
Sampai sore Azriel masih kepikiran dengan pernyataan sang papa tadi.
"siapa yang papa maksud cucunya, masa Azkara nggak mungkin dong orang masih kecil. Tapi kalau bukan Azkara atau aku siapa lagi anak papa cuma kita lho" gumam Azriel
Sementara di rumah sakit semua tengah bersiap untuk pulang, buna Erlin, papa Restu, kakek Aditya dan juga nenek Bunga sudah pulang terlebih dulu untuk mempersiapkan semuanya.
Sedangkan pak Andi dan bu Laras masih menemani aleena, karena mungkin besok siang beliau sudah kembali ke Magetan.
Berat itu pasti meninggalkan putri mereka yang baru saja lahiran, namun sawah yang beliau tanami padi dan juga ubi sudah waktunya panen jadilah itu yang membuat mereka pulang lebih awal.
.
.
.
.
Hari ini tepat tujuh hari lahirnya baby Andra, nanti sore akan diadakan acara aqiqah sebagai rasa syukur atas kelahiran putra, cucu, dan juga cicit mereka.
__ADS_1
Ada beberapa saudara buna Erlin maupun papa Restu yang datang.
Diusianya yang baru tujuh hari, baby Andra sudah menunjukkan wajah gembulnya tak jarang membuat semua orang gemas ingin mencubit pipi gembulnya itu.
Terlebih baby Andra jarang sekali rewel, mungkin hanya ketika haus ataupun pup itupun jarang karena biasanya baby Andra hanya bergerak seperti gelisah.
Bu Laras, pak Andi beserta kakek nenek Azriel sudah mengetahui permasalahan Aleena tapi tentunya tidak secara blak blak an Aleena menyampaikannya. Bahkan lebih tepatnya buna Erlin dan juga papa Restu yang menyampaikan.
Di acara ini, kakek Aditya berniat mengundang serta cucunya bagaimana pun ini adalah acara kelahiran putra dari cucunya sendiri.
Sore hari, Acara sudah hendak dimulai tak terlalu banyak yang diundang hanya ada beberapa tetangga, anak anak panti dan juga Ustadz yang memberi tausiyah.
Azriel yang baru masuk langsung ditunjukkan pemandangan yang menusuk hatinya, seorang wanita bergamis putih dengan hijab berwarna cream sangat cocok melekat ditubuh wanita yang mungil tersebut.
Meski baru saja lahiran tubuh Aleena sudah kembali mengecil meski belum seperti dulu, tapi ya maklum baru beberapa hari yang lalu ia lahiran kan.
"assalamualaikum" sapa Azriel lembut
"wa'alaikumussalam" jaeab Aleena masih belum menoleh kepada Azriel, dia masih fokus membenahi caranya menggendong baby Andra.
__ADS_1
"adenya lucu sekali namanya siapa"
"namaku Andra o-om" seketika Aleena langsung menunduk, ingatannya berputar dimana sebuah hinaan dan ucapan kasar terlontar dari pria didepannya ini.
Pria yang menolak kehadiran janin yang menjadi bayi mungil ini, sekarang ada dihadapannya dengan menggunakan koko putih dan celana hitam.
"boleh abang gendong" izin Azriel
"em bo-boleh"
"kita ke belakang aja yuk" Tanpa menjawab Aleena segera mengikuti Azriel, jujur sekarang dia merasa gelisah dan takut berada di dekat azriel.
Setelah sampai di taman belakang, mereka duduk disalah satu bangku yang menghadap ke taman yang sekarang sudah terisi penuh dengan berbagai bunga.
"assalamualaikum putra ayah, maafin ayah ya dulu sempat nolak kamu, nggak pernah temenin kamu waktu diperut bunda, nggak pernah ajak obrol kamu. Tapi ayah yakin Andra pasti kuat, jangan pernah sakitin bunda seperti ayah ya cukup ayah aja yang terlalu bodoh menyiakan wanita seperti bunda ade jangan, sholeh ya nak muachh"
Ucapan lembut namun menusuk, itulah yang Aleena dengar ternyata ada sisi lemah lembut dibalik sisi keras seorang Azriel Deandra Putra Pradania.
Dibelakang sana, ada seorang ibu yang menangis haru mendengar perkataan putra sulungnya ya dia adalah buna Erlin yang tadi sempat mencari keberadaan aleena.
__ADS_1
Tak ingin menyiakan kesempatan buna Erlin abadikan moment tersebut, beliau juga mengirim kepada besannya untuk berbagi kebahagiaan yang ia rasakan.