal, bingung, sedih, perasaannya campur aduk. Belum lagi masalah keluarga Fernandez. Akhirnya Rey mengambil kunci mobilnya dan pergi ke Club. Hampir dua bulan, Rey tidak menginjakkan kakinya disini.
"Orange juice saja" jawab Rey. Rey tidak ingin minuman beralkohol, dia hanya butuh suara musik yang keras untuk menenangkan pikirannya.
Namun ada seseorang yang tengah mengintai Rey, sejak Rey tiba di Club itu dan memerintahkan salah satu bartender untuk menuangkan sesuatu kedalam minumannya.
Semakin lama, kepala Rey semakin berat. Kemudian ada suara wanita yang memanggil Rey dan membopongnya. Rey hafal betul suara wanita itu. Dia adalah Dara, mantan kekasih Rey ketika di LN, sahabat Aletha. Dan sempat bertemu di Bali pada acara pernikahan Gio dan Sheryl.
"Rey, kamu kenapa? sini aku bantu."
Rey menepisnya dan berkata "It's oke, aku hanya sedikit pusing."
"Tidak Rey, sini aku bantu." Dara bersikeras membantu membopong Rey dan membawanya ke kamar karena club tersebut juga menyediakan kamar dan wanita, jika diperlukan.
Rey mencoba untuk tetap tersadar. Dara menutup pintu kamar dan menghampiri Rey
"Kamu mabuk Rey?"
"Sorry, aku ga mabuk. Aku hanya minum orange juice tadi." Dara tetap mendekat dan lebih dekat.
__ADS_1
"Wait, apa yang kamu lakukan padaku hah?" suara berat Rey dengan mata yang sayu.
Dara melepaskan kancing kemeja Rey satu persatu, sungguh ini sangatlah tersiksa. Ingin sekali Rey melampiaskan hasratnya, namun otaknya mengatakan tidak. Dara mencium Rey dengan rakus, mel*matnya seperti dulu ketika mereka masih berpacaran.
"Stop dara, aku bukan Rey yang dulu." Suara Rey bertambah berat menahan gejolaknya.
"Aku yakin kamu pasti merindukanku Rey," ucap Dara.
"Tunggu, aku akan berganti pakaian." Dara masuk ke kamar mandi yang ada dikamar itu untuk menggantikan baju lingeri kesukaan Rey.
Disaat Dara masih dikamar mandi, Rey berusaha untuk kabur, dengan langkah kaki terjatuh-jatuh, Rey berusaha untuk berdiri dan tetap sadar. Dia teringat ucapan Cinta.
"Doa orang teraniaya, tidak ada penghalang untuk tidak dikabulkan." Rey terus berdoa dalam hati.
ceklek.. Rey membuka pintu kamar itu dan keluar. Dia terus berjalan cepat.
Bruuuggg.
Rey menubruk seseorang yang ternyata adalah Mario. Tuhan memberikan pertolongannya lewat Mario.
"Lo kenapa bro?"
"Tolong gue yo, tolong bawa gw keluar dari tempat ini."
Mario langsung memapah Rey keluar dan membawanya pulang ke apartemen.
Di sisi lain, Dara merutuki kebodohannya. Aletha pun memarahi Dara "sudah didepan mata kenapa lepas ra?"
"Sorry Al, gue cuma tinggalin Rey sebentar buat ganti baju, supaya dia makin nafsu liat gue."
"Tapi apa hasilnya? bukannya makin nafsu malah kabur," kesal Aletha.
"Rey sekarang benar-benar sudah berubah Al" jawab lirih Dara yang sudah tidak mungkin lagi kembali kepelukan Rey.
Di apartemen Rey, Mario mencoba meredamkan obat perangsang yang masih bereaksi ditubuh Rey. Mario mengisi air hangat di bathup, lalu merendamkan Rey disana. Menurut penelitian air hangat yang agak panas mampu meredamkan yang sedang ereksi.
"Siapa yang berani giniin lo Rey?" tanya Mario
"ini pasti ulah Aletha," jawab Rey mengepalkan tangannya.
__ADS_1