
"Assalamualaikum," ucap Cinta dan Rey saat memasuki rumah Ferdi. Cinta berjalan lebih dulu menuju ruang tengah dan dapur, langkahnya diikuti Rey dibelakangnya.
"Eh ada Rey?" ucap aunty Ayu yang melihat Rey berdiri dibelakang Cinta.
"Apa kabar aunty?" sapa Rey dengan senyum hangat
"Baik, akhirnya ya kalian." Senyum aunty Ayu penuh makna.
"Alhamdulillah aunty," jawab Rey yang mengerti maksud aunty Ayu.
"Jam berapa orangtuamu kesini Rey?" Tanya aunty Ayu, kemudian dijawab Rey dan merekapun berbincang-bincang didapur.
Cinta yang sedang menyiapkan minum untuk Rey, tersenyum melihat keakraban Rey dengan aunty Ayu.
Ketampanan Rey mengawali rasa degupan jantungnya. Ditambah sikap Rey yang selama ini selalu lembut padanya juga sangat friendly terhadap keluarganya menambah kesukaan Cinta pada Rey.
Jujur dari awal Cinta menaruh rasa pada Rey, namun ia tepis karena tahu kelakuan Rey yang sebelumnya suka ke club dan sesekali memakai jasa wanita malam yang memang bersih dan tak lupa menggunakan pengamannya. Walaupun Rey selalu berkata ingin berubah tapi Cinta merasa tidak mungkin. Padahal tidak ada yang tidak mungkin jika Allah menghendaki.
Dan kini Cinta merasa bersalah karena telah men-judge seseorang, padahal yang menurut kita baik belum tentu baik menurut Allah dan yang buruk menurut kita belum tentu buruk menurut Allah.
"Aunty, Cinta bersih-bersih dulu ya." Setelah memberikan minuman dingin pada Rey, Cinta meninggalkannya.
Rey melangkahkan kakinya ke arah suara Zoya yang sedang berteriak kemudian tertawa bersamaan dengan suara Zidan sang kakak.
"Om ikut donk." Suara Rey menghentikan permainan Zoya dan Zidane
"Sini om, ini cara mainnya, melempar balon ini ke badan lawan, nah yang banyak kena berati kalah." Jelas Zidan menunjukkan balon kecil yang mudah pecah berisi air berwarna merah didalamnya.
__ADS_1
"Plak." Lemparan Rey selalu tidak kena ke tubuh Zidan. Zidan memang pandai menghindar, sedangkan Zoya pandai berlari.
"Plak." "Om Rey kena." Kata Zoya.
"Plak." "Kena lagi." Kata Zidan.
Rey coba mengikuti cara Zidan menghindar.
"Plak." Zidan kena, namun akhirnya Rey terkepung oleh Zoya dan Zidan sampai akhirnya tubuh Rey yang masih lengkap dengan pakaian olahraganya menjadi basah kuyup dengan banyak noda merah.
"Lihat tuh calon suamimu!" Senyum aunty Ayu menunjukkan kelakuan Rey bersama kedua anaknya, kemudian Cinta langsung menggelengkan kepalanya.
"Kak Rey.." Teriak Cinta dari pintu belakang yang mengarah pada taman belakang yang minimalis.
Rey menghentikan permainannya dan menghampiri Cinta "ya."
"Rey kacau sekali dirimu." Suara Ferdi tiba-tiba datang dan berdiri di belakang Cinta.
"iya yah, maaf tadi asyik bermain dengan Zoya dan Zidan" jawab Rey
Zoya dan Zidan pun langsung menghampiri Rey "ayo om main lagi?"
"Sudah Zoya, kamu nanti kedinginan dari tadi berenang ga mau udahan." Suara aunty Ayu menyambar dan langsung menggendong Zoya kedalam.
"Iya sudah, Zidan juga bersihkan badanmu." Kata Ferdi dan langsung dipatuhi Zidan
"Cinta, ajak Rey ke kamar mandi yang ada di kamarmu, supaya lebih dekat. Nanti ayah ambil pakaian punya ayah untuk Rey." Perintah Ferdi
__ADS_1
Memang kebetulan kamar Cinta lebih dekat dari taman belakang dibanding kamar yang lain, jadi Rey tidak perlu melicinkan lantai dengan kucuran air yang jatuh dari pakaiannya.
"Masuk!" Perintah Cinta pada Rey saat Cinta sudah berdiri didepan pintu kamar mandi miliknya. Namun Rey masih mengedarkan pandangannya didalam kamar Cinta, pasalnya ini kali pertama ia memasuki kamar wanita pujaannya itu.
"Waw pialamu banyak," ucap Rey takjub ketika melihat lemari kaca yang berisikan piala yang dijejerkan beserta beberapa medali.
Mata Rey memperhatikan bacaan-bacaan pada piala itu "juara 2 scient, juara 1 matematika, juara 1 cerdas cermat, woow.. kamu pintar sekali sayangn," "dan ini kamu." Rey menunjuk pada foto Cinta yang masih SMP saat lomba menari cheerleaders, ditambah foto SMAnya bersama Melly, Inka dan Jessy "kamu manis sekali Cinta." Rey terus mengoceh
"Ih apaan sih." Tangan Cinta menutup beberapa foto yang terpajang di atas dinding persis disebelah lemari kaca itu.
Rey masih celangak celinguk melihat foto yang lain yang tidak tertutup tangan Cinta sambil tersenyum. Sungguh wanita pujaannya ini memang pantas dipuja, tidak salah jika ia begitu tergila-gila padanya.
Kemudian terdengar langkah kaki memasuki kamar Cinta "ini Rey, pakailah pakaian ayah" suara Ferdi menghentikan aktifitas Rey, kemudian berlalu ke kamar mandi sambil berkata "terima kasih yah".
ting tong.. bel rumah Ferdi berbunyi. Ferdi yang memang sudah menanti kedatangan tamu tersebut, kemudian membukakan pintu.
"Assalamualaikum." Ucap Vena dan Ryan.
"Waalaikumusalam." Jawab Ferdi beserta aunty Ayu dan juga Cinta.
Vena dan Ryan langsung ke dalam dan Vena mendapati sang putra sudah terduduk di meja makan.
"Mommy, papi," sapa Rey.
"Kamu udah ga sabar banget sih sayang." Bisik Vena ditelinga Rey.
Rey hanya menampilkan senyum sumringahnya.
__ADS_1