Sang Pemilik Cinta

Sang Pemilik Cinta
masa lalu 1


__ADS_3

Kini Rey dan Cinta sudah berada di sebuah kamar hotel. Ia memang sengaja menggunakan beberapa kamar hotel tersebut untuk istirahat kedua keluarga.


Rey menghampiri sang istri yang tengah duduk di meja rias hendak membuka hijab dan pakaian pengantinnya. Dari belakang, ia menunduk dan menempelkan kepalanya sejajar dengan Cinta, mengecup kepala sang istri dari samping.


"Sayang, maaf aku keluar dulu sebentar menemui Andre." Ucap Rey setelah membaca pesan dari Andre perihal bisnisnya yang sedang ada trouble, mengingat Rey akan tidak kekantor dalam tiga hari kedepan, atau bahkan lebih.


"Iya, aku duluan bersih-bersih ya." Jawab Cinta menoleh ke wajah sang suami sambil memegang pipinya, lalu diangguki Rey.


Dikamar mandi, Cinta mulai membersihkan dirinya, menghilangkan sedikit lelahnya dengan berendam air hangat di bathup. "hmm.. segar sekali" gumamnya. Kemudian Cinta membuka lemari, namun tak menemukan baju yang biasa ia gunakan. Walapun dirumah ia juga sering menggunakan pakaian yang terbuka tapi kali ini pakaian yang disediakan benar-benar terbuka. Lingeri transparan yang yang hanya menutupi bagian intinya saja.


Cinta keluar dari kamar mandi, namun belum terlihat Rey disana. Cinta berdiri didepan cermin rias menatap dirinya sendiri yang begitu s*xy.


'Ceklek'


Rey membuka pintu kamar, Cinta kaget dan langsung menoleh. Rey menutup pelan pintu itu, namun matanya tetap tertuju pada makhluk indah dihadapannya.


"Mengapa hanya ada baju seperti ini?" tanya Cinta yang berdiri didepan cermin. Rey tersenyum, perlahan menghampiri istrinya yang terlihat sangat menggoda "kamu indah, sayang. MasyaaAllah.. Benar-benar makhluk indah ciptaan Allah. Beruntungnya aku." Wajah Cinta semakin merona.


Rambut Cinta panjang, lurus dan ikal, ada poni sedikit dengan belahan samping. Lingeri yang ia pakai memperlihatkan assetnya yang padat dan tidak terlalu besar juga tidak kecil. Ternyata dibalik baju longgar dan tertutup yang biasa ia gunakan. Cinta memiliki bentuk tubuh yang sangat ideal, tidak kurus juga tidak gemuk, bisa dibilang 'body goals'.

__ADS_1


"Ini semua mama yang menyiapkan sayang." Ucap Rey sambil mengelus rambut Cinta, menatapnya dengan intens.


Rey menurunkan wajahnya mensejajarkan dengan wajah Cinta. Rey mulai mengecup kedua mata Cinta, hidung, pipi kanan dan kiri. Kemudian berhenti lama pada bibir ranum Cinta, mengecup serta mel*matnya dari yang lembut sampai menuntut. Rey melepaskan pangutannya, setelah merasa Cinta sudah mulai kekurangan oksigen karena ulahnya. Lalu diulangi lagi dan lagi, Cintapun sudah mulai mengikuti cara Rey menciumnya.


Rey mengangkat pinggang Cinta, kemudian Cinta melingkarkan kakinya pada pinggang Rey. Tanpa melepas pangutan, Rey berjalan menuju sofa. Rey mendudukkan dirinya disofa, namun tetap dalam posisi Cinta yang duduk diatas Rey dengan kaki melingkar di kedua pahanya.


Rey melepaskan pangutan mereka setelah sekian lama saling menukar saliva. Rey mengusap bibir Cinta pada ibu jarinya dan berkata "manis, sepertinya ini akan menjadi canduku."


"Hmm.. sepertinya aku juga." ucap Cinta dengan wajah polosnya.


Rey menggelengkan kepalanya dan tertawa "oh my God, aku benar-benar tergila-gila padamu." Sungguh wajah Cinta sangat menggemaskan.


"Bisa kita mulai," ucap Rey menyeringai.


"Terus kita sholat dulu sebelum melakukannya." Suara Cinta lembut.


"Oke, sayang."


Ketika Rey akan beranjak, Cinta menahan kakinya agar Rey tak bergerak.

__ADS_1


"Tunggu, ada yang ingin aku sampaikan." Cinta menunduk


"Sepertinya ada hal serius?" tanya Rey yang langsung diangguki Cinta.


"Kak maaf harusnya aku bilang ini dari awal, tapi aku bingung mau mulai dari mana."


"Apa?" Rey khawatir "apa ada yang mengancammu?" tanya Rey khawatir akan ada musuh baru dalam keluarganya.


"Bukan, bukan itu." Lalu Cinta memberanikan diri berkata lagi "mungkin nanti ketika kita berhubungan, aku tidak akan mengeluarkan darah."


"Hmm..?" Rey semakin intens menatap wajah Cinta. Cinta sesekali menatap mata Rey kemudian menunduk.


"Aku berani sumpah kalau aku tidak pernah disentuh siapapun."


"Aku percaya," jawab Rey tersenyum sambil memainkan rambut Cinta.


Cinta mulai menceritakan kisahnya, "sewaktu usiaku 10tahun, ayah mengajakku ke villa, aku ingin sekali naik kuda dan bisa berkuda. Ayah sedang ada urusan, karena menunggu ayah lama akhirnya ayah meminta penjaga wanita disana yang juga bisa berkuda untuk menemaniku mencobanya. Namun diluar dugaan kuda itu liar setelah aku mendudukinya, penjaga wanita itupun tak bisa melunakkan kuda itu. Lalu aku terkoyak dan terpental. Sadar-sadar aku sudah berada di rumah sakit dan dokter bilang selaput daraku robek."


Rey mendengarkan dengan seksama "lalu?"

__ADS_1


"Aku hanya takut kamu salah faham dan marah ketika nanti kita berhubungan tak menemukan darah dispreinya," ucap Cinta pelan.


Rey tersenyum dan menggeleng, "mengapa marah? itu kan kecelakaan." Ucap Rey sambil terus mengelus dan memainkan rambut Cinta. Merapihkan anak rambut yang menutupi wajah Cinta dengan lembut.


__ADS_2