
"padahal papa sama buna udah pengen banget lo gendong cucu" tambah buna Erlin
"apalagi adek, nggak sabar banget" sahut Azkara
"sabar dong pa, bun emang belum diaksih aja kok"
Sekitar pukul sembilan lebih sedikit Azriel berpamit untuk pulang ke apartemen dengan masih beralaskan kasihan Aleena sendirian.
Sedangkan buna Erlin dan Azkara sudah bersiap untuk ke apartemen aleena mengantarkan soto yang diinginkan cucunya.
Tentunya papa Restu tidak membiarkan dua wanita kesayangan nya itu pergi sendiri, beliau siap menjadi bodygord untuk mereka.
Tak membutuhkan waktu lama mereka sampai di apartemen Aleena, ternyata hanya ada Naya yang sedang menonton televisi serta menyetrika baju, katanya Aleena baru pulang beberapa saat lalu dan memintanya untuk tetap disini dalam arti jangan tertidur dulu sebab Aleena sudah memesan makanan untuk dirinya sendiri dan juga naya.
"aleena baru pulang nay?" tanya buna Erlin
"iya bu, katanya ada pekerjaan tadi"
Setelah menunggu hampir lima belas menit, Aleena keluar kamar dirinya belum menyadari hadirnya kedua mertua beserta adik iparnya.
"loh buna"
__ADS_1
"iya, kamu baru pulang kerja ya?"
"iya buna"
"jangan terlalu malam untuk mandi, nggak baik untuk kesehatan mu dan juga calon baby nya"
"iya buna, tadi kebetulan ada beberapa urusan"
"yaudah ini dimakan sotonya, udah buna angetin lagi tinggal makan mumpung masih panas"
"buna kok repot repot sih, padahal besok niatnya Aleena mau kesana"
"nggak repot kok na, jangan sungkan" kini ganti papa Restu yang menyahut
Pagi ini Aleena bangun sedikit lebih siang daripada biasanya, malam tadi buna Erlin pulang setelah pukul setengah 11 dan dia pun baru bisa tidur ketika pukul dua dini hari tadi.
aleena tak terlalu buru-buru karena sekarang dirinya lebih harus berhati hati mengingat tinggal menghitung hari kelahiran baby boy nya.
Menginjak trimester ketiga Aleena juga merasa dirinya lebih mudah lelah, tapi mungkin itu normal untuk ibu hamil pikirnya.
"masak apa Nay?" tanya Aleena saat menuruni tangga, apartemen nya memang berlantai dua ya ges ya.
__ADS_1
"masak nasi sama sayur bobor bayam aja mbak"
"eh ada tempe goreng juga deng"
Aleena dan Naya sama sama orang jawa, jika Aleena berasal dari Magetan maka Naya berasal dari Jogja. Jadi tak jarang mereka menggunakan bahasa jawa namun halus dalam komunikasi setiap harinya.
"Sini biar mbak bantu" ucap Aleena
"udah selesai ko mbak, mbak duduk aja kasian dedeknya"
Usia mereka hanya terpaut beberapa bulan saja, tentunya lebih tua Aleena daripada naya.
Disini pula Naya merasa dirinya mempunyai keluarga karena sejujurnya dia adalah anak yang broken home, ayah dan ibunya berpisah sejak dia menginjak kelas 8 smp.
Orang tuanya pun sibuk dengan urusan mereka sendiri, hingga Naya merasa dirinya terabaikan. Dia juga memiliki seorang adik yang ikut ibunya namun entah kenapa ibunya tak mengajaknya juga.
Harus berfikir dewasa diusia yang masih remaja membuat Naya menjadi seorang pendiam jauh berbeda dengan dulu.
Dia yang memang hanya tamatan sma tentu kesulitan saat akan mencari pekerjaan, namun tuhan masih berbaik hati padanya hingga dia bertemu dengan buna Erlin dan diminta untuk menjadi teman untuk Aleena yang nanti juga akan beliau gaji.
Sebenarnya bisa saja naya berjualan kue seperti dulu saat ia sekolah, namun penghasilan yang tidak seberapa membuatnya mencari pekerjaan lain.
__ADS_1
Naya bekerja bukan tanpa alasan, dulu ayah dan ibunya tidak pernah memberi uang bulanan kepadanya termasuk uang biaya sekolah.
Jadilah dia berusaha untuk berjualan sepulang sekolah, dan juga ada beberapa kotak yang ia titipkan dikantin sekolah.