
Satu bulan kemudian...
"Apa?" suara dingin dan wajah cuek Rey terlihat dipercakapan video call antara Rey, Mario dan Andre.
"Sombong amat lo." Ucap Mario.
Kemudian wajah Rey beralih ke ponselnya dan berkata, "lagian lo, jam segini video call, ganggu tau, gue udah mau pulang."
"Gabut banget lo Rey, jam segini udah pulang," ucap Andre.
"Tau, gue aja baru mau makan siang. Singapura sama Indonesia cuma beda sejam Rey, di sana masih jam 2, lo udah balik, parah." Ucap Mario kesal.
"Di masjid Sultan ada kajian lepas Ashar dan gue mau hadir. Jadi gue balik dulu buat bersih-bersih," jawab Rey.
"Wadidaw temen gue udah dapet hidayah, terimakasih ya Allah." Ucap Mario penuh ledekan. Andre hanya tertawa saja.
"Pokoknya ya Rey, lusa lo harus balik ke Indonesia." Suara Mario serius.
"Ngapain?" tanya Rey.
"Mario mau nikah Rey," jawab Andre.
"Apa?" terlihat jelas wajah terkejut Rey.
__ADS_1
"Wah ga beres nih, masa gue yg lebih ganteng dari lo, malah keduluan gini sih. Lagian siapa cewe yang mau jadi istri lo yo? hahahaha.." Tawa Rey meledek.
Namun, dari lubuk hatinya sangat senang mendengar kabar ini. Setidaknya semoga ini awalan menuju perubahan Mario menjadi lebih baik.
"Udah fix lo balik lusa Rey." Kata Andre.
"Oke lusa gw balik, daripada di pecat jadi sahabat." Tawa mereka bertiga mengakhiri percakapan video call itu.
****
Rey membuka kacamata hitamnya, setelah berdiri dipintu kedatangan bandara Soekarno Hatta.
Didepannya sudah berdiri supir Ryan, "Assalamualaikum man, apa kabar?" Sapa Rey.
Diperjalanan menuju kediaman Ryan, Rey menggunakan jalur bebas hambatan. Jalur yang seharusnya masih lancar, menjadi sangat macet.
"Tumben jam segini udah macet man?" tanya Rey dari bangku penumpang belakang.
"Biasanya kalau begini ada yang kecelakaan tuan," jawab Maman.
Rey langsung meraih ponselnya untuk mengecek di gps titik mana yang menjadi sumber kemacetan, ternyata hanya 5kilometer dari jalan ia saat ini.
Semakin dekat dengan titik yang mengakibatkan kemacetan, Rey menoleh ke arah kejadian. Biasanya ia tidak pernah penasaran jika ada kejadian dijalanan, namun arah matanya melihat sosok gadis yang ia rindukan, sangat dirindukan, tapi tak bisa dijangkau lagi.
__ADS_1
"Terus bapak mau nya bagaimana? Saya tidak sengaja pak." Kata gadis itu.
"Ya, kamu harus bayar kerugian saya, mobil saya itu mobil mahal, ini pasti membutuhkan biaya yang banyak." Kesal bapak tua dengan perut buncit dan rambut yang sudah mulai habis dimakan usia.
"Man minggir." Suara dingin Rey, kemudian Rey menghampiri gadis itu.
"Saya bayar, berapa kerugiannya?" Suara Rey spontan membuat gadis berkerudung biru dongker itu menoleh, dengan terkejut ia berkata "kak Rey."
Rey tidak menyahuti sapaan Cinta, ia masih fokus dengan pria botak dan buncit itu. Rey kesal karena kelakuan pria tua itu mengulur-ngulur waktu agar Cinta mengikuti maksudnya.
Rey menyuruh Maman untuk mengambil tasnya. Setelah itu, Rey meraih kertas yang berada didalamnya, dituliskan angka lima puluh juta rupiah lengkap dengan tandatangannya.
"Ini, lunas." Rey menyerahkan kertas itu pada pria botak tadi.
Pria itu langsung menciut dan berkata "okeh." Kemudian ia mengambil cek tersebut, lalu pergi.
'Padahal sedikit lagi gue dapat mangsa baru,' hah.. gagal.' Batin pria botak dan buncit itu.
Tabrakan beruntun itu diawali orang lain, kemudian supir dari pria botak itu menginjak rem mendadak membuat mobil Cinta yang berada persis dibelakangnya tidak siap dan terjadilah penabrakan. Mobil Cinta menyundul bamper belakang sedan mahal pria itu.
Taksiran kerugian itupun, seharusnya tidak sampai sebesar itu. Namun pria botak itu menyeringai licik setelah melihat Cinta turun dari mobilnya. Cinta terlihat cantik dan sangat anggun, membuat si empunya 'Mercy' berharap Cinta berhutang dan mau melakukan apa yang ia mau.
Kini keinginan bapak tua itu tersalurkan lewat Rey.
__ADS_1