Sang Pemilik Cinta

Sang Pemilik Cinta
honeymoon 2


__ADS_3

Perjalanan terakhir Rey dan Cinta di Turki berakhir pada tempat yang baru-baru ini dikumandangkan kembali adzan setelah 500tahun lalu dan sempat dijadikan museum.


Hagia Sophia sebagai bangunan saksi zaman, berbagai mosaik menghiasi seluruh area bangunan itu.



Cinta memotret bangunan indah dihadapannya, kemudian terdiam sejenak. Rey membuyarkan lamunannya dengan mengulurkan lengan dipinggang Cinta dan berkata "mengapa diam."


"MasyaAllah indah banget kak, jadi terpesona."


"Iya amazing, aku baru tahu sejarah bangunan ini," ucap Rey yang tak kalah antusiasnya.


Puas dengan tempat-tempat indah dan bangunan bersejarah yang ada dinegara ini membuat Rey dan Cinta tak merasakan waktu yang sudah mereka lewati.


Setelah sepuluh hari menginap di hotel ternama di kota Ankara Turkey, kini saatnya Rey dan Cinta mulai berkemas untuk kembali.


Di Bandar Udara Attaturk, Rey mengajak Cinta untuk segera boarding pass.


"Kita kok antri disini kak, ini bukan tujuan jakarta, sebelah sana mungkin." Tunjuk Cinta pada arah boarding pass yang lain.


Rey tersenyum melihat istrinya yang sok tahu "memang kita tidak ke jakarta," jawabnya.


"Terus?" semakin mendekat monitor, Cinta tersadar bahwa pesawat yang akan ia naiki menuju ke jeddah.


"Kita ke Jeddah?" tanya Cinta bingung.


"Hmm.. kita umroh, aku sudah siapkan akomodasinya disana."


Cinta langsung menghamburkan pelukan pada sang suami.

__ADS_1


"Kamu ingin kesana kan?" ucap Rey tersenyum mendapatkan pelukan dan ciuman diwajahnya bertubi-tubi tanpa menghiraukan orang-orang yang ada disekitarnya.


"Banget." Sumringah Cinta hingga menampilkan jejeran giginya yang rapih.


Cinta dan Rey menempuh perjalanan selama 3jam 35menit dari Istanbul ke Jeddah. Setibanya mereka di Bandar Udara King Abdul Aziz, sudah ada seseorang yang menunggu untuk menjemput.


Rey dan Cinta sampai di kota mekkah pada jam 7 malam waktu Jeddah. Hati Cinta bergetar ketika dari kejauhan sudah terlihat masjidil haram dengan kemilau lampu yang menyorot dari berbagai penjuru.


Rey merangkul sang istri "masyaAllah indah ya" kata Rey yang masih berada di dalam mobil.


Cinta mengangguk dan berkata "kita langsung kesana?" tanya Cinta yang sudah tak sabar ingin menginjakkan kakinya ke masjidi harram.


"Kita istirahat dan makan malam dulu di hotel sayang," jawab Rey santai, ia tahu bahwa saat ini istrinya sangat antusias.


Sesampainya di hotel Mecca clock tower, Rey dan Cinta sudah disambut Vena.


"Aaaaa... mommy." Teriak Cinta histeris, menghamburkan pelukan pada sang mertua.


Cinta semakin histeris memeluk sang ayah, kemudian berkata "kok bisa sih, kita kumpul disini?"


"siapa yang bisa nolak kemauan suamimu" ledek Vena tersenyum mengarahkan matanya pada Rey.


"Iya, kita disini ga punya pilihan dan harus datang" tambah Ryan.


"Tak apa kita suka kok," jawab Nisa yang langsung di'iya'kan juga oleh Ferdi.


"Iya yah, kapan lagi kita bisa ibadah bareng," jawab Rey.


"Alhamdulillah anak papi jadi religi banget sekarang." Ucap Ryan membuat yang lain ikut tertawa.

__ADS_1


Ketiga pasangan ini sudah bersiap menuju mekkah untuk melaksanakan sholat isya berjamaah. Cinta bersama Vena dan Nisa memisahkan diri dari para suami dan bergabung di tempat wanita lantai dua.


Rey terdiam sejenak, tatkala melihat ka'bah setinggi 43 kaki dihadapannya. Lisannya terus memuji namaNya, hatinya bergerumuh mengingat segala hal buruk yang pernah ia lakukan. Ditambah ketika sholat berjamaah, lantunan ayat yang diucapkan lirih oleh imam masjidil haram pada saat itu mampu melelehkan airmatanya. Semakin memgingat dosa yang pernah ia lakukan, airmata yang mengalir semakin deras.


Ia sadar saat ini sedang berdiri dipusaran dunia, diantara milyaran manusia yang hidup dalam keadaan yang berbeda dan ia sangat beruntung karena pernah dititik terburuk, lalu kini atas kehendakNya kembali menjadi lebih baik.


Sungguh berada di tempat ini, seperti hidup tanpa beban. Tidak berpikir lagi tentang pekerjaan, tidak berpikir lagi tentang obsesi atau impian, karena yang ada hanya ketenangan. Benar-benar sebuah ketenangan.


Setiap kali selesai sholat ashar, Rey dan Cinta tidak kembali ke hotel. Mereka memutuskan untuk berjalan-jalan di area sekitar sambil menunggu waktu maghrib datang.


Tepat menjelang adzan maghrib, Rey terpisah dengan Cinta di tempat perbelanjaan di area Mekkah. Rey berlari kesana kemari untuk mencari istrinya, karena Cinta juga nemakai cadar untuk menghindari hal buruk disana, membuat Rey agak sulit mencari keberadaan sang istri. Jantung Rey berdegub kencang, dadanya bergemuruh antara menyesal dan rasa bersalah meninggalkan Cinta sendiri ketika Rey hendak mengantri untuk membeli burger.


Rey merogoh kantong celananya dan tak menemukan ponselnya "ah.. sial!" umpat Rey, setelah sadar ponselnya tertinggal dikamar hotel. Adzan maghrib berkumandang namun Rey belum menemukan Cinta.


Sepanjang sholat dan setelahnya, Rey tak henti-hentinya berdoa agar istrinya dalam keaadaan baik dan segera dipertemukan kembali. Pikirannya kosong, yang ada hanya kepasrahan.


Airmata Rey mengalir deras, ia tak ingin terpisah dari Cinta. Ia terus memohon dan meminta waktu yang panjang untuk bisa selalu bersama istrinya, memiliki anak dan membesarkannya. Pikirannya melayang jauh, sampai akhirnya di restoran hotel Rey melihat sosok sang istri tengah tertawa bersama wanita paruh baya yang masih terlihat cantik.


"Sayang, kamu kemana aja?" Rey memeluk erat sang istri dengan masih airmata yang mengalir deras.


"Kamu kenapa Rey?" tanya Vena bingung.


"Kami tadi terpisah mom, tapi alhamdulillah langsung ketemu mommy" Cinta menenangkan suaminya dengan menepuk-nepuk bahunya "aku ga apa-apa kak."


"Aku takut sekali, aku takut kehilanganmu" Rey masih mengeratkan pelukannya.


"Aku akan selalu disisimu, hubby."


Rey mengendurkan pekukannya dan mencium kening sang istri "berjanjilah" kemudian Cinta mengangguk dan berkata "janji" senyum Cinta pada Rey.

__ADS_1


"Udah donk kalian mesra banget sih, disini ada mommy loh, kalian ga lagi berduaan ya!" ledek Vena.


__ADS_2