Saya Pamit...

Saya Pamit...
Part 19


__ADS_3

Rasa bangga tentu ada bagi Laras, sekarang putrinya sudah menutup aurotnya dan dia berdoa semoga Aleena bisa Istiqomah.


Karena sejujurnya sudah dari lama Laras memiliki keinginan agar Aleena bisa menutup aurotnya. Sebenarnya dirinya juga belum bisa dikatakan lebih baik dari Aleena namun semua manusia khususnya para ibu pasti memiliki harapan dan keinginan yang baik untuk putra putrinya.


Di mansion Pradania, Azkara sedang mengirim chat kepada Aleena untuk bertemu, lama tak dibalas membuat Azkara kesal.


Namun akhirnya masuk sebuah notif dari aleena, dan ternyata Aleena mengizinkan.


"yee, siap siap ah abis itu berangkat" sangat semangat memang karena hampir 8 bulan tidak bertemu dengan Aleena.


"mau kemana dek?" tanya Erlin


"mau ketemu kakak" singkat Azkara karena masih fokus dengan ponselnya


"kak Aleena?"


"iya buna sayangg"


"memang boleh sama bang Azriel"


"kemarin kemarin kan aku izinnya sama bang Azriel jadi nggak boleh, terus hari ini coba chat kak Leena boleh kok"


"bunda ikut yuk"


"yuk"


Mereka begitu antusias dan mulai menjalankan mobil yang dikendarai oleh Erlin, memang mereka tak bertemu di apartemen Azriel, kost Aleena ataupun butik milik Aleena.

__ADS_1


Mereka bertemu di salah satu cafe yang tak jauh dari butik maupun dari mansion.


Sejujurnya Aleena belum siap bertemu dengan keluarga Azriel, namun jika Aleena terus terusan menolak mereka akan curiga ada apa yang sebenarnya terjadi.


Karena datang terlebih dahulu Aleena langsung memilih tempat duduk namun belum memesan menu disana.


Tak lama kemudian erlin datang bersama Azkara, mereka berjalan dengan riang.


"assalamualaikum buna"


"wa'alaikumussalam MasyaaAllah na, cantik banget" puji buna Erlin dan Aleena hanya tersenyum.


Erlin memang juga berhijab namun belum dengan Azkara, mungkin perlu proses karena kan semua tak instan.


"kangen banget sama kakak, kata kak Azriel selalu nggak boleh waktu mau ketemu kakak" adu Azkara dengan akan memeluk Aleena.


"beneran sayang, kok nggak bilang buna?" tanya buna Erlin, sesaat aleeAleenana tersenyum getir namun setelahnya ia menjawab pertanyaan buna Erlin.


"kata bang Azriel nanti aja supaya kejutan pas lahir, eh ternyata udah ketemu sama buna"


Setelah memesan menu makanan dan minuman di sana buna Erlin, Aleena, dan Azkara melanjutkan bercerita.


Hingga ada suatu perintah buna Erlin yang membuat Aleena kelabakan.


"Kamu telfon Azriel gih, biar buna juga telfon papa supaya kesini"


"jarang lho Qualty time"

__ADS_1


"em buna"


"kenapa na"


"em anu gimana ya, emm"


"jangan bilang kakak nggak punya nomor bang azriel" mendengar pernyataan Azkara, Aleena langsung menunduk


"bener na?"


"emm emm iy-iya buna"


"bentar jangan bilang selama ini hubungan mu dan Azriel tidak baik-baik saja" ucap buna Erlin


"kenapa? cerita sama buna" tambah buna Erlin lembut dengan memeluk Aleena


"nggak papa kok buna, mungkin Aleena aja yang lalai sampai tak memiliki nomor ponsel bang Azriel"


"dek kamu pulang dulu aja ya, atau mau shooping buna izinin sana"


Mungkin saja Aleena membutuhkan ruang untuk bercerita, jadilah buna Erlin menyuruh Azkara pulang ataupun kemana terlebih daluhu.


"gimana mau cerita sama buna, setidaknya biar kamu lebih plong dan cucu buna nggak tertekan didalam sana"


"nggak papa, buna nggak bakal bela Azriel kalau memang dia salah" tambah buna Erlin


Akhirnya Aleena luluh, dirinya sudah tidak bisa menyembunyikan terlalu lama karena mungkin akan diketahui juga oleh mereka.

__ADS_1


"maaf jika nanti cerita aleena menyakiti buna" maksud Aleena menyakiti buna erlin itu karena ulah putranya bukan beliaunya.


__ADS_2