
1 minggu dirumah Aleena, kini keluarga pradania memboyong Aleena untuk ke ibukota. Dengan berat hati Andi dan Laras melepas kepergian Putrinya.
"hati-hati ya ndok, jangan neko-neko turuti apa kata suamimu jangan pernah membantah karena sekarang dia yang lebih berhak atas dirimu"
"nggih buk"
Setelah berpamitan kini keluarga Pradania menaiki mobil yang siap untuk menyusuri jalanan. Saudara dari Erlin ataupun Restu sudah kembali beberapa hari yang lalu.
Tak terasa perjalanan yang memakan waktu lama kini usai, mereka sampai dimansion keluarga Pradania dengan selamat.
Karena sudah lelah seluruh anggota keluarga memasuki kamar masing-masing, begitu pula dengan Azriel dan Aleena.
Jika diluar kamar mereka akan bertingkah layaknya suami istri pada umumnya namun jika sudah berada dikamar maka itu semua sudah tidak berlaku. Sifat Azriel masih dingin dan arogan yang bertingkah semaunya kepada Aleena.
"Heh sini pijat kaki saya" panggil Azriel
"sebentar, biar saya bereskan barang-barang yang ada dikoper dulu"
"kamu dengar tidak, jadi istri harus nurut bukan seperti mu yang hanya bisa membangkang dan menyusahkan orang saja" bentaknya, tak pernah Azriel bertingkah manis dengan Aleena jika sedang berdua seprti ini, hanya cacian dan hinaan yang selalu Alena terima.
__ADS_1
"c*h beban" umpat Azriel
Dengan menunduk Aleena berjalan mendekat dan duduk dilantai seperti biasanya, ia mulai memijat kaki Azriel dengan menahan sesak didadanya.
"ya allah jika ini ujian kesabaran hamba maka hamba mohon perluas rasa sabar hamba, jika dibalik ini semua ada hikmahnya Insyaallah hamba ikhlas walaupun ini sulit dan menyakitkan" sekuat tenaga Aleena menahan diri agar tak menangis.
Bagaimana pun ia hanyalah perempuan biasa, yang butuh kelembutan dalam bersikap dan selalu diperhatikan serta dihargai.
Setelah memastikan bahwa Azriel sudah tertidur dengan sempurna, Aleena mulai bangkit dan membersihkan diri.
Usai membersihkan diri dan dirasa kamar sedikit berantakan ia dengan cekatan membersihkan mulai dari menata ruangan hingga menyapu dan mengepel.
"loh kak, bang azriel mana" tanya Azkara
"masih diatas, mungkin beliau lagi ada kerjaan" jawab Aleena mulai menuju dapur.
"biar saya bantu bu" ucap Aleena kepada salah satu Art keluarga pradania
"tidak usah non, nanti dimarahin ibuk"
__ADS_1
"nggak kok, biar nanti saya yang ngomong ke buna" Aleena mulai terbiasa memanggil Erlin dengan sebutan bunda.
Setelah negosiasi dengan sang art Aleena langsung terjun kedapur menyiapkan menu makan malam, jika disini ia disuguhkan banyak bahan makanan maka dulu ia hanya disuguhkan bahan yang pas-pasan meski begitu Aleena tetap bersyukur setidaknya ia masih bisa makan dengan lauk yang layak.
"kak ngapain disitu biar Mbok Sri yang ngerjain, kakak kesini aja" panggil Azkara.
Bagi Azkara ke dapur adalah hal yang patut dihindari, sebab jarang sekali ia kedapur untuk memasak.
lebih tepatnya setelah insiden hampir terbakarnya dapur saat Azkara masih berusia 13 tahun. Saat itu ia tengah menggoreng ayam, namun tak lama terdengar suara ponselnya yang berdering.
Dengan spontan ia lari mengambil ponselnya dan meninggalkan ayam yang masih berada diatas wajan dengan api yang menyala.
Pada saat itu belum ada asisten rumah tangga, jadilah semua pekerjaan hanya buna erlin yang mengerjakan.
Mulai saat itu Restu dan Erlin melarang Azkara untuk kedapur sebab yang ditakutkan bukan hanya kebakaran namun juga keselamatan sang ratu pradania tersebut.
"nggak papa, biar cepet selesai. sini" ucap Aleena dengan mengajak Azkara
"dia mah jangan diajak kedapur nduk bisa kebakaran nanti rumah ini" sahut bunga yang datang bersama suaminya
__ADS_1