
"Mama.." Rayyan menghampiri sang bunda yang sedari tadi duduk di tepi ranjang menunggu sang buah hati selesai melaksanakan sholat isya.
"Anak pintar." Cinta memeluk dan mecium kening Rayyan.
"Papa belum pulang?" Tanya Rayyan. Cinta baru saja akan menjawab pertanyaan putranya, sudah ada suara Rey yang lebih dulu menjawabnya "ini papa sudah pulang."
Rayyan langsung berlari memeluk sang ayah yang masih berdiri dipintu kamarnya.
"Pa, besok Rayyan mau ikut lomba, papa bisa datang kan?" Tanya Rayyan dengan wajah polosnya.
"Tentu sayang, apa yang ngga bisa buat anak papa ini." Rey tersenyum sambil mencubit ujung hidung Rayyan dan langsung dibalas dengan tawa innocent dari sang anak.
"Sekarang istirahatlah, supaya besok tidak kesiangan." Ucap Rey dan diangguki langsung oleh Rayyan. Cinta hanya melihat kebersamaan ayah dan anak itu dengan senyuman.
Rayyan bergegas menuju ranjangnya dan menyelimuti dirinya sendiri.
"Jangan lupa baca doa sebelum tidur dan ayat kursi ya." Cinta membisikkan kalimat itu ditelinga Rayyan sebelum mengecup keningnya. "Mimpi indah sayang." Kini giliran Rey yang mengecup kening sang putra.
Cinta menghangatkan makan malamnya, sambil menunggu Rey yang tengah membersihkan diri. Selesai menyajikan makanan didapur, Cinta beralih ke kamarnya, menyiapkan baju untuk suami tercinta.
Ceklek.. Pintu kamar mandi terbuka. Spontan membuat Cinta yang sedang merapihkan baju diatas tempat tidur menoleh kearah suara itu.
"Iiihh.. kamu.. Kebiasaan banget sih, kalau keluar kamar mandi seperti ini." Teriak Cinta spontan menutup kedua matanya dengan telapak tangan, kemudian segera membalikkan badannya. Pasalnya Rey selalu dalam keadaan polos, ketika keluar dari kamar mandi.
"Biarin aja sih sama kamu ini." Rey menghampiri sang istri dengan sedikit menggoda.
"Tengok sini." Rey mencolek pinggang Cinta.
__ADS_1
"Engga." Cinta tertawa geli.
"Udah ih.. Cepet pakai bajunya." Cinta menyodorkan setelan piyama ke tangan Rey.
"Pake-in donk." Rengek manja Rey sambil mendudukan bokongnya di ranjang tepat dihadapan Cinta. Namun Cinta hanya tersenyum dan beralih pada lemari pakaian, merapihkan beberapan pakaian yang Rey ambil asal.
Rey menatap intens istrinya, Cinta sesekali melirik tatapan sang suami dan tertawa kecil, "apaan sih by.."
"Apa?"
"Cepet pake baju ngga?"
Rey mengambil pakaian dan memakainya "iya iya, galak banget sih. Jangan-jangan bener nih lagi hamil?"
"Ngga, ngga tau maksudnya. belum cek juga."
"Belum ada tanda-tandanya by." Cinta melangkah mendekati suaminya.
"Ada," jawab santai Rey yang kemudian berdiri dan mengancingkan piyamanya dibantu oleh Cinta.
"Apa?" wajah Cinta persis berada dihadapan Rey.
"Dadamu lebih besar dari biasanya." Spontan membuat Cinta harus mencubit pinggang suaminya. "Itu terus yang dipikiran kamu ih.."
"Ya emang itu salah satu tandanya kan?"
"Au ah.. udah cepet makan, nanti makanannya dingin lagi." Cinta meninggalkan suaminya yang masih mematung. "loh emang aku salah ngomong?" Kemudian Rey berlari mengikuti Cinta ke dapur.
__ADS_1
"Pokoknya jangan lupa, besok bangun tidur cek dulu, udah aku sediain banyak tespack di kamar." Ucap Rey lagi, ketika mereka sudah berada di meja makan.
"iya.. Hubby, bawel ih.." Nyengir Cinta menampilkan jejeran giginya. Rey tersenyum mengambil tangan Cinta dan menciumnya "semoga perempuan." Cinta langsung mengaminkan doa Rey.
"Kamu ga makan?" Tanya Rey yang setelah disadari hanya ada satu piring dan melihat Cinta yang hanya menyesap secangkir coklat hangat saja.
"Maaf, aku tadi udah duluan makan bareng Rayyan, soalnya laper banget."
"iya tak apa sayang."
Sebelum tidur, Rey dan Cinta masih berbincang ringan. Ini adalah ritual mereka setiap malam dan tidak jarang akan diakhiri dengan lenguhan panjang keduanya setelah penyatuan lama.
"Kenapa diam? aku menyakitimu?" Tanya Rey yang tengah mengusap perut sang istri di dalam pelukannya. Rey khawatir karena terlalu bersemangat, tanpa disadari menyakiti sang istri dengan kelakuannya yang bin*l saat bercinta.
"Engga by, aku hanya kepikiran Rayyan. Besok perdana Ray lomba membawa nama sekolah di luar."
"Kira-kira mentalnya siap ga ya by?" Cinta berkata lagi.
"InsyaAllah dia siap, kamu ga usah khawatir."
"Hmm.. beban dia berat loh by, ibunya pimpinan yayasan sekolahnya, ayahnya sukses dan terkenal. Dia pasti merasa harus menang, ga kebayang kalau ternyata dia kalah by. Berat memang menjadi anak yang mempunyai orangtua hebat, mereka harus menyeimbangkan, jika tidak, dunia akan mencemoohnya."
"Itu sebabnya aku memilihmu, karena aku yakin kamu bisa mendidiknya dengan baik dan menjadikan anak-anak kita tangguh."
"Aamiin.. dengan support kamu juga tentunya by."
"Pasti sayang." Rey mengeratkan pelukannya dan Cinta terlelap dalam pelukan hangat sang suami.
__ADS_1