Sang Pemilik Cinta

Sang Pemilik Cinta
Berbesar Hati


__ADS_3

Kini semua berkumpul di meja makan, hidangan yang tersedia sangatlah banyak dan menggugah selera. Ditengah dentuman sendok dan piring, Vena memecahkan suasana "jadi sekarang Alisha pacaran nih sama Andre?" sendok ditangan Vena mengarah pada Alisha lalu bergantian ke arah Andre.


"Beneran?" tanya Cinta tersenyum antusias.


"Om sih setuju banget Al," sahut Ryan.


"Setuju, Andre pria yang sangat bertanggungjawab," suara Ferdi keluar juga.


"Wah restu udah dikantong nih." Ucap Rey menyungging senyum meledek pada sahabatnya itu.


Andre tampak bersahaja mengumbar senyumnya sambil tetap 'cool' memakan makanan yang ada didepannya dan berkata, "si restu lagi nonton di rumahnya Rey."


"Ngelawak lo," jawab Rey yang juga sambil menikmati makanan dihadapannya.


"Terus kapan kamu menemui ayahnya Alisha Ndre?" tanya Vena.


"Segera tante," ucap tegas Andre.


"Jadi Alisha akan segera kamu nikahi?" tanya Ryan.


"Belum om, saya tidak terburu-buru, saya akan menunggu kesiapan Alisha. Lagipula saat ini Alisha masih kuliah dan saya akan selalu mendukung impiannya," jawab Andre.


"Keburu tua lo nunggu Alisha, nanti dikira om om nikahin abg, hahahaha.." Tawa Rey menceriakan suasana, spontan membuat yang lain ikutan tertawa dan tersenyum.


Wajah Alisha yang namanya dari tadi disebut, mulai tampak memerah.


"ish.. ish.. udah sih jangan bahas aku terus, bahas yang sebentar lagi nikah aja." Bola mata Alisha mengarah ke arah Cinta dan yang lain pun ikut mengarahkan pandangan ke arah yang Alisha tuju.

__ADS_1


"Wah beneran Ta, kamu udah mau nikah? kapan?" tanya Vena antusias.


"InsyaAllah bulan November mi" jawab Cinta.


"Tinggal 2 bulan lagi donk? cepat sekali, teganya kamu ga cerita Fer," sahut Ryan dengan nada agak kecewa.


"Iya begitulah," jawab Ferdi sederhana.


Rey sedaritadi hanya menunduk memainkan makanan dihadapannya. Dia sama sekali tidak antusias dengan obrolan ini dan tidak ingin bertanya sedikitpun.


Vena juga melihat sikap putranya itu dan hanya menghelakan nafasnya panjang, sungguh dia sangat mengerti perasaan Rey saat ini. Andre sesekali melirik Cinta kemudian bergantian ke arah Rey.


"Semoga pernikahannya lancar ya kak," ucap Alisha polos dan langsung di angguki Cinta.


"Terima kasih Al."


"Oh iya masih ada hidangan penutup ala mommy Vena." Ceria Vena menampilkan gigi putihnya.


Setelah makan malam, kemudian mereka berbincang hangat. Ryan, Vena dan Ferdi di ruang keluarga sementara Rey, Andre, Cinta dan Alisha berada di teras taman.


Tak lama kemudian Andre menarik tangan Alisha dan berkata, "sayang, anter aku sebentar ke dapur yuk."


Andre beralasan untuk meninggalkan Rey berdua dengan Cinta. Alisha bingung pasalnya Andre tidak pernah semanja ini.


"Ngapain sih kak," suara manja Alisha.


"Ssstt..." Telunjuk Andre menempel dibibirnya memberi kode pada Alisha.

__ADS_1


Cinta menyadari bahwa dirinya kini tinggal berdua bersama Rey di teras.


Tak lama kemudia Rey berdehem dan mengeluarkan suaranya "Cinta sekali lagi aku ingin minta maaf, maaf atas perlakuanku yang kurang ajar padamu." Suara Rey lirih.


Cinta hanya mengangguk kemudian menggeleng, lalu berkata "sudahlah kak, lupain aja. Aku juga ga pernah bisa marah sama kamu."


"Kenapa?" tanya Rey penasaran.


"Ngga tau," jawab Cinta yang kemudian mengelembungkan pipinya, spontan membuat Rey tersenyum lebar.


Tangan Rey kembali menyentuh Cinta, Rey merangkul kepala Cinta dari samping dan menempelkan kepalanya ke kepala Cinta.


"Aku sangat mencintaimu, sebelumnya aku tidak pernah merasakan hal ini kepada wanita manapun. Namun aku akan berbesar hati dan menghargai keputusanmu, selamat ya, semoga kamu selalu bahagia."


Kali ini Cinta tidak menolak, juga tidak bertanya mengapa Rey mencintainya dan sejak kapan itu terjadi. Padahal pertanyaan-pertanyaan itu ingin sekali Cinta tanyakan pada Rey, namun enggan keluar dari bibirnya.


"Aamiin.. Terima kasih kak, kak Rey lelaki baik, insyaAllah akan mendapatkan yang terbaik," ucap tulus Cinta. Walaupun setelah mengatakan hal itu ada terasa getaran hebat dihatinya. Dirinyapun tak mengerti.


Rey menundukkan kepalanya ke arah wajah Cinta dan Cintapun menenggakan kepalanya ke arah Rey. Sesaat mereka berpandangan kemudian Rey melepaskan tangannya dari kepala Cinta. Cangung hening, sampai Ferdi menghampiri dan mengajak Cinta pulang.


Para tamu sudah meninggalkan mansion milik Ryan. Rey menatap langit malam di balkon kamar miliknya, Dia menikmati indahnya Cinta pada foto-foto candid yang disimpan diponselnya.


Sambil tersenyum membayangkan saat-saat bersama dengan Cinta, Rey menatap wajah Cinta di dalam ponselnya.


"Ya Allah, jadikanlah dia jodohku, walau itu tak mungkin namun jadikanlah itu mungkin.. Aamiin." Sedih Rey mengusap wajahnya kasar.


Ia masih meratapi kesalahannya. Kesalahan yang membuatnya begitu menjadi jauh pada Cinta saat ini. Seperti ada dinding yang memisahkan, padahal sebelumnya ia dan Cinta sudah begitu dekat.

__ADS_1


__ADS_2