Sang Pemilik Cinta

Sang Pemilik Cinta
perempuan berprinsip


__ADS_3

Satu bulan sudah Cinta bekerja di RC Company, kesehatan Ferdi juga berangsur membaik. Wisuda tinggal beberapa minggu lagi, Cinta sudah memplaning dirinya setelah ini akan mengikuti test S2, sungguh dia ingin sekali menjadi psikolog forensik, karena dia menyukai tantangan.


"Permisi pak." Ucap Cinta setelah membuka pintu ruangan Rey, Entahlah akhir-akhir ini Cinta selalu lupa mengetuk pintu sebelum masuk ke ruangan Rey dan Reypun tidak pernah mempermasalahkannya.


"iya Cinta," jawab Rey.


"Bapak mau dipesankan makanan?"


"Kamu ga bawa makan siang?"


"Ngga pak, kebetulan aunty Ayu sedang tidak masak."


"Kita makan siang diluar saja." Rey langsung berdiri dan mengambil jasnya.


"Oke."


Di lift Rey berkata, "kamu ga bawa tas?"


"Males pak, ribet, dompet dan ponselku cukup disakuku hehehehee.." Jawab Cinta sembari nyengir kuda.


"Unik." Batin Rey.

__ADS_1


Kini mereka berada didalam mobil Rey, Rey tidak menggunakan supir karena hanya ingin berdua dengan Cinta.


"Kamu mau makan apa?" tanya Rey memecahkan keheningan.


"Apa saja saya suka." Cinta tersenyum. "Saya tuh omnivora, pemakan segala hahahahaha," celetuk Cinta lagi.


"Hmm pantes agak hmm.." Jawab Rey menggelembungkan mulutnya.


"Iihh emang iya aku gendut, ngga sih." Jawab Cinta manja yang kesal campur malu.


"Iya ngga, bercanda kok." Ucap Rey sambil menolehkan ke arah Cinta dengan senyuman tampannya.


Setelah berputar-putar mencari makanan yang sedang diinginkan Rey, akhirnya mereka parkir di restoran tradisional dengan nuansa alami dan saung-saung seperti berada di pedesaan.


Rey tidak pernah ketempat seperti ini, ini rekomendasi Cinta karena sedari tadi Rey hanya berputar-putar.


Mereka bercengkrama sambil menikmati hidangan dan pemandangan.


"Cinta, boleh aku tanya."


"Iya."

__ADS_1


"Kenapa kamu berpenampilan seperti ini?"


"Ini?" tunjuk Cinta pada jilbab yang ia kenakan.


"Hmm.. mungkin kamu lebih cantik dengan tidak menggunakan ini," jawab Rey.


"Hmm.. cantik itu relatif kak, buat siapa yang memilihnya. ini itu identitas bahwa saya perempuan muslim. ini itu kenyamanan, entahlah semenjak saya memakai hijab terasa lebih tenang dan ketika ada yang menggoda, cara menggodanya lebih santun. saya merasa lebih terjaga." Jawab Cinta panjang lebar disertai senyuman diakhir katanya.


"Kenapa begitu fanatik dengan agama?" tanya Rey lagi.


"Bukan fanatik kak, cuma aku ngerasa kalau hidup itu butuh agama. hidup itu seperti mengendarai kendaraan, kemana arahnya itu tergantung kita sendiri, dan agama seperti lalu lintas jalan, ketika lampu merah kita harus berhenti, lampu kuning itu tanda berhati-hati, ketika lampu hijau itu boleh jalan lagi. seperti itulah aku memandang hidup, agama sebagai pengingat, lampu merah menandakan ada hal-hal yang memang tidak boleh dilakukan karena nantinya akan perdampak negatif untuk diri kita, lampu kuning menandakan jangan coba coba mendekati yang dilarang karena akan sulit terlepaskan, lampu hijau itu berarti ini yang boleh dilakukan. seperti itu, hehehehe panjang ya kak." Cinta menjawab dengan senyum, yang didengarkan seksama oleh Rey tanpa berkedip sedikitpun memandang kagum ke arah Cinta.


"Hmm... semakin menarik, perempuan berprinsip." Batin Rey.


"Apa?" tanya Cinta yang tidak mengerti dengan tatapan Rey yang tidak beralih sedikitpun.


"Ngga apa-apa, kagum aja, ternyata di zaman seperti ini masih ada perempuan berprinsip seperti kamu" jawab Rey.


"Masih banyak kak, cuma karena kakak terbiasa dengan lingkungan kakak jadi seolah asing dengan hal lain yang ada diluar sana." Senyum Cinta


Merekapun saling tersenyum satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2