
Pagi-pagi sekali Azriel berangkat ke kantor untuk meeting bersama Client nya dari jepang.
Tanpa berpamit dia langsung pergi, sekarang pun sifat Aleena sudah sedikit berubah ia tak terlalu masuk ke dunia Azriel setelah kejadian tempo hari.
Azriel pun merasa aleena sekarang sedikit berubah namun ia memilih untuk tidak peduli, dalam hatinya semoga Aleena tidak kuat dengan pernikahan ini dan akhirnya meminta pisah darinya.
3 bulan sudah berlalu, Aleena mulai mendisein beberapa gaun yang ia rencanakan nanti akan ia jajarkan disebuah bangunan bernama Aleena Collection.
Ya Aleena memiliki cita-cita memiliki butik sendiri oleh sebab itulah ia bekerja ditempat penjualan pakaian.
Saat hendak kekamar mandi dan melewati sebuah benda langka yang Aleena sendiri lupa kapan ia terakhir memakainya.
Berbelok arah tak jadi kekamar mandi Aleena mengambil ponselnya dan ternyata sudah dua bulan dia tak mendapat tamu bulanannya.
Untuk memastikan aleena pergi ke apotek untuk membeli alat tes kehamilan atau tespeck.
Setelah membeli beberapa Aleena segera pulang dan tak sabar ingin memakainya, jika menurut saran mbak penjaga apotek tadi dilakukan sehabis bangun tidur untuk memperoleh hasil akurat tapi tidak dengan aleena yang rasa penasaranya sudah memuncak.
Setelah menampung urine dan mencelupkan benda tersebut lalu menunggu seperkian detik, garis satu muncul membuat Aleena tersenyum tapi tak seberapa lama disusul oleh satu garis lagi yang nampak samar.
"ternyata kamu udah diperut bunda ya nak, kenapa cepat sekali tapi nggak papa sehat-sehat ya sayang kita berjuang bareng. Jangan nakal ya diperut bunda, bunda sayang adek" gumam Aleena mengelus lembut perutnya
__ADS_1
Terlupa jika benda tersebut masih Aleena tinggal di atas wastafel hingga sore hari.
Hari ini entah kenapa Azriel begitu malas Hingga ia memutuskan untuk pulang lebih awal.
Saat sampai rumah dan hendak membersihkan diri Azriel tak sengaja melihat sebuah benda yang membuat rasa ingin tahunya begitu memuncak.
Ia ambil alat tersebut dan garis dua terpampang jelas disana, mungkinkah ini milik Aleena?.
Tapi dengan siapa dia memalukan hal itu, bukankah Azriel hanya melakukannya sekali mungkinkan Aleena bisa langsung hamil.
Hingga pikiran negatif muncul dikepala Azriel, ia mulai menerka nerka kegiatan apa saja yang Aleena lakukan jika ia tak berada di apartemen.
"heh pelac*r, ini punyamu kan?" tanya Azriel menunjukkan benda tersebut
"iy-iya"
"sudah ku duga, wanita murahan sepertimu pasti haus belaian"
"tapi...
"sudahlah tutup mulutmu itu dan simpanlah kata-kata sampah mu itu aku jijik melihatmu, jangankan melihat tinggal satu atap denganmu saja rasa tak sudi"
__ADS_1
Deggg
Sakit memang dikatai seperti itu, namun tak ingin melukai calon bayi yang ada diperutnya Aleena tak berniat membalas ucapan azriel.
"Lebih baik kau pergi, jangan kotori apartemenku dengan keberadaanmu"
Ucapan Azriel semakin lama semakin bertambah pedas, sebelum akhirnya ia pergi dari apartemen.
Merasa tak berguna dan sudah diusir oleh azriel, Aleena segera membereskan pakaiannya dan menuliskan surat untuk Azriel ucapan pamitnya.
"*Assalamualaikum,
Maaf bang Aleena nggak sopan pamit kepada abang menggunakan surat seperti ini.
Kiranya dari dulu ada atau tidaknya Aleena, hadir atau perginya Aleena tak abang hiraukan maka sekarang Aleena pamit ke abang, Terima kasih atas luka yang sudah abang toorehkan, ucapan ucapan yang membuat Aleena tersadar siapa Aleena.
Jaga kesehatan bang, jangan hiraukan Aleena raihlah kebahagiaan abang. Semoga dengan perginya Aleena bisa membuat abang nyaman dan merasa tidak terganggu.
Terima kasih atas semuanya*, Saya pamit...
Aleena azkiya"
__ADS_1