
Laras menghampiri suara itu yang terdengar dari arah kamar mandi yang terletak didalam kamar Mario. Laras membuka pintu kamar mandi yang memang tidak menggunakan kunci.
"Aaaaaaa..." teriak Inka yang baru akan menggunakan handuk
"Aaaaaaaa..." teriak Laras spontan menutup kembali pintu yang tadinya ia buka. Laras bingung dengan keberadaan seorang wanita diapartemen putranya, apalagi wanita itu mandi dengan rambut yang basah.
Laras membuka lagi pintu kamar mandi itu, melihat Inka sudah memakai pakaiannya. Kemudian Laras menghampiri Inka dan berkata "kamu pacarnya Mario? saya mamanya Mario."
Inka bingung ingin jawab apa, "hmmm.."
"Bukan ma, ini teman Mario." Ucap Mario menyela tiba-tiba masuk menghampiri Laras dan Inka
"Mengapa kamu tutupi yo, mama ga akan marah kalau kamu memang sudah punya calon sendiri, nanti mama akan bicara sama papa." Senyum Laras, kemudian berkata lagi "siapa namamu?"
__ADS_1
"Inka tante."
"Jangan panggil tante, panggil saja mama. Toh mama juga akan menjadi mamamu nanti."
"Apaan sih ma?" Mario memegang tangan Laras dan langsung ditepis Laras. "Kamu nakal ya, ga pernah cerita punya pacar cantik kaya gini. Mau main rahasia-rahasiaan sama mama."
Mario hanya menepuk jidatnya "haduh."
Inka hanya mengikuti alur, ia juga bingung harus bagaimana. Laras terus saja berbicara tanpa mendengarkan penjelasan Mario. Jika Mario sebagai anaknya saja tidak didengar, apalagi Inka yang hanya orang baru disini, jadi lebih baik ia diam. Namun diamnya Inka meyakinkan Laras kalau memang ini yang terjadi.
"Kamu tinggal dimana? Ayahmu kerja dimana? Anak ke berapa?" pertanyaan bertubi-tubi datang dari Laras, Mario hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang mama.
Inka menjawab setiap pertanyaan Laras dengan lembut.
__ADS_1
"Kamu lembut sekali sayang, mama semakin suka."
Inka tersenyum, sungguh sebenarnya ia rindu sosok mama. Walaupun ibu sambungnya juga baik, namun tetap saja perlakuannya berbeda ketika bersama adik tirinya.
Melihat kehebohan dan ketulusan Laras, membuat Inka tidak bisa menolak, Inka hanya mengangguk setiap pertanyaan yang berhubungan tentang hubungannya dengan Mario.
"Malam ini temani mama tidur disini ya In," ucap Laras dan langsung diangguki Inka.
'Gawat, sepertinya sudah tidak bisa diperbaiki.' Gumam Mario melihat keadaan yang sudah semakin rumit.
"Taulah gimana nanti aja." Mario berbicara pada dirinya sendiri sambil menutup pintu kamarnya
Mario membolak-balikkan badannya, namun matanya belum juga terpejam. Ia mengkhawatirkan apa yang akan terjadi setelah ini. Kemungkinan terburuk Laras akan memaksanya untuk menikahi Inka karena mamanya itu menyangka Mario habis melakukan hubungan badan sebelum Laras datang, oleh karena itu Inka berada dikamar mandi untuk bersih-bersih dan berkeramas.
__ADS_1
Di kamar satunya lagi ada Inka dan Laras yang sedang asyik berbincang sebelum tidur. Inka memang gadis yang supel dan mudah bergaul, itu membuat Laras suka sekali berbincang hingga larut malam. Sebenarnya mata Inka sudah sangat berat ingin dipejamkan, namun ia berusaha untuk terjaga dan mendengar ocehan Laras yang menceritakan masa kecil Mario dengan segala tingkah nakalnya.