
Malam diiringi rintik air hujan Aleena pergi meninggalkan apartemen mewah Azriel, dia akan menaiki bus dengan rute jakarta-malang.
Benar sekali, aleena memutuskan untuk tinggal di malang bukan tanpa alasan ia ingin masalahnya hanya dirinya dan Azriel yang tahu tidak dengan keluarganya ataupun keluarga Azriel.
Perjalanan dimulai, Aleena sengaja tidak mematikan ponselnya untuk menghilangkan rasa curiga dalam diri orang tuanya.
"Nak maafin bunda ya, udah jauhin kamu dari ayah. Nanti kalau udah besar kamu pasti paham, sekarang kamu tumbuh sehat dulu diperut bunda jangan nakal ya sayang, besok kita ketemu sama dokter okee"
...****************...
Saat ini Aleena sudah sampai di tempat kos yang akan ia tempati, tak terlalu besar namun cukup kalau hanya diisi oleh Aleena seorang.
Karena lelah diperjalanan Aleena merebahkan diri di kasur lantai yang sudah disediakan oleh pemilik kos.
Lama tertidur Aleena terbangun karena mendengar dering ponselnya,
"assalamualaikum na"
"wa'alaikumussalam buk, gimana kabarnya"
"alhamdulillah sehat nduk, kamu sehat kan"
__ADS_1
"alhamdulillah buk sehat"
"udah sarapan belum, jangan sampai telat"
"hehe iya buk, yaudah Leena sarapan dulu"
Aleena mengakhiri panggilan mereka, Aleena sudah berencana ia akan mencari lowongan pekerjaan dan sebelum mendapat gaji pertamanya nanti Aleena akan menggunakan tabungannya saat sebelum menikah dulu.
Kenapa tidak menggunakan uang dari Azriel saja? sejak menikah Azriel tak memberi nafkah dalam bentuk apapun kepada aleena, jadi selama ini ia hanya mengandalkan uang tabungannya dulu.
Karena cacing diperutnya sudah berbunyi, Aleena segera bangkit dan mencari makanan yang bisa ia makan pagi ini.
Sampai rumah dengan tak sabar Aleena segera memakan nasi pecelnya tadi.
Satu bungkus nasi pecel sudah kandas tak bersisa, Aleena segera mandi dan bersiap kerumah sakit memeriksakan calon anaknya.
Rencana aleena dia akan mulai melamar pekerjaan besok, dan nanti setelah pulang dari rumah sakit ia akan membuat CV karena menurut info dari media sosial yang ia stalking malam tadi ada beberapa butik yang membutuhkan karyawan.
Perjalanan ke rumah sakit Aleena putuskan untuk naik grab atau ojek online, begitu sampai dirumah sakit aleena langsung mendaftar ke salah satu suster asisten sang Dokter.
Dan disinilah Aleena merasa iba kepada dirinya sendiri, melihat pasangan lain bersama-sama dan antusias melihat bayi mereka membuat Aleena iri.
__ADS_1
Namun segera ia hapus pikirannya itu, ia mencoba berpositif thingking.
"mba, kok nggak diantar suaminya?" tanya seorang ibu yang duduk disamping Aleena, beliau juga datang sendiri dan baru saja duduk.
"suami saya lagi kerja bu" bohong Aleena, seburuk apapun suaminya bukankah sepantasnya ia tutupi.
"oalah, beruntung mbaknya masih punya suami dan bisa cek up bareng. Lha sedangkan saya, suami saya meninggal namun dia menitipkan putranya untuk saya"
"MasyaaAllah, yang sabar ya bu pasti suami ibunya seneng lihat ibu bisa kuat sampai dititik sekarang"
"ternyata Allah masih baik kepadaku dengan menitipkan calon anak dirahimku disaat ayahnya ada, walaupun tak diakui keberadaannya " diakhir katanya Aleena tersenyum miris
Obrolan ringan mereka terus berlanjut, hingga akhirnya Aleena dipanggil untuk periksa.
Sampai didalam ternyata sang dokter sudah menunggu, Aleena lekas duduk dan ditanya apa keluhannya selama hamil ini dan lain-lain.
Tibalah saatnya Aleena berbaring dibankar yang sudah disiapkan, perutnya diolesi gel setelah itu dokter menggerakkan alat usg-nya.
"wahh, ternyata dedenya sudah lumayan besar bu. Usianya kurang lebih 9 minggu, berat dan panjangnya sudah pas dengan usianya kurang lebih panjang janin 6 cm dan sudah terlihat seperti bayi. Ukuran kepalanya lebih besar daripada ukuran badan"
"MasyaaAllah" Aleena meneteskan air mata bahagianya ternyata diperutnya ada sosok kecil yang sedang tumbuh.
__ADS_1