
"Tunggu" suara Cinta menghentikan langkah kaki Rey.
"Aku mau.." Teriak Cinta saat Rey belum membalikkan tubuhnya. "Jangan dibatalkan, a..ku.. aku mau jadi istrimu kak," ucap Cinta terbata-bata.
Rey sudah membalikkan tubuhnya ketika Cinta mengatakan sesuatu yang membuatnya senang.
"Apa? bisa diulang pernyataanmu tadi?" langkah kaki Rey kembali mendekat ke arah Cinta.
Kini mereka berdua sudah berhadapan, Cinta menjawab, "aku mau jadi istrimu, hanya saja aku masih kaget karena secepat ini." Cinta menunduk setelah mengatakan hal itu.
Rey melihat kegugupan Cinta karena mereka berhadapan dengan jarak yang dekat.
"Boleh aku peluk," serak suara Rey.
Cinta langsung menggeleng, "ngga."
Rey tersenyum, "baiklah, kalau begitu kita kembali kesana." Menunjuk ke arah ruang tamu.
Rey dan Cinta sudah berada di tengah-tengah para orangtua.
"Lama sekali kalian ngobrol?" tanya Vena.
"Latihan untuk jadi suami istri mom, memutuskan sesuatu harus didiskusikan berdua. Bukan begitu Cinta?" Mata Rey ke arah Cinta dan Cinta membalas tatapan Rey sambil mengangguk seraya berkata "iya mom."
"Kalau begitu kalian sudah mendiskusikan juga tanggal pernikahannya?" tanya Ryan.
"Sudah pi, bagaimana kalau satu bulan dari sekarang?" jawab Rey.
"Apa tidak terlalu cepat Rey? satu bulan apa cukup mempersiapkan pernikahan?" tanya Ferdi.
__ADS_1
"Kamu jangan ragukan kemampuan istriku Fer, jangankan sebulan, 2minggu saja dia bisa siapkan. bukan begitu sayang?" Ucap Ryan yang diangguki Vena dan Ferdi tersenyum.
"Anak mama udah ga sabar banget ya." Tepuk Vena pada punggung Rey.
"Karena Cinta juga udah ga sabar mom." Ledek Rey pada Cinta yang hanya dibalas dengan wajah meronanya.
"Hmm... senangnya mommy melihat kalian" ucap Vena memegang kedua pipinya sendiri.
Sejak saat itu, Rey mulai possesive terhadap Cinta. Seperti, Rey yang tidak pernah absen menelepon Cinta walau hanya sekedar bertanya 'sedang apa'. Kemudian sopir Rey yang selalu datang mengantar juga menjemput Cinta saat aktivitasnya, namun perlahan Cinta menolak dengan halus dan akhirnya Rey menuruti, sopirnya hanya datang ketika Cinta membutuhkan.
Kini Rey sedang menunggu di depan kampus Cinta, hari ini jadwal mereka fitting baju pernikahan. Dari kejauhan Rey sudah melihat sang pujaan hatinya tengah berbincang dengan teman wanitanya, lalu berpisah pada teman wanitanya itu dan menghampiri mobil Rey.
Cinta menampilkan senyum indahnya ketika melangkah dan melihat Rey dari kaca depan mobil. Rey pun membalas dengan senyum sumringahnya.
"Maaf nunggu lama ya kak?" Ucap Cinta ketika sudah masuk kedalam mobil Rey.
Kemudian wajah mereka bertemu dan saling tersenyum.
"Aku kangen banget." Kedua tangan Rey menangkup wajah Cinta. Detak jantung Cinta sudah berdegup kencang, khawatir Rey akan mencium bibirnya karena wajah mereka sudah sangat dekat.
Rey sudah menunduk, sungguh hati Rey menginginkan ini, apalagi terlihat Cinta tidak menolak. Namun Rey menepisnya, ia lebih memilih kening Cinta sebagai pelampiasan rindunya. Rey mengecup kening Cinta lama dan memeluknya.
"Aku sangat mencintaimu." lirih ucapan Rey di telinga Cinta.
Setelah melepaskan pelukannya, Rey melihat ekspresi Cinta yang cemberut, Rey tersenyum seraya berkata "maaf, masih belum boleh ya?"
Cinta mengelengkan kepalanya, kemudia ia juga berkata, "masalahnya, aku juga khawatir terbawa suasana kak."
"Koq bisa?" tanya Rey tak percaya, pasalnya pondasi agama Cinta lebih kuat dari Rey tentunya.
__ADS_1
"Ya aku kan juga manusia kak, diperlakukan seperti ini pasti melting, apalagi aku juga ga pernah sedekat ini dengan lawan jenis."
"Oh ya, jadi kamu ga pernah diginiin sama Alif?" tanya Rey menampilkan senyum sumringahnya, beruntung sekali ia menjadi yang pertama untuk wanita pujaannya.
Cinta menggeleng dan berkata "ya ga pernah lah, kak Rey doank cowo rese yang udah meluk aku, nyentuh aku disini, disini dan di.. sini." Tunjuk Cinta pada keningnya, bibirnya dan terakhir ia agak ragu menunjuk pada dadanya.
Rey tertawa puas "tenang, aku tanggungjawab kok." Senyumnya masih mengembang menghadap pada Cinta yang masih memonyongkan bibirnya.
"Atau mau lagi?" ledek Rey mencoba mendekat lagi pada Cinta.
"Ish.. apaan sih, udah jalan." Senyum Cinta menahan tawa melihat kegilaan lelaki tampan didepannya itu.
Rey mengemudikan mobilnya pada butik yang dipilih Vena.
Cinta sedang memakai gaun diruang ganti, begitupun Rey yang juga sedang mencoba jasnya diruang terpisah.
Cinta mencoba gaun itu tanpa membuka hijabnya. Ia kesusahan ketika harus meresleting bagian belakang. Seketika ada seseorang yang membantunya, Cinta kira itu petugas wanita butik. Setelah menoleh "ya ampun kak, kamu!" Cinta melotot, ternyata pria yang tadi membantunya adalah Rey.
"Maaf aku cuma membantu, tadi kamu terlihat kesulitan."
"Ish.. kamu tuh ya kak.." Cinta memukul dada Rey, namun ditahan oleh Rey dengan memegang lengan Cinta
"Terus kamu liat ya?"
"Liat sedikit, punggung kamu mulus banget."
"Ya ampun.. enggg.." rengek Cinta mendorong Rey keluar dari ruangan itu "kamu ya bener-bener deh, nanti juga kamu liat semuanya kok, sabar kenapa sih."
Rey hanya tersenyum senang, sepertinya ini adalah hobby barunya, menggoda sang calon istri yang dua minggu lagi akan menjadi istrinya.
__ADS_1