
Cinta mulai membuka matanya, kedua tangan dan kakinya terikat dalam keadaan duduk di sebuah kursi rotan. Ia melihat Aletha tengah duduk di seberangnya.
"Oh tuan putri sudah bangun." ucap Aletha
"Apa salahku kak, mengapa kau lakukan ini?" tanya Cinta sedih
"Oh jadi kau tanya apa salahmu? Apa kau tak sadar, kau dan ayahmu sudah banyak mencampuri urusan kami hah," ucap Aletha sambil berteriak.
"Cih.." Aletha benar-benar sangat membenci Cinta. Benci karena Cinta juga telah merebut hati Rey.
"Maaf, sungguh saya tidak tau apapun." Suara Cinta gemetar, dadanya berdegup kencang. Ia tak tau nasibnya setelah ini, yang dia tau hanya bisa berdoa berharap Allah mendatangkan seseorang untuk menolongnya.
Diluar gedung yang sudah tak terawat itu, Rey dan Alif tiba bersamaan, dari kejauhan terlihat pabrik tua yang sudah tak digunakan puluhan tahun. Alif dan Rey memarkirkan kendaraannya jauh dari sana.
Mereka berdua berlari menghampiri gedung tak terawat itu, sesekali mereka bersembunyi dibalik tembok memastikan dirinya aman untuk bisa mendekati perlahan tempat Cinta disekap. kemudian sampailah mereka di lorong.
Langkah kaki Rey dan Alif terhenti setelah mereka dikepung banyak bodyguard yang bertubuh tinggi besar. Dengan lihai nya Alif dan Rey menghajar mereka satu persatu
"Rey, kau kedalamlah dahulu, biar ini aku tangani." Ucap Alif dengan posisi kuda-kuda dan langsung diangguki Rey. Rey berlari kencang menyusuri lorong yang pengap dan berdebu.
"Cinta.." Teriak Rey setelah mendapati Cinta yang tengah terikat duduk di sebuah kursi.
"Oh pangerannya sudah datang rupanya," ucap Aletha penuh benci.
__ADS_1
"Ringkus dia!" perinta Aletha pada bodyguard yang ada di dalam ruangan itu.
Bugh.. bugh.. bugh.. tendangan demi tendangan dilakukan Rey untuk merobohkan lawan, namun sayangnya jumlah mereka lebih banyak. Rey kalah, kedua tangannya sudah terkunci oleh lawan.
"Rey..." teriak Alif yang melihat Rey tersungkur.
Bugh.. pukulan tepat dibelakang kepala Alif, membuat Alif langsung tak sadarkan diri.
"Apa maumu hah?" tanya Rey berteriak.
"husshh.. pelankan suaramu sayang" bisik Aletha ketika ia sudah berada tepat dihadapan Rey
"Dasar keluarga gila, sampah!" ucap Rey kesal.
"Sebesar itukah kau membenciku Rey? Padahal sejak kecil aku selalu baik padamu, namun tak sedetikpun kau melihatku," lirih suara Aletha.
"Iya aku tau kita bukan saudara sepupu, oleh karena itu aku mencintaimu. sejak kecil aku menyukaimu, bahkan aku rela kuliah di LN dan belajar dengan bidang studi yang sama sekali tidak aku sukai. Itu semua kulakukan agar bisa selalu dekat denganmu."
Cinta hanya mendengarkan pertengkaran mereka, dan akhirnya mulai mengerti keadaan.
"Bisakah kamu melihatku Rey, lihat aku!" isak Aletha sambil mengguncangkan bahu Rey
"Cih.. Jangan mimpi," Rey menyeringai senyum dingin.
__ADS_1
"kamu lebih memilih dia?" Tunjuk Aletha pada wanita disebarangnya yang tak lain adalah Cinta.
"Dia jauh lebih berharga dari mu bahkan tidak seujung kukupun kamu bisa lebih baik darinya," ucap lantang Rey mengarahkan kepalanya ke arah Cinta.
"Penjaga.." teriak Aletha, kemudian bodyguard yang tidak sedang memegang Rey mendekati Aletha "siap bos."
"Kamu, kamu, dan kamu, kalian suka wanita ini," ucap Aletha ke arah Cinta
"Sukalah bos, cantik," ucap ketiga pria itu dan salah satunya mencoba memegang dagu Cinta.
"Stop, jangan kau sentuh dia!" teriak Rey.
"Bawa masuk wanita itu keruangan itu!" perintah Aletha dengan mengarahkan telunjuknya pada ruangan kecil yang ada disebelahnya.
"Mau apa kamu.. hah," teriak Rey.
"Mereka akan bersenang-senang Rey, kita akan menontonnya dan mendengarkan desahannya." Jawab santai Aletha.
Kepala Rey seakan ingin meledak, amarahnya benar-benar tak bisa membuatnya berpikir jernih. Ia terus bergerak berontak agar bisa terlepas dari kuncian ketiga pria yang memegangnya.
"tidak..tidak..tidak.. tolong.. jangan.." isak tangis Cinta semakin keras, ia semakin takut.
Ketiga pria bertubuh besar itu menghampiri Cinta, memaksa Cinta berdiri dan menyeret masuk kedalam ruangan itu.
__ADS_1
"Stop Aletha, suruh bodyguardmu untuk berhenti atau kau akan menyesal. Kau sentuh dia sedikit saja, ku pastikan aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri." Teriak Rey menggelegar dengan raut wajah yang sangat memerah.
"Aaagggghhhh..." teriak Rey lagi mengerahkan seluruh tenaganya untuk terlepas dari cengkraman pria-pria bertubuh besar itu.