
"*sayang..... "
"wa'alaikumussalam bang*" sindir Aleena, sering kali seperti ini
"*eh iya lupa, assalamualaikum cantiknya abang"
"wa'alaikumussalam, kok belum tidur? udah maleh loh bang*" bagaimana tidak heran saat ini sudah pukul setengah 11 malam dan Azriel masih sangat cerah matanya belum ada tanda-tanda ia mengantuk.
"nggak bisa, kan biasanya sama adek" hehhh, belum ada 24 jam sudah mengatakan seperti itu
"ck ck bang, dulu aja bahkan nggak mau deket-deket eh sekarang gimana tuh konsepnya" bukan bermaksud mengungkit cuma ya menyadarkan Azriel saja dulu sebelum Azriel menerima Aleena dia menyuruh aleena jauh-jauh darinya.
"sayang, jangan diungkit lagi kan abang udah minta maaf dan adek udag janji maafin abang lho" ucap Azriel sendu, dirinya akan merasa bersalah apabila sudah mengingat apa yang pernah ia lakukan dulu.
"yaudah gih sekarang tidur, adek udah ngantuk loh" sahut Aleena apa adanya, buna Erlin beserta papa Restu dan Azkara tadi tidak menginap jadilah setelah beliau pulang Andra rewel mengantuk.
"jangan dimatiin ya yang, abang nggak bisa tidur loh" rengek Azriel saat Aleena mulai bersiap tidur.
"*tapi jangan berisik, nanti kalau adek tidur duluan matiin ya telponnya"
"hem*"
.
.
__ADS_1
.
Satu malam atau lebih tepatnya 5 jam ponsel mereka saling terhubung, namun saat Aleena bangun untuk sholat malam ia matikan sambungan telepon tersebut.
Setelah sholat Aleena membaca al-qur'an untuk menunggu waktu subuh, meski tersadar ia belum selancar para ahlul Qur'an tapi aleena tetap belajar untuk menjadi lebih baik lagi.
Adzan subuh berkumandang, sambil menunggu adzan selesai Aleena meneruskan bacaan ayat demi ayat al-qur'an yang sedang ia baca.
Hingga setelah melaksanakan sholat subuh Aleena bangkit dan menuju ke dapur untuk memasak beberapa lauk dan sayur. Meski ada asisten rumah tangga Aleena tetap memasaknya sendiri untuk asupan putranya dan juga bekalnya ke butik nanti.
"sini biar mbok aja non"
"nggak papa mbok biar Aleena aja"
"yaudah mbok mau beresin taman belakang dulu"
Akhirnya kini masakan yang Aleena masak pagi ini sudah terhidangkan, ia hanya memasak ayam filet saus asam manis dengan sayur sop dan tidak lupa ayam goreng kesukaan Andra.
"huaaaa, unda ana cih dede ditigal"
"eh gantengnya bunda udah bangun, bentar hop disitu jangan turun oke" teriak Aleena memberi intruksi pasalnya Andra sudah akan menginjakkan kaki di tangga
"dede tatut dili"
"Kenapa sih, jagoan bunda kok nangis"
__ADS_1
"diem dulu kita mandi okee"
"dak au, ninin"
"kata siapa, bunda udah mandi nggak dingin kok kan pake air hangat"
"anan ama ya"
"oke, ayo kita mandi habis itu mam sama mbak okee"
"he em"
Beginilah kadang Andra, jika tidak ada siapapun disaat ia membuka mata akan menangis mencari sang bunda atau ayahnya.
"yayah ama banet dak uwang uwang, dede tanen banet" keluh Andra saat sudah di kamar mandi
"kan baru kemarin ayah perginya nak, jadi pulangnya masih tunggu beberapa hari lagi"
"adla mau mam etim tama yayah ati ya"
"iya nanti ya"
Sekarang sudah jarang sekali mereka ribut, mungkin si biang tukang ajak ribut takut dengan pawangnya pasalnya tak jarang Aleena mengomel dan berakhir Azriel tidur disofa atau dikamar lain.
Tapi tidak setega itu juga sih Aleena, dia akan menyuruh Azriel pindah disaat tengah malam. Sebenarnya bukan Azriel saja yang sudah nyaman melainkan Aleena juga.
__ADS_1
"Unda tepet, ada tuling tuling nini"
#apaan tuh ndra tuling tuling