
Pagi ini Alisha dan Andre berniat menjenguk Roy di rumah sakit. Sesampainya kaki mereka di depan pintu ruang VVIP itu, sudah terlihat wanita paruh baya sedang menyuapi Roy dengan telaten.
"Assalamualaikum," sapa Andre pada Diana dan Roy.
"Waalaikumusalam," jawab Diana menoleh.
"Papa" Alisha langsung menghamburkan pelukan kepada Roy dan berkata lagi "bagaimana keadaan papa sekarang?"
"Oh anakku, alhamdulillah keadaan papa jauh lebih baik." Ucap Roy seraya menampilkan senyum ceria, tidak seperti biasanya yang hanya diam dingin dan hanya bersuara jika penting saja.
Kehadiran Diana sangat memberi perubahan baik dalam diri Roy dari segi Kesehatan fisik dan psikis.
"Al, ini mama Diana" suara Roy lirih memperkenalkan Alisha pada Diana, khawatir Alisha tidak mau menerima Diana. Alisha mengangguk "iya tante."
Diana mengulurkan tangannya dan Alisha pun meraih tangan Diana juga mengecup punggung tangannya, setelah itu Diana langsung memeluk Alisha dan berkata "jangan panggil tante Al, kalau tidak keberatan panggil mama saja." Senyum Diana dan langsung diangguki Alisha.
Alisha gadis yang polos dan tidak macam-macam, ia tidak pernah menjudge orangtuanya yang berantakan karena ia menilai apa yang dilakukan seseorang itu pasti ada alasannya.
Kemudian bergantian Andre yang diperkenalkan Roy kepada Diana. Roy bersyukur karena disaat seperti ini, Alisha memiliki Andre yang baik dan perhatian.
"Terima kasih Ndre, karena sudah menjaga Alisha." Ucap Roy disela-sela obrolan mereka
"Dengan senang hati saya akan melakukannya om."
"Papa." Kata Roy lalu langsung diralat oleh Andre "maaf, papa."
"Oh iya ada kabar baik" sahut Diana "alhamdulillah saya sudah melakukan pemeriksaan lengkap dan ini hasilnya ginjalku cocok untuk Roy." Senyum Diana memberikan kertas lab pada Alisha.
Setelah Alisha membaca kertas itu, lalu diberikan ke Andre untuk melihatnya.
"Mama akan memberikan satu ginjal mama pada papa?" tanya Alisha.
__ADS_1
"Iya" jawab Diana dengan penuh keyakinan.
"Mama yakin? tidak akan menggangu kesehatan mama setelah ini?" tanya Andre.
"Tidak sayang, ini sudah keputusan mama. Awalnya papa kamu juga menolak tapi ini mau mama. Mama ingin menjalani sisa hidup mama bersama papa, kita akan menua bersama sampai akhir hayat." Senyum Diana menoleh ke arah Roy, dan Roy sudah menitikan air mata seraya kedua tangannya direntangkan meminta Diana memeluknya.
Alisha dan Andre merasa terharu dan bahagia, akhirnya papanya merasakan kebahagiaan sebenarnya.
****
Rey menunggu di hotel XJ, hotel yang baru di akuisisi oleh Rey, Andre dan Mario untuk melebarkan bisnis penginapannya.
Rey meraih ponselnya untuk mengubungi Mario
"Hallo, udah sampe mana bro?"
"......."
"Gue udh di TKP."
"Oke" Tut..Tut..Tut.. Nada panggilan terputus.
Andre menghampiri Rey yang tengah duduk sendirian di resto hotel itu.
"Sorry bro, gue tadi anter Alisha dulu ke asrama," sapa Andre.
"Santai aja," jawab Rey.
"Gimana kabar om Roy?" tanya Rey lagi.
"Ada kabar baik Rey, om Roy udah dapet donor ginjal yang cocok," jawab Andre.
__ADS_1
"Oh ya, alhamdulillah. Siapa?"
"Tante Diana." Jawaban Andre membuat Rey terkejut.
"Ternyata mereka memang saling mencintai," ucap Rey.
"Yap, sangat terlihat dari mata keduanya. Gw sama Alisha jadi terharu ngeliatnya." Lirih suara Andre.
"Baguslah kalau begitu, gue seneng dengernya."
"Ya."
Tak lama kemudian, Mario datang menghampiri dua lelaki tampan yang sudah duduk di sana.
"Woi, long time no see.." Suara Mario membuyarkan obrolan Rey dan Andre.
"Akhirnya yang di tunggu-tunggu datang juga," ucap Andre menepuk bahu Mario yang sudah duduk disebelahnya.
"Betah lo di jepang?" kata Rey.
"Betah lah, ada yang bikin gue betah," senyum licik Mario.
"Iya lah tiap hari di service michiko," ledek Andre.
"Asal aja lo ganti nama orang, namanya Reiko," sanggah Mario.
"Mario, Mario, nama cewe lo ga jauh dari penyedap rasa, sebelumnya Sasa, sekarang Royco, terus jangan-jangan nanti Ajinomoto." Tawa Andre spontan membuat Rey pun tertawa.
"Enak bro, gurih hahahaha..." Seringai senyum menggoda Mario.
"Gila," ucap Rey tersenyum menggeleng melihat kelakuan sahabatnya itu.
__ADS_1
Kemudian mereka bertiga bertemu rekan bisnisnya dan menandatangani kepemilikan hotel tersebut didepan notaris.
Persahabatan mereka semakin dipererat dengan adanya bisnis yang mereka bangun sendiri diluar bisnis keluarga yang di jalani masing-masing.