
Tiga bulan kemudian ....
Rey tengah tidur dengan posisi tengkurap, lengan kanannya meraba kesana kemari untuk mencari ponselnya yang berbunyi. Dilihat ponselnya yang masih menyala 'ah video call' gumam Rey
klik.. Rey menekan tombol hijau pada layar ponselnya
"hai," sapa Rey dengan suara serak khas bangun tidur dan mendongahkan kepalanya ke arah layar ponsel itu.
"Jiah udah tidur lo, baru jam berapa ini? masih sore kali," suara Mario.
"Ngapain lo, pake video call segala." Suara Rey.
"Gue kangen Rey, lagian lo ngapain sih betah amat di Singapura?"
"Nah lo sendiri juga betah banget di Jepang"
"Hai, apa kabar bro?" Suara Andre yang baru bergabung di video call ini menyela pembicaraan Rey dan Mario.
"Nah akhirnya nongol juga si Andre." Kata Mario.
"Rey kapan lo balik, gue kewalahan nih disini." Ucap Andre kesal yang hanya dibalas dengan wajah nyengir Rey yang terlihat dilayar ponselnya.
Pasalnya di Jakarta adalah perusahaan pusat yang lebih banyak pekerjaan dibanding di Singapura yang hanya perusahaan Cabang.
"Ga asik lo Rey, gue aja udah di Jakarta nih." Kata Mario.
"Serius lo udah di Jakarta? Udah putus lo sama Reiko?" Suara Rey tersenyum geli melihat tingkah Mario yang mudah berganti pacar.
"Hahahaha udah ngga gurih," jawab Mario yang diringi tawa ketiganya.
Malam ini Mario sangat kesepian, ia kira dengan video call bersama kedua sahabatnya tadi akan mengurangi rasa sepinya, ternyata masih sama.
Mario yang ceria ternyata sedang butuh seseorang. Rey jauh, Andre juga sibuk dan sering mengeluh tidak enak badan karena kurang istirahat, sehingga membuat Mario enggan untuk sekedar minta di temani minum kopi.
Mario mengambil kunci mobilnya dan berkeliling ibukota. Tidak ada tujuan, hanya ingin berkeliling menikmati indahnya Jakarta dikala malam.
Tiba-tiba hujan mengguyur kota tersebut, Mario mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang sangat lambat dengan posisi di jalur kiri.
__ADS_1
Mario melihat seorang wanita kehujanan duduk di bangku trotoar yang tersedia dijalan. 'itu seperti temannya Cinta' gumam Mario
Mario memberhentikan mobilnya persis didepan wanita itu dan keluar dari mobil menggunakan payung.
"Hai, kamu ngapain disini?" ucap Mario mengagetkan si wanita yang sedang melamun
"Oh, kak.." jawab wanita itu terputus untuk mengingat wajah Mario
"Gue Mario, temannya Rey. Lo Inka kan temannya Cinta?"
Inka mengangguk dan berkata, "oh iya, kak Mario."
Mario memayungkan tubuh Inka yang memang sudah basah sambil berkata, "ngapin lo disini malem-malem, kehujanan lagi."
"Ngga apa-apa, lagi pengen sendirian, terus hujan."
"Ga ada inisiatif buat neduh gitu, hah.. ya udah lo ikut gue." Tangan Inka ditarik untuk bangun dan mengikuti langkah Mario.
Mereka kini berada di mobil Mario.
"Ini pake, nanti lo masuk angin." Tangan Mario menyerahkan jaketnya untuk Inka.
Mario menyalakan mesin mobilnya dan melaju pelan. Suasana hening, keduanya tidak mengeluarkan suara sampai akhirnya Inka tertidur dengan menempelkan kepalanya pada kaca jendela mobil.
'Lah dia malah tidur, gw anter dia kemana nih,' gumam Mario
Akhirnya Mario membawa Inka ke apartemennya, karena ia tidak tahu alamat rumah Inka.
"In bangun," suara lembut Mario.
"Ini dimana?" tanya Inka.
"Di basement."
"Loh, kok?"
"Ya lo tidur pules banget, jadi gue ga tega banguninnya dan gw juga ga tau alamat lo dimana, jadi gue bawa lo kesini aja," ucap Mario jelas pada Inka, lalu Mario membuka pintu mobilnya untuk keluar.
__ADS_1
Sebelum keluar Mario menoleh lagi ke arah Inka dan berkata, "tenang, gue bukan orang jahat kok."
Inka mengikuti langkah Mario.
Biip.. klik.. pintu apartemen terbuka.
"Baju lo basah kuyup In. Sekarang lo mandi dulu." Mario menunjukkan kamar mandi didalam kamarnya.
"Disini?" Tanya Inka bingung.
"Iya kenapa?" Mario malah balik bertanya.
"Ini kan kamar kamu."
"Kamar mandi luar, krannya lagi bermasalah dan gue belum panggil orang buat memperbaiki, jd kamar mandi ini yang bisa digunakan."
Inka hanya mengangguk dan berkata "oh", feeling Inka mengatakan Mario orang baik, mereka juga sudah beberapa kali bertemu dan berbincang, itu lumayan cukup mengenal karakter Mario.
"Tunggu, gue ambil baju ganti dulu buat lo." Mario berkata lagi.
Mario menyerahkan setelan piyama lengan pendek dan celana panjang.
"Kamu punya baju perempuan disini?" Tanya Inka bingung karena setahu Inka, Mario belum menikah.
"Iya itu baju tidur mama gw, dia kadang suka nginep disini" jawab Mario.
Inka sedang asyik manikmati ritual bersih-bersihnya dikamar mandi yang luas dengan bathup yang besar dan buliran-buliran busa yang ia mainkan. Pasalnya tidak ada hal semacam ini dirumahnya.
Mario menunggu Inka dengan duduk diluar sambil menonton televisi. Tiba-tiba pintu apartemen Mario berbunyi dan terbuka.
Ceklek..
"Mario." Tangan wanita itu langsung memeluk Mario yang sedang duduk di sofa.
"Mama ngapain malam-malam kesini?" tanya Mario kepada Laras.
"Mama khawatir sama kamu karena pertengkaran tadi" jawab Laras. Jadi sebelum video call dengan Rey dan Andre, Mario berada dirumah orangtuanya dan ia bertengkar dengan sang ayah karena menolak permintaan ayahnya yang akan menjodohkannya dengan anak rekan bisnisnya.
__ADS_1
"Santai ma.." Ucap Mario di hentikan dengan jari Laras yang menempel dibibir putranya.
"Sssttt... ada suara di kamar kamu." Laras berdiri dan melangkahkan kakinya kedalam kamar Mario.