
Malam ini, sepulang dari kantor Rey tidak langsung ke apartemennya. Rey memarkirkan mobilnya di mansion milik Ryan.
"Hai mi" salam Rey kepada Vena yang sedang menata makanan di meja makan.
Cup
Cium Rey kepada Vena dipipi kiri dan kanannya.
"Hai pi" salam Rey kepada Ryan.
"Ayo langsung makan Rey, sengaja mama buatkan makanan kesukaanmu," ucap Vena.
"Iya, kita makan dulu Rey, setelah ini langsung ngobrol diruang kerja," ucap Ryan.
Sebelumnya Rey sudah menelepon Ryan perihal isi laporan dari Andre dan Mario, namun belum secara detail. Kini maksud Rey bertemu ayahnya adalah untuk membongkar kelakukan busuk Shinta dan mempertanggungjawabkannya.
"Dasar bit*h," geram Ryan setelah melihat bukti demi bukti yang ditunjukkan Rey.
"Jadi selama ini keluarga kita dibohongi Rey?" tanya Ryan.
"Iya pi, ternyata selama ini kita salah target. Biang masalah bukan pada tante Diana dan putranya, melainkan tante Shinta dan putrinya," jawab Rey.
__ADS_1
"Apa Roy tau masalah ini?"
"Entahlah pi."
"Yang pasti kita harus mengeluarkan Roy dari rumah itu, sekarang Rey!" perintah Ryan.
Ryan dan Rey berpamitan pada Vena dan bergegas pergi ke kediaman Roy. Sesampainya di mansion Roy, "Hai Ryan, hai Rey ada apa? tumben kalian tiba-tiba datang? sapa Shinta setelah membukakan pintu rumahnya
"Maaf Shin, saya buru-buru, saya segera membawa Roy kerumahsakit kita untuk perawatan karena saya menemukan pendonor ginjal untuknya," jawab Ryan, langsung kedalam rumah Roy dan menaiki tangga menuju kamarnya, diikuti oleh langkah kaki Rey.
"Apa? kenapa sebelumnya saya tidak diberi tau?" jawab shinta
"Oh ayolah Shinta itu tidak penting, yang terpenting ada pendonor ginjal untuk Roy. bukan begitu?" dingin suara Ryan.
Rey langsung menggendong Roy dari ranjang ke kursi rodanya, lalu mendorongnya. Sebenarnya belum ada pendonor ginjal untuk Roy, itu hanya akal-akalan Ryan untuk menjauhkan Roy dari Shinta agar kondisinya tidak semakin buruk. Rey juga langsung memerintahkan Andre untuk mencari dua orang penjaga yang akan menjaga pamannya itu ketika dirawat dirumah sakit, tidak ada yang boleh menjenguknya kecuali dapat izin dari Ryan.
Sesampainya dirumah sakit XX, Roy langsung dibaringkan dikamar ekslusif milik keluarga Fernandez
"Benarkah ada pendonor ginjal untukku yan?" tanya Roy.
"Belum," jawab Ryan.
__ADS_1
"Maksudmu?" tanya bingung Roy.
Kemudian Rey menceritakan semua hal yang ia ketahui dari hasil penelusurannya kepada Roy.
Roy hanya mendengarkan, sungguh sebenarnya telah lama Roy mengetahui ini, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Pikirmya mungkin ini adalah takdir, takdir buruk sebagai balasan dari perilaku buruknya selama ini.
"Saya tau," ucap Roy yang membuat Ryan dan Rey sangat terkejut.
"Kalau kamu dari dulu sudah tau hal ini, mengapa diam?" geram Ryan.
"Sebelumnya aku memang buruk, suka main perempuan, tidak bertanggung jawab dan tidak bisa diandalkan, itu semua karena papa kita selalu mengatur hidupku. aku tidak suka bekerja dikantor, aku suka seni. Bahkan untuk menikahpun harus dengan pilihan papa. Ketika usia pernikahanku dan shinta berjalan 6 bulan, aku tau shinta masih menjalin hubungan dengan kekasihnya, setahun kemudian ketika Aletha kecelakaan dan butuh darah, ternyata darah kami tidak sama. Akhirnya Shinta mengakui kalau Aletha bukan anakku. aku tidak perduli karena aku juga tidak mencintainya sampai akhirnya aku bertemu Diana, dia yang telah membuatku jatuh cinta dan tidak lagi main wanita. aku menikahinya dan lahirlah Rasya. Setelah 5tahun usia pernikahanku dan Diana, aku ingin menceraikan Shinta, karena pastinya aku memilih Diana dan putra kandungku. Namun Shinta hamil Alisha dan papa sudah mengetahui hubunganku dengan Diana. Papa dan mama membela Shinta karena mereka tidak tau dalamnya rumah tangga kami." Panjang lebar Roy menceritakan kisahnya.
"Kamu ingat yan, waktu mama ingin mengakhiri hidupnya?" tanya Roy dan diangguki Ryan.
"Itu ancaman mama supaya aku tidak bercerai dengan Shinta, aku semakin tersudutkan. Ditambah kelakuan burukku sebelumnya menambah kekecewaan orangtua kita. Jadi akhirnya aku mengalah, mungkin ini takdir buruk, balasan dari keburukan sikapku yang selalu menyakiti hati orangtua kita." Roy meneteskan airmatanya.
"Maaf, aku sungguh memyesal tidak mengetahui ini semua," ucap Ryan kepada kakaknya.
"Bukan salahmu yan, kamu juga punya keluarga dan sibuk mengurusi perusahaan kita hingga mwnjadi besar seperti ini. Tanggungjawabmu juga besar yan. Seharusnya aku yang minta maaf," lirih Roy yang terus meneteskan airmata.
"Sudahlah uncle, sekarang waktunya kita benahi kekacauan ini. Rey janji akan mengembalikan kebahagiaan keluarga kita," ucap Rey lantang
__ADS_1
"Terimakasih Rey, kamu memang anak hebat dan bisa diandalkan" Roy terharu dan mencium punggung tangan keponakannya itu.