Sang Pemilik Cinta

Sang Pemilik Cinta
pengorbanan Rey


__ADS_3

Bugh.. bugh.. bugh.. Rey terlepas, kakinya tak diam untuk menendang kesana kemari. Tangannya meraih setiap benda yang ada didekatnya untuk memukul pria-pria besar yang dibayar Aletha.


Beberapa orang sudah tergeletak, dirasa teman-teman yang memegang Rey satu persatu lumpuh, kemudian pria yang memegang Cinta berhamburan menghampiri Rey untuk membantu melumpuhkan Rey.


Disaat bersamaan Andre datang bersama beberapa pengawal dan Pak Bram. tak lama kemudian Mario juga datang membawa aparat keamanan.


Bugh.. bugh..bugh.. Andre dan pasukannya membantu Rey. Aletha panik melihat bodyguardnya mulai habis. Aletha hendak lari, lalu dihadang Rey dan berkata "mau kemana kau?"


Plak.. tamparan keras dari Rey pada pipi kanan dan kiri Aletha, sebenarnya Rey paling tidak suka melakukan ini terhadap wanita. Namun mengingat apa yang tadi akan Aletha lakukan pada Cinta membuatnya hilang kendali.


Aletha berontak, Rey mengunci tangan Aletha kebelakang dan menyuruhnya berjalan mendekati meja "Bram kemari!" teriak Rey. Pak Bram yang tadinya mematung sontak kaget mendengar teriakan Rey "iya tuan."


Tali yang mengikat lengan dan kaki Cinta dilepaskan oleh Andre. Mario membantu Alif bangun dan mencoba menyadarkannya.


"Tanda tangan ini!" perintah Rey pada Aletha


"Apa ini?" tanya Aletha


"Ini sisa saham kepemilikan perusahaanku atas namamu. Tanda tangan disini untuk peralihan kepada yang berhak menerimanya, kau sama sekali tidak pantas mendapatkan hartaku," jelas Rey.


Aletha terdiam, kemudian berkata "tidak, tidak akan."

__ADS_1


"Tanda tangan disini atau jarimu aku potong." Tunjuk Rey pada kertas yang ada dihadapannya sambil berteriak "cepaaat..!"


Keringat dingin bercucuran membasahi wajah Aletha "Tidak akan, kamu tidak akan berani melakukan itu Rey."


"Oh kau mau mencoba, jangan salahkan aku."


"Kak Rey, jangan!" teriak Cinta lalu telapak tangan Andre menutupi wajah Cinta.


Pletak.. dentuman pisau dan meja beradu dan ujung jari kelingking Aletha terjatuh


"Aaaaagggghhhhh..." teriak Aletha


Aletha langusng menggeleng sambil menangis histeris, lalu menandatangani setiap berkas yang diperintahkan Rey.


Kemudian Cinta langsung mengambil sapu tangannya, segera menghampiri Aletha dan dibalutkan ke jari yang terpotong tadi.


"Baik sekali dirimu." Bisik Rey ditelinga Cinta.


Aletha dan pria-pria bayarannya dibekukan aparat, mereka digiring untuk masuk ke mobil polisi.


Sebelum Aletha sampai ke arah mobil tersebut, dengan spontan Aletha melihat pistol yang bertengger dipinggang polisi yang berada disebelahnya. Aletha langsung meraihnya dengan cepat dan mengarahkan pada Cinta yang jauh diseberang pandangannya.

__ADS_1


Cinta yang sedang menunduk dan tidak fokus hanya santai, namun Rey yang memang sedang fokus melihat Aletha berjalan, tiba-tiba spontan mengarahkan badannya untuk memeluk Cinta sambil berkata "awas!"


Dooor.. Suara letusan senjata api terlepas.


"Aaaagggghhhh.." Rey roboh dipelukan Cinta. Senjata api itu mengenai punggung kanan Rey. Cinta langsung memeluk erat Rey agar tidak terjatuh.


Mario yang berada disebelah Jerry spontan mengambil pistol Jerry dipinggangnya.


Door.. Suara letusan senjata api terlepas dan mengenai lengan kiri Aletha, kemudian terdengar lagi


Door.. Kini suara letusan senjata api itu terlepas dari tangan Aletha yang diarahkan pada kepalanya sendiri. Sudah tidak ada alasan Aletha berada didunia, pikirnya.


Semua terjadi begitu cepat dan sangat cepat.


Kini Cinta berada dimobil polisi sambil memeluk Rey. Alif melihat setiap pengorbanan yang dilakukan Rey, ia tahu bahwa Rey sangat mencintai Cinta, jauh sebelum kejadian ini terjadi.


Sesampainya di rumah sakit XY, orangtua Rey dan Ferdi sudah berada disana. Andre memberi kabar kepada mereka.


Rey di dorong menuju ruang UGD untuk segera dilakukan tindakan, Cinta dan Vena berpelukan dan menangis satu sama lain. Tak henti-hentinya Cinta meminta maaf atas apa yang terjadi pada Vena.


"Bukan salahmu Cinta," ucap Vena.

__ADS_1


__ADS_2