
Vena terbangun menujukkan pulul 05.25. Ia melihat Cinta yang tertidur disamping Rey yang masih berbaring, menggunakan tangannya yang diletakkan ditempat tidur Rey untuk menyangga kepalanya.
Setelah selesai sholat subuh dan berzikir sebentar, Vena pergi keluar untuk mencari sedikit camilan dan coklat hangat di supermarket rumah sakit yang buka 24jam.
Rey membuka matanya perlahan, dilihat wajah cantik disampingnya yang sedang tertidur pulas. Wanita yang ia cintai entah sejak kapan. Rey mengulas senyuman merekah, ketika mengingat doa yang dipanjatkan Cinta semalam, walaupun itu terdengar sayup-sayup diantara alam bawah sadarnya.
Rey mencoba memiringkan tubuhnya agar lebih dekat dengan wajah Cinta, perlahan tangannya bergerak mencoba membelai pipi halus Cinta. Namun sebelum itu terjadi Cinta tersadar karena gerakan tubuh Rey menggoyangkan tempat tidur itu.
"Kak, sudah bangun? Ahamdulillah." Senyum sumringah Cinta membuat yang ada dihadapannya pun ikut tersenyum dan mengangguk.
Rey mencoba sedikit bangkit dan menyandarkan punggungnya pada dinding ranjang rumah sakit.
"Haus," ucap Rey.
Cinta membantu Rey yang ingin duduk dan mengambilkan air minum untuknya.
"Minumlah kak, pelan-pelan."
"Pasti disini sakit, maafin Cinta ya, dan terima kasih banyak." Ucap Cinta lagi seraya menitikan airmatanya.
"Hey kenapa menangis?" Senyum Rey mengusap airmata Cinta.
"Kenapa kak Rey lakukan itu? Kamu ga harus mengorbankan dirimu untukku kak."
"Ayahmu juga pernah melakukan ini untuk ayahku, anggap kita impas." Senyum Rey mengembang lagi.
Walau kala itu Rey mengatakan dirinya mencintai Cinta, namun Cinta meminta untuk menganggapnya sebagai seorang adik dan kakak. Setelah itu Rey tidak pernah mengatakannya lagi. Ia akan memenuhi semua keinginan wanita yang sangat dicintainya, walaupun sulit.
"Oh sayang, kamu sudah bangun." Vena membuka pintu dan mendapati putranya tengah duduk di ranjang. Vena meletakkan belanjaannya dimeja dan langsung menghampiri putra kesayangannya.
"Mom sudah, jangan buat Rey malu." Lirih suara Rey memperingatkan mommy nya, pasalnya Vena memeluk dan menciumi seluruh wajah anaknya itu seperti anak kecil.
__ADS_1
"Maaf sayang, mommy hanya senang kamu sudah bangun" senyum Vena beralihan menuju wajah Rey dan Cinta
"Iya mommy sangat menghawatirkanmu kak."
"Memang kamu tidak?" tanya Rey.
"Tentu saja, aku juga sangat khawatir."
"Kalau begitu, lakukan seperti yang mommy lakukan terhadapku tadi," ledek Rey pada Cinta dengan wajah serius.
"Dasar nakal," suara genit Vena memukul lengan putranya.
"Aawwww.. sssh.. sakit mom." Rintih Rey karena walaupun pukulan Vena pelan tapi posisinya persis disisi dimana Rey terkena luka tembak.
"Ups.. Maaf sayang." Vena mengelus-ngelus pundak Rey. mereka bertiga pun tertawa renyah.
Pelayan Rey datang membawakan makanan dan pakaian Vena ke rumah sakit.
"Iya mom, mommy makanlah lebih dulu, biar Cinta suapi kak Rey dulu."
"Jangan sayang, dia bisa makan sendiri, lengan sebelahnya kan masih bisa digunakan."
"Ish.. mommy tega sekali," cibir Rey pada Vena.
"Kamu yang manja sekali?" jawab Vena.
Cinta tersenyum melihat perdebatan ibu dan anak itu, dan berkata "tak apa mom."
"Itu mah maunya, Ta." Senyum ledek Vena pada putranya yang langsung dibalas senyum menyeringai dari Rey "mommy sirik aja."
Di siang menjelang sore, Ferdi datang bersama Andre untuk melihat keadaan Rey. Selang beberapa menit kemudian Alifpun datang.
__ADS_1
"Alhamdulillah, terima kasih Rey. kau telah menyelamatkan Cinta," ucap Alif yang diangguki Rey cepat.
Setelah berbincang sejenak tentang perkembangan kesehatan Rey, sampai dokter datang untuk memeriksa Rey dan menyatakan kalau ia sudah bisa kembali kerumah esok hari.
Kemudian Cinta pamit kepada Vena untuk pulang bersama Ayahnya dan Alif. Dua minggu lagi mereka akan melangsungkan pernikahan.
"Cepat sembuh ya kak, jangan lupa nanti hadir dipernikahan aku dan Alif ya," ucap Cinta tersenyum sebelum meninggalkan ruangan itu. Rey hanya mengangguk pelan. Orang-orang yang berada diruangan itu hanya bisa terdiam.
****
Sudah tiga hari Rey istirahat di mansion Ryan, Vena tak mengizinkan Rey tinggal di apartemennya sepulang dari rumah sakit.
Rey termenung dibalkon kamarnya, terdengar pintu kamarnya dibuka seseorang dan berjalan menghampirinya.
"Rey" suara lembut Vena menepuk pundak putranya yang jauh lebih tinggi darinya.
"Mommy tau perasaanmu." Terlihat simpati dari raut sang ibu
"Mom, Rey tidak ingin disini."
"Maksudmu?"
"Rey ingin mengelola cabang papi di Singapura, sambil perawatan pemulihan disana."
"Kamu ingin menghindari pernikahan Cinta?"
"Menghindari semua hal mengenai dia untuk saat ini mom"
"Tapi kamu akan balik lagi kesini kan sayang?"
"Pasti mom, tapi beri waktu Rey sendiri, merecovery hati."
__ADS_1
"Baiklah, apapun maumu lakukanlah," jawab lirih Vena sambil memeluk putranya, menutup percakapan antara ibu dan anak.