Sang Pemilik Cinta

Sang Pemilik Cinta
Semesta mendukung


__ADS_3

Setelah makan malam bersama, Ryan, Vena, Ferdi dan Rey berbincang diruang tamu. Cinta membantu aunty Ayu dan bi Siti membereskan bekas makan malam mereka.


"Cinta.." Teriak Ferdi untuk meminta Cinta bergabung berbincang di ruang tamu.


"Iya ayah." Cinta segera menghampiri Ferdi di ikuti aunty Ayu.


"Sini sayang!" perintah Vena menepukkan sebelah kursi kosongnya untuk Cinta. Lalu Cinta menuruti dan duduk disebelah Vena.


Vena memelukkan tangannya dari samping seraya berkata lagi, "bagaimana sayang?"


Cinta tampak kebingungan. "Bagaimana apa mi? Hmm.. yah?" Bola mata Cinta mengedarkan pandangan ke semua yang duduk di ruang tamu itu.


"Loh, koq kamu bingung, tadi Rey bilang kamu sudah tau." Ucap Ferdi dan Rey menatap tajam mata Cinta, sesekali Rey mengedipkan matanya kepada Cinta.


'Oh iya tadi sewaktu digerbang, kak Rey meminta aku bilang iya jika ditanya ayah ataupun orangtuanya.' Batin Cinta.


Kemudian Cinta mengangguk dan mengucapkan, "iya yah."

__ADS_1


"Alhamdulillah," ucap Vena dan aunty Ayu.


"Akhirnya.. walaupun kamu selalu tidak pernah setuju kita menjodohkan anak-anak kita Fer, tapi mereka tetap bersatu atas izinNya." Kata Ryan yang selalu meminta Cinta pada Ferdi sejak Cinta dalam kandungan ibunya sampai ketika Cinta masuk kuliah.


Ferdi menganggukan kepalanya dan tersenyum. Sebenarnya Ferdi pun menyukai Rey, Rey pemuda yang bertanggungjawab, itu terlihat jelas dengan ia menuntaskan konflik keluarganya, memegang perusahaan menjadi lebih kuat dan terlihat dari awal perilaku baik Rey pada Cinta juga sorot matanya yang mengisyaratkan betapa ia menyayangi putrinya.


Melihat semua tersenyum dan tertawa bahagia, Cinta mulai mengerti arah pembicaraan ini. Ia berdiri dan berkata "permisi ya mi, pi, yah aunty. Cinta bicara sama kak Rey dulu." Sambil menarik ujung kemeja Rey.


"Udah ga sabar ya Ta." Kata aunty Ayu meledek yang dibalas dengan pelototan Cinta seraya berkata "apaan sih aunty." Spontan para orangtua semakin tertawa.


Sesampainya di taman belakang, wajah Cinta sdah terlihat memerah "maksudnya apa?" tanya Cinta.


"Apa?" jawab Rey dengan wajah innocent


Cinta memejamkan matanya, mengambil nafas dalam-dalam dan membuangnya kasar. Kemudian berkata "jadi kamu bodohin aku? kamu manfaatin aku?"


Rey berusaha menenangkan Cinta, ia memegang kedua pundak Cinta dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Maaf, aku sama sekali ga manfaatin kamu, aku hanya memanfaatkan keadaan."


Cinta menepis tangan yang berada di pundaknya.


"Aku satu-satunya orang yang ga tau maksud dari acara ini, aku pikir ini makan bersama biasa karena memang orangtua kita bersahabat, bodohnya aku menuruti katamu." Cinta masih tidak terima.


"Aku tau, aku memang tidak pantas untukmu, masa laluku buruk dan pengetahuan agamakupun sedikit. Tapi apa aku ga boleh berharap mendapatkan yang terbaik? aku selalu berdoa padaNya, memohon agar dipantaskan untukmu. Walau aku tau doaku tidak diterima saat sadar hari itu adalah hari pernikahanmu. Namun aku tetap ingin berubah, aku ingin menjadi manusia yang lebih baik bukan karenamu tapi karena berharap kelak Allah memantaskanku dengan wanita yang baik nantinya."


Rey menunduk, matanya berkaca-kaca. Kemudian ia melanjutkan perkataannya, "di singapura aku bertemu dengan syeikh Ahmad asli melayu yang pada saat itu mengisi khutbah jumat, aku menangis ketika ia mengucapkan laki-laki pezina hanya untuk wanita pezina dan sebaliknya. Aku selalu bertanya apa aku tidak ada harapan untuk mendapat pasangan yang lebih baik? hanya Allah yang bisa menjawabnya karena aku hanya bisa berdoa. Kemudian sesampainya disini aku bertemu lagi denganmu padahal aku sudah merelakanmu, dan ayah bercerita kalau kamu gagal menikah. Aku merasa seperti Allah mengabulkan doaku, ditambah accident itu membuatku merasa bahwa semesta mendukungku hingga dititik ini."


Rey berkata dengan lantang, mencoba meyakinkan Cinta dan ingin menatapnya. Namun Cinta tetap menunduk, kemudian Rey memberanikan diri untuk menyentuh dagu Cinta agar Cinta menatapnya, terlihat Cinta pun sudah meneteskan airmata.


"Entah mengapa aku sangat mencintaimu, aku juga tidak ingin merasa seperti ini," lirih suara Rey.


Kemudian, Rey berkata lagi. "Aku minta maaf, jika kamu tidak suka, aku akan membatalkannya, aku akan membicarakannya pada mereka." Tunjuk Rey ke arah dimana orangtua mereka sedang berkumpul.


Hening.. Rey dan Cinta terdiam berhadapan, sampai akhirnya Rey meninggalkan Cinta.

__ADS_1


__ADS_2