Saya Pamit...

Saya Pamit...
Part 29


__ADS_3

Aleena terbangun pukul 3 dini hari, saat ia membuka mata pemandangan pertama yang ia lihat adalah Azriel dan Andra.


Seperti mimpi namun ini sangat nyata karena Aleena kembali teringat dengan sifat manja Azriel yang mulai terlihat.


Tapi entah kenapa dalam hatinya belum bisa menerima Azriel sepenuhnya seperti dulu, mungkin masih butuh proses.


Aleena bangkit dan berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu, setelah itu ia mulai rutinitas yang Insyaallah sudah setiap hari ia lakukan setelah hijrah ini.


Namun ketika baru saja menyelesaikan sholatnya, ia melihat pergerakan dari Andra yang sudah bersiap untuk menangis.


Sebelum menangis Aleena segera mendatangi dan mengangkat putra kecilnya.


"haus ya sayang, atau mau sholat sama bunda nak" aleena sengaja menyelipkan obrolan singkat ketika dengan putranya.


Di mulai mengasihi putranya dengan posisi duduk di sofa, mukena yang ia pakai untuk sholat tadi pun belum ia lepas.


.


.


.


"*hallo assalamualaikum buk, maaf mengganggu ibuk bisa datang ke butik tidak ini ada rapat yang tidak bisa di wakilkan"

__ADS_1


"wa'alaikumussalam dit, sebentar saya siap siap dulu"


"iya buk, assalamualaikum*"


"buna.. " panggil Aleena


"hari ini Aleena titip andra ya bun"


"kamu mau kemana" tanya Azriel yang berada disebelah aleena, memang saat ini mereka tengah menikmati sarapan pagi.


"tadi Dita telfon, dia kasih tau kalau nanti ada rapat yang tidak bisa di wakilkan jadi harus Aleena sendiri yang menghadiri"


"boleh dengan senang hati kok buna jaga Andra, lagian nanti buna juga nggak ada mau pergi"


Azriel belum berani banyak tanya kepada Aleena, bahkan saat berbicara dengan Aleena pun ia sangat berhati hati takut takut nanti kalau ada kata yang menyinggung perasaan Aleena.


Kini Aleena sudah sampai di butiknya, ia berangkat dengan Azkara. Jika kalian bertanya apakah Azkara bisa mengendarai mobil? jawabannya bisa dan lagi kenapa Aleena nggak bawa mobil sendiri aja seperti dulu saat di malang? Aleena belum terbiasa atau mungkin masih kagok jadi dia memilih nebeng dengan Azkara karena memang satu arah.


"beneran ini punya kakak?"


"alhamdulillah"


"wah besar banget, pengen deh mampir kesini"

__ADS_1


"yaudah ayo masuk"


"tapi kan ara masih mau kuliah"


"kalau gitu nanti pulang kuliah mampir kesini, biar kakak yang traktir"


Butik Aleena sudah menambah dua ruko yang ada disampingnya, kemajuan yang sangat pesat karena teknik marketing Aleena yang juga luar biasa.


Selain ia buka ofline Aleena juga menjual koleksi butiknya di online, yang pembelinya sudah banyak umtuk saat ini.


Memasuki butiknya Aleena sudah disambut oleh Dita dan langsung berjapan beriringan ke ruangan rapat dan disana sudah ada perwakilan dari perusahaan dirgantara group.


Karena pimpinan perusahaan dirgantara group masih tergolong muda, seusia Azriel mungkin.


Sepanjang rapat Grafello Raditya Dirgantara terus saja memandangi wajah Aleena yang polos tanpa make up, tidak terlihat seperti ibu anak satu lebih tepatnya seperti gadis.


Radit sendiri mengakui kemampuan Aleena sangat perlu diapresiasi.


Rapat hari ini mereka akhiri dan akan ada lagi pertemuan selanjutnya sekitar dua hari lagi, jadilah Aleena harus pergi kekantor lagi.


Tidak menyiakan kesempatan Radit meminta nomor ponsel Aleena dan mereka saling bertukar nomor ponsel.


"terima kasih bu Aleena, semoga pertemuan selanjutnya kita dapat menjalin kerja sama"

__ADS_1


"Amiinn pak Radit, terima kasih juga sudah mau singgah di butik kecil kami ini" jawab Aleena merendah


__ADS_2