
"Sial lu Ndre, ngerjain gw." Kesal Rey ketika didepannya sudah tersedia kertas-kertas yang menumpuk, padahal ia ingin sekali cepat pulang kerumah untuk bertemu istri tercinta.
"Prepare Rey, karena lo bakal lama di Turki." senyum licik Andre, karena walau Rey ke turki dalam hal pekerjaan namun jika membawa Cinta, itu akan menjadi liburan atau honeymoon yang akan menelantarkan banyak pekerjaannya di sini.
Rey beranjak dari kursi dan mengambil jasnya
"Gue lanjutin besok."
"Eh lo mau kemana? Masih ada lagi ini." Andre menunjukkan berkas yang ia pegang.
"Besok gue janji selesaikan semua, oke bro gw balik dulu ya." Tepuk Rey pada lengan Andre ketika ingin keluar dari ruangannya.
"Ck.. dasar bucin."
"Hahahahaha.. makanya buruan nikah, lo bakal tau rasanya kalo jauh dari istri itu gimana, bawaannya mau pulang terus bro.." Ledek Rey yang kemudian pergi meningglkan Andre.
Sesampainya di dalam apartemen, Rey berdiri bersender pada dinding melihat pemandangan dihadapannya sambil tersenyum.
"Rupanya seperti ini dia kalau dirumah, menggemaskan." Batin Rey menggelengkan kepalanya.
Cinta saat ini sedang memasak dengan pakaian super s*xy. Bagaimana tidak? ia hanya menggunakan bra kemben dan celana hotpants super pendek dengan rambut digelung ke atas, menampilkan bentuk tubuh dan kulit mulusnya. Ditambah hobby nya yang selalu mendengarkan musik dengan suara keras sambil ikut bernyanyi atau berjoged jika musiknya bergenre beat, entah itu memang hobbynya atau hanya untuk menghilangkan rasa takutnya ketika sendirian.
Saking suara musiknya yang terlalu kencang, sehingga Cinta sering tidak tau kalau Rey sudah dihadapannya. Ini bukan kali pertama Rey melihat Cinta seperti ini, sebelumnya Rey memergoki istrinya yang sedang bernyanyi dan berjoged diguyuran sower. Membayangkannya saja membuat Rey ingin selalu cepat pulang kerumah.
"Hmm... kamu mulai nakal ya." Suara Rey tepat ditelinga Cinta, tangan Rey memeluk pinggang istrinya dari belakang.
Cinta menoleh. "Loh.. udah pulang?"
__ADS_1
"Kangen kamu, s*xy." Rey mengecup dan menggigit kecil leher sang istri.
"Hmm.." Cinta memejamkan matanya menikmati sentuhan Rey.
"Minggu depan aku ke Turki." Lembut suara Rey ditelinga Cinta.
Cinta membalikkan tubuhnya "kamu buka cabang lagi? Alhamdulillah" senyum merekah dari Cinta.
"Belum, masih tahap survei sayang."
"Semoga lancar, aku selalu mendoakan."
"Iya kesuksesanku adalah doamu." Rey mengecup kening Cinta, kemudian beralih pada makanan hasil karya sang istri.
"Selama kamu pergi, aku akan tinggal dirumah ayah ya," ucap Cinta.
"Aku ga mau tinggal sendirian di apartemen ini, kamu tahu aku kan penakut."
Rey menghampiri sang istri "siapa bilang aku pergi sendiri, kamu ikutlah. Pokoknya kemanapun aku pergi, kamu harus ikut karena aku ga bisa hidup tanpa kamu."
"Haiishhh gombal.." Ledek Cinta menoel pelan pipi Rey hingga bergerak ke samping.
Rey ikut tertawa semakin mengeratkan pelukannya "kamu makin s*xy dan beruntungnya aku karena hanya aku yang bisa melihat ini, merasakan ini." Rey mengelus bahu Cinta dan mengecupnya. Kemudian dengan sigap Rey langsung menggendong Cinta ala bridal menuju kamarnya.
"Makan dulu kak." Ucap Cinta di saat Rey menggendongnya.
"Makan kamu dulu kayanya enak." Seringai licik Rey.
__ADS_1
Terjadilah pertempuran yang membuat keduanya berkeluh keringat. Saling memberi dan menerima kenikmatan, sungguh nikmat manalagi yang kau dustakan?
Setelah dua jam bergelut, akhirnya pelepasan itu keluar dari keduanya. Rey mengelus perut rata Cinta dan berkata "kamu siap jadi mommy sayang?"
Cinta hanya menggeleng ragu, kemudian Rey membentangkan kedua tangannya untuk memeluk sang istri.
"Aku ga akan maksa kalau kamu belum siap, jika dalam satu minggu kedepan kamu masih menemukan masa periodemu, kamu bisa pasang spiral sampai waktu yang membuatmu siap." Ucap Rey karena Cinta paling tidak bisa menelan obat dalam bentuk pil.
"Benarkah? Tidak apa? Bagaimana dengan mommy, papi, pasti mereka ingin sekali punya cucu." Jawab lirih Cinta.
"Mereka pasti menginginkannya, tapi rumah tangga ini kita yang menjalani dan ketika hamil walaupun aku selalu siaga, namun tetap kamu yang merasakannya, jika memang berat karena sekarang kamu sedang fokus tesis, aku tak apa, sungguh aku ikhlas menunggu." Kata-kata yang keluar dari mulut Rey sangat tulus dan menenangkan yang mendengarnya.
"Terima kasih hubby, anna uhibbuka fillah." Cinta menenggakkan kepalanya untuk menatap sang suami sambil menunjukkan jempol dan telunjuknya membentuk 'love'.
"I love you more?" jawab Rey, kedua mata mereka beradu mengisyaratkan banyak cinta. Kemudian Rey kembali mencium kening istrinya.
Mereka beranjak ke kamar mandi dan bersiap untuk sholat maghrib berjamaah, lalu kedapur untuk makan malam.
"sebelum kita berangkat ke Turki, aku ingin menemui ayah ya kak."
"Iya, nanti aku antar."
Kini Rey yang memegang penuh perusahaannya dibantu Andre. Dan Rasya yang akhirnya juga mau bergabung. Ryan dan Ferdi sudah tidak terlalu aktif lagi, hanya sesekali datang dalam rapat untuk sekedar ingin tahu perkembangan atau sebagai tim penasehat saja.
Kegiatan makan malam bersama dirumah Ryan, Ferdi ataupun Roy juga sering dilakukan untuk lebih terikatnya ikatan keluarga diantara kakak beradik, sahabat, juga besan.
Cinta selalu bersyukur karena ternyata ada hal lebih indah dibalik keputusannya pada waktu itu, ketika mengakhiri hubungannya dengan Alif. Padahal jika diingat saat itu, ia sangat khawatir tidak akan mendapatkan laki-laki sebaik Alif lagi.
__ADS_1