
"saya terima nikah dan kawinnya Aleena azkiya sabrina binti Andi hartanto dengan maskawin tersebut dibayar tunai"
"bagaimana para saksi"
"Sahh"
Begitulah kiranya prosesi ijab qabul dengan Aleena yang masih berada didalam kamarnya sebelum nanti akan dijemput oleh ibu dan mertuanya.
Azriel, meskipun ia tak menerima pernikahan ini ia tetap melantunkan janji suci dengan tegasnya, karena saat ini ia sudah berjanji dihadapan sang tuhan.
Tak lama aleena dituntun menuju tempat ijab qobul dan didudukkan di samping Azriel, pak penghulu menuntun agar mereka bersalaman dan untuk Azriel mengucapkan doa sembari memegang ubun-ubun Aleena.
Sesi poto pun terlaksana, banyak pose yang dilakukan Aleena dan Azriel. Hingga tak terasa kini saatnya Aleena di make up untuk acara resepsi nanti.
Dengan menggunakan adat jawa Aleena sudah nampak cantik dengan polesan make up yang tidak terlalu tebal.
Acara resepsi dimulai karena tamu sudah berdatangan hingga kursi-kursi yang disediakan penuh.
Kedua mempelai dikawal dengan 2 gadis kecil yang sering disebut putri patah, 2 remaja putri yang disebut putri domas dan 2 remaja putra yang disebut manggolo.
Tak lupa dengan orang tua Aleena dan Azriel yang berada dibelakang mempelai.
__ADS_1
Sampai dipelaminan pengantin didudukkan dikursi yang sudah disediakan begitu pula dengan orang tua dan dua gadis kecil tadi.
Seharian mereka lewati dengan prnuh kebahagiaan, sungguh momen yang pertama dan terakhir bagi andi dan laras karena aleena merupakan putri tunggal.
Malam menyapa tak seperti pasangan pengantin baru pada umumnya, malam ini di kamar aleena suasana nampak mencekam. Aura dingin Azriel tampak dengan jelas, membuat Aleena menelan ludah takut.
Selesai membersihkan diri dan hendak menaiki ranjang aleena dikagetkan dengan suara tegas dan dingin milik Azriel.
"Jangan harap kita bisa tidur seranjang, saya yang tidur diatas dan kamu tidur dilantai sana" Memang dikamar Aleena tidak terdapat sofa atau pun kursi panjang, hanya ada karpet yang tak terlalu tebal dilantai bawah.
"Ta-tapi..
"nggak ada tapi-tapi an, kamu harus nurut dengan saya. Buang pikiran kotormu itu jauh jauh saya tidak sudi seranjang denganmu"
Ternyata Azriel pun sama tertekannya dengan pernikahan ini, pikir Aleena
"baik" jawab Aleena singkat
Alena mulai meringkuk diatas karpet tak terlalu tebal tesebut, tak ada bantal ataupun selimut sebab Aleena hanya memiliki tiga selimut dan saat ini banyak keluarga yang menginap jadi tak mungkin semua selimut nya tersimpan didalam lemari.
Hawa dingin malam menusuk hingga tulang aleena, begitu dingin hingga bulu kuduknya ikut berdiri.
__ADS_1
Sedangkan diranjang Azriel tengah tidur dengan pulasnya, tak ada dalam pikirannya untuk memberikan sebuah bantal ataupun selimut yang ia kenakan kepada Aleena.
"huhhh dinginn..." racau Aleena dalam keadaan tidur, terasa sampai alam mimpi hingga membuat Aleena mengigau.
"dingin..."
"heh bisa diam nggak, malam itu waktunya untuk beristirahat bukan untuk meracau tak jelas sepertimu" bentak Azriel merasa terganggu, sebenarnya suara Aleena sangatlah lirih namun entahlah hingga sampai ke telinga Azriel.
Pukul empat pagi Aleena sudah bangun, dengan kepala sedikit berat tetap ia paksakan untuk melaksanakan kewajibannya kepada yang maha kuasa.
Setelah sholat subuh, ia berniat membangunkan Azriel untuk sholat namun responnya sungguh membuat hati aleena tercubit.
"em bang, sudah waktunya sholat subuh"
"saya juga tahu, cepat siapkan air hangat untuk saya mandi serta siapkan baju yang nanti saya kenakan"
"em iya"
"oh ya pembantu, nanti jangan lupa baju kotor ku kamu cucikan sekalian"
Heh bagaimana tidak sakit hati bila dikatai seperti itu oleh suaminya sendiri.
__ADS_1
Tak ingin terlalu banyak mendengar kata-kata yang kurang pantas, Aleena segera pergi menyiapkan air hangat untuk lelaki yang berstatus suaminya tersebut.
Sampai kamar mandi tak terasa butiran bening lolos dari pelupuk mata Aleena, baru satu hari menikan ia sudah mendapatkan ini semua. Bagaimana nanti pasti akan lebih parah lagi.