Sang Pemilik Cinta

Sang Pemilik Cinta
ada kata kata aneh


__ADS_3

Dret... dret.. dret... ponsel Cinta berdering


"Hallo," ucap Cinta dengan suara serak khas bangun tidur


"......"


"Iya hehehehehe, by the way ini siapa ya."


"......"


"Oh maaf, iya pak Mario, temennya pak Rey dan Pak Andre kan?"


"......"


"Iya pak eh kak, jam berapa."


"......"


"Oke, siap. makasih ka."


"....." tut.. tut.. tut.. sambungan telepon berakhir.


Cinta menatap jam dinding, "wah udh jam 11, udah siang aja." Batinnya.


Seperti biasa disetiap weekend atau sedang tidak ada kuliah, Cinta isi waktunya dengan bermalas-malasan dan bangun siang, terlebih lagi seminggu kemarin adalah minggu pertama paling melelahkan baginya.


Ternyata sepulang dari cafe semalam, Mario dan Andre menginap di apartemen Rey. Diruang TV, mereka berkumpul, Mario meraih ponselnya.


"Gue kabarin Cinta dulu ya."


"....."


"Hallo Cinta, tuan putri baru bangun tidur ya. udah siang loh ini."


"....."


"Ini Mario, baru kemarin kita kenalan."

__ADS_1


"......"


"Iya Cinta, seneng deh kalo manggil nama kamu." Mario langsung kena timpukan kacang oleh Rey, yang langsung diberi cibiran oleh Mario sambil mengusap kepalanya yang sakit akibat timpukan Rey tadi.


"....."


"Sore jam 4, kita jemput ya."


"....." telepon tertutup.


"Sialan lo Rey," ucap Mario.


"Lagi elo, pake ngegombalin cewek gue segala," sahut Rey.


"Jiah.." Jawab Andre dan Mario berbarengan.


"Udah bilang cewe lo aja," ledek Mario.


"Udah fix ini mah," celetuk Andre. Mereka bertiga pun tertawa dan saling meledek.


*****


"Di ajak main tenis sama kak Rey, kak Andre dan kak Mario," jawab Cinta.


Ferdi tidak asing dengan teman-teman Rey, pasalnya Ferdi memang sering melihat mereka bersama dikantor Rey dan dirumah Rey ketika Rey masih SMA.


"Oh begitu, keliatannya kamu sudah bisa langsung beradaptasi."


"Iya ayah, mereka semua baik," jawab Cinta.


"Iyalah, karena kamu anak ayah." Kata Ferdi kemudian mereka berpelukan dan Cinta pamit untuk berangkat karena didepan gerbang mobil Rey sudah menunggu.


Sesampainya di lapangan tenis, mereka sudah berada diarena dan siap tanding.


"Cinta kita partner ya, Rey sama Andre," ucap Mario.


"Ngatur aja lo," celetuk Andre.

__ADS_1


"Udah nurut aja pada," jawab Mario.


"Siap," ucap Cinta.


"Oke" kata Rey sambil membentuk lingkaran pada jempol dan telunjuknya.


"Plaak.. plaak.. plaak.." Suara dentuman raket dan bola tenis berbenturan.


"Yaaahhhh, sorry." Lemah suara Cinta karena dia ga berhasil membalas bola dari Rey.


"Yaahhh Cinta gimana sih, kita kalah lagi nih." Kata Mario.


"Pukulan kak Rey kenceng banget kak," jawab Cinta.


"Baru pukulannya Ta, ada lagi yang lebih kenceng nanti," sahut Mario.


"Apaan?" ucap Cinta spontan menoleh ke samping tempat dimana Mario berdiri dan "plaakkkk" bola menghantam tepat dikepala Cinta.


"Sssss.... Aaawwwww" teriak Cinta. Rey langsung melempar raketnya dan berlari panik menghampiri Cinta, pasalnya bola itu datang dari pukulan Rey


"Maaf sayang, kamu ga apa-apa kan?" sambil mengusap kepala Cinta.


"Ah.. apa?" dijawab Cinta dengan pertanyaan karena sepertinya ada kata-kata aneh yang keluar dari mulut Rey.


"Santai aja Rey, Cinta kuat," sahut Mario. Andre hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Rey terus mengelus kepala Cinta dan mendekapnya sambil menggiringnya ke pinggir lapangan untuk duduk.


"Ngg..gak apa.. apa kok kak," ucap Cinta gugup sambil mengambil tangan Rey dari kepalanya.


"Maaf ya." Senyum Rey, yang tanpa disadari tangan Rey sudah mengelus pipi Cinta. Dan merekapun berpandangan cukup lama.


"Ekheemmm... ada orang disini woy," sahut Mario.


"Ya udah kita istirahat, udah dua jam, capek juga." Ucap Andre yang diangguki oleh semuanya.


Cinta bingung, sungguh ini sudah kesekian kalinya Rey bersikap aneh. Cinta hanya selalu ingat dengan perkataan ayahnya.

__ADS_1


"Kak Rey seperti ini karena aku anak ayah." Batin Cinta.


__ADS_2