
"assalamualaikum pak"
"wa'alaikumussalam loh ndok, pulangnya kok mendadak?" sahut pak Andi dengan berusaha duduk
"udah bapak tiduran aja ya, jangan capek-capek"
"cucu bapak nggak diajak?"
"ada, andra masih tidur pak mungkin kelelahan di perjalanan tadi"
Obrolan Aleena dan pak Andi seperti tiada habisnya banyak wejangan yangg pak Andi berikan kepada putrinya.
Malam mulai menyapa, rintik hujan membasahi malamnya hari ini.
Di dapur Aleena dan bu Laras menyiapkan makan malam, sementara Azriel dan Andra tengah menemani pak andi.
"Zriel, suatu saat bila bapak udah nggak ada bapak titip Aleena sama ibuk ya bapak serahin tanggung jawab itu kepada kamu bapak harap kamu bisa membahagiakan mereka"
"bapak semangat buat sembuh ya, jangan ngomong gitu"
"pokoknya kamu harus janji sama bapak zriel"
"Insyaallah, azriel bakal melindungi Aleena dan ibuk. Tapi bapak harus berjuang untuk sembuh juga"
Menjengar jawaban menantunya ada rasa lega dihati pak Andi, beliau sudah tidak was-was lagi bila akan dipanggil sang kuasa untuk menghadap dipangkuannya.
Memang dua minggu terakhir pak Andi merasa ada yang aneh di tubuhnya, beliau pernah mendengar ciri ciri seseorang yang akan menghadap ilahi.
Setelah makan malam nafas pak Andi terlihat tak beraturan, jika sebelumnya tidak terlalu terdengar jelas maka saat ini pun orang disekitar mampu mendengar.
Dan juga saat beliau tidur pun beliau mengigau, jadilah harus ditemani agar beliau tak sampai mengigau berlebih.
__ADS_1
Bukan hanya hari ini namun seminggu sebelumnya beliau mulai merasakan itu,
"bang.. " bisik Aleena
"apa?" jawab azriel tak kalah berbisik, meski saat ini mereka diluar kamar dan Andra pun nampak antrng tak seperti biasanya.
"emm kayaknya bapak butuh oksigen deh, atau kita panggilkan dokter aja"
"tapi ini udah malem sayang, kalau dokter pun belum tentu mau untuk datang dan untuk membawa bapak keluar abang nggak tega soalnya udara malrm nggak baikkan" jelas azriel
"terus gimana bang, demi apapun Aleena nggak tenang banget"
"abang coba hubungi anak buah dan kawan abang di magetan aja barang kali ada tabung oksigennya"
Tak lama setelah perbincangan mereka banyak tetangga dan kerabat yang menjenguk pak andi mulai kemarin.
Karena masih pukul delapan malam jadi masih memungkinkan untuk mencari tabung oksigen.
Jarum jam terus berputar, beberapa tetangga mulai berangsur pulang tapi saudara dekat bu laras dan pak andi memilih untuk tidur disini.
Pukul 11.13 beberapa orang suruhan Azriel tak ada yang menemukan tabung oksigen meski sudah berputar wilayah magetan.
Disaat yang bersamaan pak Andi bangun dan dengan sigap Aleena dan bu Laras memberikan beliau minuman sereal karena beliau mengeluh lapar dan haus. Namun karena tak ingin memakan nasi beliau meminta sereal tersebut.
"udah buk bapak udah kenyang"
"yasudah pak tidur lagi aja"
Aleena, Azriel dan bu Laras semalaman tak tidur sama sekali, juga ada beberapa saudara yang turut ikut begadang.
Beberapa kali pak andi bangun dan meminta minum, hingga akhirnya kini waktu menunjukkan pukul 03.16 pak andi kembali terbangun untuk yang kesekian kali.
__ADS_1
Setelah meminum sereal setengah gelas disusul air putih setengah gelas beliau tak langsung tidur kembali.
"pak, kok nggak tidur lagi masih pagi banget istirahat lagi pak" ucap Aleena lembut
"iya pak, nanti kalau sudah pagi biar ibuk belikan bubur buat sarapan" lanjut bu Laras
Tak ada jawaban apapun namun seulas senyum pak Andi berikan kepada sang istri, putrinya dan menantunya.
Hingga pak andi kembali menutup mata dengan damai, setelah itu bu laras berdiri untuk sholat malam disusul azriel yang bangun dari duduknya untuk ke kamar mandi.
Dengan posisi yang masih memijat kaki sang bapak Aleena mulai menyadari sesuatu, kaki bapaknya berubah menjadi dingin.
Ia berpindah memijat tanggan pak andi.
"pak, bapak" suara parau aleena dengan memegang tangan sang bapak
"laailaahaaillallah muhammadurrasulullah, allah ya pak allah gitu pak ikutin aleena ya pak allah" hampir saja satu tetes air mata jatuh
Melihat Azriel keluar dari kamar mandi aleena langsung memanggilnya.
"bang bapak kenapa" mendengar suara sang istri azriel langsung mendekat, tangannya ia dekatkan ke hidung bapak mertuanya.
"innalillahi wa inna ilaili roji'un, bapak udah nggak ada sayang"
jdeerrr
Bagai ribuan belati menusuk hati aleena, disitu dunianya runtuh sosok panutan yang selalu memberinya banyak wejangan telah pergi, sosok pahlawan hidupnya meninggalkannya.
Didekat pintu masuk kamar tubuh bu laras seketika merosot ke lantai. Ingin sekali beliau mengatakan ini mimpi kan, namun melihat wajah pucat suaminya membuatnya menangis hingga beberapa saudara terbangun.
Pagi dini hari, bapak andi hartanto menutup usia.
__ADS_1
Setelah disiarkan di masjid banyak pelayat yang hadir untuk mengucapkan bela sungkawa, tak lupa buna erli dan papa restu serta keluarga besarnya turut datang meski belum sampai.
Tangisan Aleena seakan tak bisa dicegah, untung saja andra tak rewel bersama salah satu saudara aleena dan laila.