Sang Pemilik Cinta

Sang Pemilik Cinta
begitu bahagia


__ADS_3

Tok.. tok.. tok... "Rey.." Suara Vena dari luar kamar membangunkan Rey yang masih terlelap memeluk sang istri.


Rey bangkit dan memakai pakaiannya, melangkah menuju pintu.


Ceklek..


"Iya mom," sahut Rey.


"Mommy, papi dan Ferdi pulang duluan ya Rey," ucap Vena yang langsung diangguki Rey "iya mom."


"Cinta mana Rey?" tanya Ferdi.


"Masih tidur yah, sepertinya kelelahan jadi Rey tidak membangunkannya."


"Kamu apakan istrimu sampai kelelahan begitu Rey?" Ledek Vena.


"Mommy pake tanya segala, kaya kita ga gitu aja dulu." Celetuk Ryan yang diiringi tawa kecil keduanya juga Ferdi yang ikut tersenyum. Ferdi sangat bahagia melihat putri semata wayangnya itu bahagia.


"Ya sudah salam untuk Cinta ya nak." Kata Vena, kemudian memeluk Rey dan berkata dalam pelukan Rey "mommy bahagia melihatmu seperti ini, semoga selalu bahagia ya nak."


Setelah dirasa cukup, Vena melepaskan pelukannya dan Rey berkata "ini semua berkat doa mommy, terimakasih." Rey mencium tangan sang ibu.


Ryan juga memeluk putranya "tetap sering berkunjung kerumah ya."


"Siap pi."


Rey mengulurkan tangannya kepada Ferdi dan mencium tangan Ferdi lalu memegangnya seraya berkata "terima kasih ayah memberikan kesempatan pada Rey untuk menjaga Cinta, Rey akan selalu membuatnya bahagia yah dengan segenap hati."


"Ayah percaya kamu akan melakukannya nak" senyum Ferdi kemudian mereka berpelukan "terima kasih yah."


Setelah Rey menutup pintu kamarnya, tak lama pintu itu diketuk kembali. Ternyata pegawai hotel mengantarkan banyak makanan yang sudah dipesankan Vena karena Vena yakin kedua pengantin baru itu akan bangun kesiangan.


'Mommy is the best.' Batin Rey setelah membaca note yang ditulis sang mommy.

__ADS_1


Rey melihat sang istri yang masih tertidur pulas sambil miring memeluk bantal dengan ditutupi selimut.


"Sayang bangun, makan dulu yuk," ucap Rey lembut.


"Hmm..."


"Sayang.." Rey membuka selimut yang menutupi tubuh Cinta sampai pinggang.


Rey mulai mengelus dan mencium punggung mulus Cinta "sayang, makan dulu ya."


Tak ada Respon dari Cinta, akhirnya Rey menggigit pundak Cinta "Aaawww sakit kak."


"Lagian dibanguninnya susah banget sih." Senyum Rey yang dibalas bibir monyong Cinta.


"Masih ngantuk, hmm..."


"Iya tapi bangun dulu, kita makan sayang, ini udah siang, lambung kamu belum diisi nanti sakit."


Cinta melirik jam didinding kamar itu dan ternyata sudah jam 11. Kemudian Cinta bangkit walau masih terasa sakit disekujur tubuhnya terutama pada bagian kewanitaannya.


"Masih sakit? sini aku bantu," ucap Rey.


Cinta tersenyum melihat kesigapan suaminya "ini ulah kamu."


"Iya, makanya aku selalu siaga." Rey tersenyum menyeringai.


Rey menyuapi Cinta, walau awalnya Cinta menolak karena sepeti anak kecil saja disuapi. Namun Rey tetaplah Rey yang tak bisa ditolak, terlebih ia ingin sekali memanjakan sang istri yang telah membuatnya begitu bahagia.


Selesai menyuapi sang istri, Rey menggendongnya ke kamar mandi dan mendudukkannya di kloset.


"Sana, aku mau buang air kecil." Ucap Cinta sambil mengibaskan tangannya.


"Aku tungguin, setelah itu kita mandi bersama." Jawab santai Rey yang sudah mulai membuka bajunya.

__ADS_1


"Mandi bersama? Ngga aku masih sakit kak," rengek Cinta.


"Hanya mandi bersama sayang, karena kamu masih lelah jadi aku akan membantu membersihkan tubuhmu." Rey tersenyum licik.


Alih-alih membantu sang istri mandi, nyatanya Rey mengulangi penyatuannya semalam. Cinta tidak pernah bisa menolak sentuhan sang suami karena memang Rey melakukannya dengan sangat lembut, sehingga mampu membuat Cinta juga menginginkannya lagi dan lagi.


Dua minggu berlalu, Rey dan Cinta menjalani mahligai rumah tangga. Cinta masih dalam masa merampungkan kuliah S2nya. Namun tetap sebelum berangkat kuliah, Cinta memasak dan menyediakan keperluan suaminya terlebuh dahulu. Dari mulai membangunkan sang suami yang sering kesiangan karena hampir setiap malam Rey meminta jatahnya, kemudian menyiapkan air untuk Rey mandi, menyiapkan baju kerjanya dan merapihkan dasinya.


Semua Cinta lakukan dengan senang hati.


Rey menatap lekat sang istri yang tengah memakaikannya dasi.


"Apa hmm...?" tanya Cinta menaikkan alisnya sambil tersenyum.


"Ga kenapa-napa, emang ga boleh natap istri sendiri" senyum Rey menyeringai.


"Jangan bilang masih mau." Ledek Cinta yang sudah menyelesaikan ikatan dasi sang suami.


"Nanti kamu kesiangan."


"Ga apa-apa tinggal telepon Andre"


"Haish.. kasian tau kak Andre jadi bantalan mulu kalau kamu kesiangan atau ga masuk kerja."


"Emang udah nasib dia itu mah." Tawa Rey.


"Jahat." senyum Cinta mencubit pinggang suaminya.


"Udah sarapan yuk." Kata Cinta memegang tangan sang suami.


"Kiss dulu" Rey langsung menarik pinggang sang istri dan mel*mat bibir strawberry yang sudah menjadi candunya setiap pagi.


Rey menggendong belakang istrinya sampai dapur.

__ADS_1


Bi Siti pembantu dirumah Vena yang memang selalu datang seminggu tiga kali untuk bersih-bersih di apartemen Rey, melihat keharmonisan majikan yang telah ia rawat sejak kecil. Bi Siti tersenyum dan menggeleng kala memergoki keduanya tengah bercumbu.


Kini Rey lebih santun, ramah dan perhatian, dibandingkan sebelumnya yang cuek, dingin dan tidak banyak bicara. Memang cinta mampu merubah segalanya.


__ADS_2