Saya Pamit...

Saya Pamit...
Part 12


__ADS_3

Sudah 3 minggu Aleena dan Azriel tinggal di apartemen, selama itu pula Azriel selalu pulang lewat jam makan malam.


Aleena tak bertanya lebih jauh, karena jika dipaksa Aleena bertanya ia akan mendapat amukan dari Azriel.


Jangan lupakan, setelah pindah ke apartemen Azriel mulai bermain tangan kepada Aleena atau dalam arti kdrt, tubuh Aleena terdapat banyak luka memar bekas pukulan.


Ada satu waktu saat azriel pulang kerja, entah ada masalah apa dikantor hingga ia melukai tubuh Aleena dengan sebuah kater yang sampai saat ini masih terdapat bekasnya.


Namun, luka sayatan tersebut hanya Aleena terima beberapa kali saja dan itu pun ia berdoa supaya tak terulang lagi.


Lama kelamaan, luka-luka tersebut hanya meninggalkan bekas dan juga ingatan yang begitu kuat bagi Aleena.


Malam ini Azriel berum pulang dari kantor, karena sudah jam setengah 11 dan azriel belum pulang Aleena mepangkah kearah kamar.


Tak biasanya Azriel pulang sebegitu larutnya seperti saat ini pikirnya.


Aleena meringkuk mencari kehangatan namun matanya seolah tidak mau ditidurkan, hingga akhirnya terdengar langkah kaki dan racauan entah siapa itu.


Pikiran Aleena mulai kalut, ia sedang dilanda ketakutan karena saat ini dirinya berada di apartemen sendiri.

__ADS_1


Ya mungkin sebagian orang berfikir di apartemen itu penjagaannya ketat, namun bisa saja ada orang berniat buruk dan dapat mengelabuhi penjaga.


Pelan, Aleena bangkit dan mengintip keluar ternyata seorang berbadan tegap yang berjalan dengan sempoyongan mulai mendekat. Dan Aleena sangat yakin bahwa itu Azriel, suaminya.


"Bang Azriel kenapa?"


"jangan banyak tanya ambilkan aku air"


Menurut selalu itu yang aleena lakukan, segelas air putih kini sudah ia pegang namun disaat akan menyerahkan ke Azriel dengan kasar Azriel menarik tangan alee1na hingga terjatuh diatasnya.


"abang mau apa"


"shttt diam"


Bukannya melepaskan Azriel malah merapatkan pelukannya dengan Aleena. Lama terdiam Azriel mencium bibir Aleena dengan lembut hingga akhirnya menuntut.


Dan jadilah malam yang akan menjadi boomerang bagi Aleena, sebab ia yakin Azriel melakukan ini karena pengaruh dari alkohol.


...****************...

__ADS_1


Pagi menyapa, Aleena bangun dalan keadaan tak memakai apapun lagi. Tak terasa air matanya kembali turun, area bawahnya masih sangat sakit karena Azriel melakukan dengan sangat brutal.


Tidak ingin mengganggu tidur Azriel, Aleena pergi kekamar mandi dan menumpahkan tangisannya disana.


Puas menangis ia segera mandi karena waktu subuh hampir habis.


Matanya yang sembab terlihat begitu kentara karena aleena tak pernah memakai polesan make up setelah menikah.


"bang bangun, waktu subuh udah mau habis" setelah membangunkan Azriel, Aleena langsung pergi kedapur tanpa memastikan Azriel bangun terlebih dahulu.


Ia segera masak nasi goreng karena saat ini moodnya benar benar hancur, dan rasanya ia hanya ingin menangis dan rebahan saja.


Saat Azriel sudah turun dan menduduki kursi makan Aleena segera melayani dengan mengambilkan nasi goreng beserta minumnya, setelah itu ia menuju kamarnya dan berbaring di atas lantai tempat biasanya ia tertidur.


"dia kenapa, tidak sepertinya bersikap seperti itu. Apa mungkin dia marah karena semalam, kenapa harus marah kan saat itu aku dalam keadaan tidak sadar harusnya dia ngerti dong" begitulah Azriel ia tak pernah mau mengakui kesalahannya.


Tak ingin terlambat kekantor ia segera melahap masakan wanita yang berstatus istrinya itu, tak dapat dipungkiri nyatanya masakan Aleena sangat cocok dilidah Azriel.


Sarapannya telah habis, kini ia hendak mengambil tasnya yang kebetulan tertinggal dikamar.

__ADS_1


Betapa terkejutnya dia melihat istrinya meringkuk diatas lantai tanpa selimut ataupun bantal.


"apa aku keterlaluan? dia rela tidur dilantai karena ucapanku tempo lalu, bahkan dia tak pernah melawan apa yang aku lakukan padanya"


__ADS_2