Sang Pemilik Cinta

Sang Pemilik Cinta
Mario dan Inka 3


__ADS_3

Inka sudah sampai dirumahnya, ia melangkahkan kaki melewati ayah dan ibunya yang tengah duduk di meja makan. Inka sudah terbiasa menginap dirumah salah satu temannya, hal ini membuat kedua orangtuanya bersikap biasa ketika ia pulang.


"Kamu sudah pulang nak, ayo kita sarapan bersama," ucap mama Inka.


"Tidak ma, Inka langsung berangkat lagi ke butik." Untunglah saat ini ada butik terkenal yang menampung Inka untuk bekerja, selain mencari pengalaman juga mencari ilmu dari designer ternama yang menjadi pemilik butik tersebut.


Satu hari.. dua hari terlewatkan.


Siang itu, Mario mengunjungi butik tempat Inka bekerja. Ia menyapa seorang wanita yang berada di meja resepsionis. Lalu wanita itu segera mencari keberadaan Inka.


"In, ada cowo nyariin lo."


"Siapa?"


"Ga tau, ganteng banget In." Senyum riang wanita resepsionis itu.


Inka yang sedang asyik duduk dengan pena dan kertasnya, kemudian bangkit mengikuti langkah kaki wanita itu.


"Kak Rio?" Sapa Inka ketika melihat yang mencarinya adalah sosok lelaki yang beberapa hari lalu menampungnya ketika terpuruk.


"Hai, apa kabar?" tangan Mario mengangkat untuk bersalam pada Inka.


"Baik" jawab Inka.


"Sudah waktunya makan siang, bisa kita keluar?"


"Kamu ngajak aku makan siang bareng?" tanya bingung Inka dan di angguki cepat oleh Mario.


Kemudian Inka meminta izin rekannya untuk keluar sebentar. Mario mengajak Inka ke restoran yang paling dekat dengan tempat bekerja Inka tadi, sehingga dapat dijangkau hanya dengan jalan kaki.


"Mamaku nanyain kamu," ucap Mario disela-sela iringin langkah kaki mereka.


"Oh iya, apa kabar mama?" jawab santai Inka, walaupun Inka tau Laras bersikeras mengira dirinya adalah pacar Mario.

__ADS_1


"Mama baik, dia nanyain kapan kamu kerumah aku" tanya Mario serius sambil jalan memasuki resto.


"Sekarang udah mulai aku kamu nih?" ledek Inka, kemudian mereka duduk dibangku yang dipilihkan petugas resto itu.


"Hmm..." jawab singkat Mario untuk menghilangkan rasa gugupnya


Mereka memesan makanan dan minum, beberapa menit kemudian pesanan minuman datang. Inka yang memang kehausan, langsung meminumnya.


"Mama minta kita nikah," ucap Mario membuat Inka tersedak.


"Apa? Maksudnya?" tanya Inka bertubi-tubi.


"Waktu itu mama memergoki kamu sedang mandi dikamar apartemenku, dia mengira kita habis melakukan sesuatu dan aku diminta segera tanggungjawab ke kamu." Jelas Mario.


"Melakukan apa?"


"Ya melakukan itu," jawaban Mario menggantung.


"Melakukan itu Inka, ck.. hubungan suami istri."


"Apa? Jadi mama kamu berfikir tentang kita hingga sejauh itu." "Oh ya ampun." Inka menepuk jidatnya dan bersandar pada kursi.


"Oke kalau begitu ayo kita kerumah kak Rio," ucap Inka lagi.


"Jadi kamu setuju?" tanya Mario tidak menyangka dengan semudah itu Inka mau diajak menikah


"Setuju apa?"


"Ya tadi, kamu bilang mau kerumah aku, berarti kamu setuju aku nikahi?"


"Ayo kita kerumah kamu, itu untuk bertemu mama dan menjelaskan kejadian sebenarnya. Aku yakin mama akan mengerti." Ucap Inka sambil memakan makanannya.


"Masalahnya tidak semudah itu Inka, kamu tau sendiri kalau saat itu aku sudah menjelaskan panjang lebar ke mama tapi tetap mama tidak percaya. Apalagi saat ini dia sangat menyukaimu, setiap hari mama bertanya tentangmu."

__ADS_1


"Baiklah, lalu bagaimana solusinya?" tanya Inka pasrah.


"Kita menikah."


"Apa? ngga, kita baru kenal kak dan lagipula kita tidak saling cinta." kata-kata terakhir diucapkan Inka dengan suara pelan sambil menunduk.


"Entahlah ini memang takdir tuhan atau doaku yang dikabulkan karena tidak ingin dijodohkan dengan anak rekan bisnis papa. Ayolah Inka, aku akan memberikan apapun yang kamu mau," bujuk Mario.


Bagi Mario ini adalah solusi terbaik untuk menghindari amarah papanya, menghindari perjodohan itu. Karena jika Mario mempunyai pilihan sendiri yang baik, papanya akan mengalah. Apalagi Inka mendapat dukungan penuh dari Laras.


Inka berfikir, tidak dipungkiri memang saat ini ia membutuhkan materi sebagai penunjang impiannya dan Mario adalah orang yang dapat memberikan materi berapapun yang ia sebutkan.


"Oke, tapi harus ada perjanjian pra nikah."


"Oke," jawab Mario.


Kemudian mereka menghabiskan makanan yang terhidang didepannya.


Malamnya, Inka dijemput Mario menuju kediaman orangtua Mario. Inka disambut hangat oleh Laras, papa Mario yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Inka, mulai mengembang senyuman.


Pasalnya Inka dari awal datang menunjukkan kesopanannya, dari mulai mencium punggung tangan keduaorangtua Mario ketika baru bertemu, membantu Laras menghidangkan makanan ketika mereka hendak makan malam, sampai membantu merapihkan meja makan setelahnya, walaupun hanya membawa piring kotor sampai wastafel saja, kemudian dilanjutkan oleh pembantu rumah tangga Mario. Namun hal sederhana itu sudah membuat kesan baik.


"Kapan papa kerumahmu nak?" tanya papa Mario.


"Terserah kapan pun papa bisa," jawab lembut Inka.


"Kalau begitu malam minggu besok," ucap Laras.


"Ayolah ma, cepat sekali, sekalian aja besok malam." rengek Mario


"Loh memang harus cepat, jangan sampai keburu Inka hamil," ucap Laras lagi.


Inka mendengar itu langsung tersedak ingin tertawa 'mana ada hamil, di pegang juga ngga.' Batinnya

__ADS_1


__ADS_2