Sang Pemilik Cinta

Sang Pemilik Cinta
masih punya peluang


__ADS_3

Andre mulai cemas karena seharian kemarin ponsel Rey tak bisa dihubungi. Ryan juga memberi kabar yang sama kepada Andre, bahwa 'papi Rey' itupun tidak bisa menghubungi anaknya berkali-kali.


"Ya ampun Rey, apa-apan ini." Teriak Andre yang melihat kekacauan didalam apartemen Rey. Banyak bekas pecahan kaca dimana-mana, Reypun dalam keadaan belum sadar masih tergeletak di sofa.


"Hey bangun Rey, lo kenapa?" Ucap Andre sambil menepuk pipi Rey untuk mencoba membangunkannya.


Rey membuka matanya yang sayu dan berkata dengan lirih "Cinta mau nikah sama orang lain ndre." Andre membantu Rey untuk bangun.


"Jadi seharian kemarin, lo mabuk?" tanya Andre dan diangguki Rey lesu.


"Urusan lo saat ini banyak Rey, bukan hanya sekedar tentang Cinta tapi lo punya masalah keluarga yang harus diselesaikan. Bokap lo teleponin gw mulu, dia khawatir banget sama lo karena ponsel lo ga aktif seharian."


"Gw kacau Ndre, gw ga siap denger kabar kalau Cinta dilamar orang."


"Sudahlah Rey, lo harus yakin kalau dia jodoh lo pasti akan ada jalan dia kembali sama lo. Sekarang fokus lo adalah beresin kekacauan di keluarga lo dulu. Tante Shinta dan Aletha makin seneng kalau liat lo kaya gini"

__ADS_1


Rey mendengarkan setiap perkataan sahabat sekaligus asistennya itu. Apa yang dikatakan Andre sangatlah benar, sudah separuh jalan Rey dan Ryan memberikan jera kepada orang yang selama ini mengincar harta mereka, bahkan mencoba mencelakai anggota keluarganya.


"Terima kasih Ndre," jawab Rey, masih dengan suara yang lesu.


"Gw tunggu lo dikantor Rey, dan ini.." suara Andre sambil menunjuk barang-barang yang berserakan "Gw panggil orang buat bersihin."


"Oke." Hanya kata itu yang dijawab Rey, kemudian berdiri perlahan menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya. Rey mengguyur dirinya dengan air hangat, membuatnya lebih relaks dan tenang. Dia menghembus nafasnya kasar, baru kali ini dia mengalah, biasanya dia selalu mendapatkan apa yang diinginkan.


Disisi lain, Aletha bingung bagaimana caranya menolong sang ayah yang terjerat kasus narkoba. Mengingat keuangannya yang sudah menipis, akhirnya terlintas di fikiran untuk menjual 10% saham atas namanya di RC Company.


Rudi sang kakek mendirikan RC Company dengan saham 60% miliknya dan 40% disebar keluar. Setelah Rudi tiada, 60% milik Rudy diwariskan untuk kedua putranya yaitu Roy dan Ryan yang kemudian mereka wariskan kembali kepada anak mereka masing-masing.


Keluarga Roy yang mewarisi 30% saham RC Company, dibagi untuk kedua putrinya, Aletha 20% karena anak pertama dan 10% untuk Alisha. Ini semua dibuat oleh Rudy, karena Rudy saat itu tidak mengetahui bahwa ternyata Aletha bukanlah cucunya dan Roy hanya memiiih diam.


Wacana Aletha untuk menjual separuh sahamnya diam-diam diketahui oleh Rey dan Andre. Rey membeli saham itu dan mensiasatinya dengan menunjuk orang kepercayaan Mario.

__ADS_1


"Beres," ucap Aletha ketika selesai menandatangai kesepakatan jual beli saham yang disaksikan oleh notaris dan perwakilan CEO.


"lo jual saham buat apa Al?" tanya Rey pura-pura tidak tahu.


"Buat mencari donatur ginjal papa." Alasan Aletha padahal sama sekali dia tidak pernah memikirkan kesehatan Roy.


Rey hanya menjawabnya dengan kata "oh" dari raut wajah yang dingin.


"Lo akan keluar dari sini secepatnya Al." Batin Rey menyungging senyum.


Diruangan Rey sudah ada Mario dan Andre "selamat bro." Tepuk keduanya bergantian pada bahu kanan Rey.


"thank you bro, ini semua berkat bantuan lo berdua," jawab Rey terharu, mengingat dirinya yang pernah kacau beberapa hari lalu.


"Gw baru tau tentang Cinta," sahut Mario "tenang Rey, sebelum ijab qobul, lo masih punya peluang." Ucapnya lagi, kemudian hanya dijawab dengan senyum paksa dari Rey.

__ADS_1


"mentoknya, pas pernikahan, doi kita culik," ucap Andre yang diikuti tawa Mario "ternyata ada sisi gila nya juga lo Ndre, hahahahaa..."


Rey tersenyum sedikit lalu berkata "Udahlah, ga usah dibahas."


__ADS_2