Sang Pemilik Cinta

Sang Pemilik Cinta
mencuri ciuman


__ADS_3

Setelah menyelesaikan makan siang berdua, Rey kemudian melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan sedang. "Kita kembali lagi ke kantor?" tanya Cinta.


"Ngga kita jalan-jalan aja menghilangkan penat, tadi kamu janji mau temenin kemanapun aku pergi hari ini," sahut Rey sambil senyum menolehkan kepalanya ke arah Cinta kemudian fokus mengemudi lagi.


"Kemana?" tanya Cinta.


"Kamu maunya kemana?" bukan dijawab malah Rey bertanya balik.


"Ke dufan? aku pengen teriak-teriak. Kalau weekday biasanya ga terlalu ramai," jawab Cinta seraya menampilkan jejeran giginya.


"Hmm.. boleh juga." Rey memutar setirnya untuk menuju ke arah yang Cinta sebutkan tadi.


Sesampainya mereka di tempat rekreasi itu, Rey memarkirkan mobilnya, benar saja karena hari ini hari kerja jadi terlihat agak sepi. Cinta langsung berlari kesana kemari seperti anak kecil yang sudah lama tidak diajak orangtuanya ketempat rekreasi. Rey yang melihatnya tersenyum mengembang "sungguh menggemaskan." Batinnya sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.


"Cinta, kapan terakhir kamu kesini?" langkah Cinta terhenti saat Rey bertanya setengah berteriak karena Cinta sudah berada agak jauh dari Rey "Kapan ya? SMA kayanya, waktu itu kesini bareng Inka, Melly dan Jessy merayakan kelulusan."


"Sekarang sama aku merayakan kelulusan juga," ucap Rey."


"Ah iya benar, merayakan wisudaku, trimakasih kak Rey." Sahut Cinta dengan nada yang sengaja dibuat lembut dan manja.


"Kak kita main ini!" tunjuk Cinta untuk permainan kora-kora dan diangguki oleh Rey.


"Aaaaaaa...." teriak kencang Cinta saat tengah berada dipermainan itu. Rey melihat ekspresi Cinta yang lucu, dengan menutup matanya sambil berteriak-teriak. Reypun mengikuti ekspresi Cinta.


Setelah melewati beberapa permainan di rekreasi tersebut, mereka berlari terengah-engah.


"Yeaahhhh.. aku menang," ucap Rey.


"Curang, kaki kak Rey panjang jadi larinya cepet. curang."

__ADS_1


"Hahahahahaha... salah sendiri kenapa pendek."


"Aku ga pendek sih, kak Rey aja yang kakinya kepanjangan."


"Hahahahahaha," tawa riang Rey. Sungguh ini hal yang tidak pernah Rey lakukan.


Setelah mereka lelah, mereka duduk asal di pinggir area jalan tempat itu, dengan arah pemandangan taman buatan.


"Tadi perjanjiannya yang kalah pasrah mau diapain aja," ucap Rey melepas keheningan sore itu.


"Iya, tapi jangan yang berat-berat ya permintaannya" jawab Cinta cemberut.


"Boleh peluk," sahut Rey ragu.


"Ah.. " kaget Cinta dengan permintaan Rey "ga boleh bukan muhrim."


"Nikah dulu."


"Yaudah besok kita nikah."


Cinta tersenyum tidak menjawab perkataan Rey, hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya


"Sini aku peluk, peluk doank ya kak," ucap Cinta.


Sebenarnya ini salah, tapi entahlah Cinta tidak pernah bisa menolak permintaan Rey. apa ini Cinta? atau sekedar perasaan kakak dan adik yang saling melengkapi saat dibutuhkan. Karena menurut Cinta, hidup Rey sangatlah membosankan dengan kerja kerja dan kerja, membangun bisnis keluarga dan menjaga kehormatannya. itu sangat melelahkan.


Rey mendekat, kaget ternyata permintaannya dikabulkan Cinta. Ketika melihat Cinta sudah berdiri, tanpa basa basi Rey langsung berdiri dan memeluknya dari belakang, kemudian Cinta memutar badannya dan dipeluk lagi dari arah depan. Durasi pelukan mereka cukup lama, kemudian saling bertatapan. Rey mulai mendekati bibirnya ke bibir Cinta


"Sudah" Cinta langsung memotong apa yang ada dipikiran Rey dan melepas pelukan. Sungguh Rey terlihat malu karena aksinya tidak tercapai.

__ADS_1


"Okeh kita lanjut lagi." Sahut Rey, kemudian mereka melanjutkan permainan yang belum mereka naiki.


"Setelah naik ini, kita cari musholla ya ka, kita belum sholat ashar," pinta Cinta yang langsung diangguki Rey.


Setelah puas dengan permainan yang ada di area rekreasi itu, mereka mencari musholla terdekat.


"Kak wudhu di sebelah sana!" Tunjuk Cinta pada penulisan 'wudhu pria'. Cinta wudhu membelakangi Rey.


"Jangan liat-liat kesini ya!" Ancam Cinta ketika ingin melepaskan separuh hijabnya untuk berwudhu.


"Klo ga sengaja ga dosa," canda Rey tersenyum.


"Itu mah bukan ga sengaja tapi niat," disahuti Cinta dengan cemberut.


Setelah Cinta selesai berwudhu dan berjalan ke musholla, didepan musholla Rey sudah menunggunya seperti seorang suami menunggu sang istri untuk sholat berjamaah. Rey berdiri menunggu Cinta dengan rambut yang basah, lengan kemeja digulung dan celana digulung semata kaki. "Ya ampun ganteng banget sih dia." Batin Cinta.


Setelah selesai sholat, mereka bermain lagi sebentar. Kemudian mereka mencari masjid besar untuk menunggu sholat maghrib berjamaah, makan malam diarea pantai ancol lalu bergegas pulang. Sungguh hari ini melelahkan namun sangat indah, terlebih untuk Rey dan begitupun cinta.


Sesampainya di depan rumah Cinta, Rey memberhentikan mobilnya. Rey melihat Cinta yang masih tertidur pulas walaupun mesin mobil sudah dimatikan. Rey mendekatkan wajahnya pada Cinta, nafasnya terhempas diwajah Cinta, kemudian arah pandangnya tertuju lagi pada bibir ranum Cinta.


Cup


Rey mengecupnya dua kali tanpa *******. pertama dikecup namun Cinta belum juga bergerak, kecupan kedua mulai ada gerakan dari tubuh Cinta. akhirnya Rey memundurkan badannya kembali pada tempat duduknya semula.


"Oh udah sampe ya kak?" suara serak cinta menoleh ke arah Rey.


"Kok aku ga dibangunin kak?" tanya Cinta yang hanya dibalas dengan senyuman oleh Rey.


"Dia ga sadar kalau aku sudah mencuri ciumannya." Batin Rey tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2