Saya Pamit...

Saya Pamit...
Part 46


__ADS_3

"dek sayang" panggil Azriel kepada Aleena yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"hem" jawab Aleena entah kenapa hatinya masih sangat dongkol, kesal intinya campur aduklah dengan kehadiran Lyora tadi.


"kamu marah?"


"enggak, cuma udah ngantuk aja"


"abang juga nggak tahu kalau dia bakal dateng, adek boleh marah sama abang tapi jangan diem aja plis" ucap Azriel terdengar frustasi dan mungkin nada bicaranya sedikit naik


"siapa sih yang marah, jangan ambil kesimpulan sendiri deh bang, bukan berarti Aleena diem itu marah" sahut Aleena tersulut, hormon datang bulannya ini membuatnya mudah tersulut emosi


"kok kamu jadi marah, kalau kamu nggak merasa marah nggak seharusnya marah dong" sahut Azriel yang juga memanas


"abang lho yang mancing duluan, berarti kalau semisal semua orang diam itu abang anggap marah? coba jangan mudah mengambil kesimpulan seenaknya bisa jadi didalam diamnya seseorang itu masih menyimpan sesuatu yang nggak mungkin diungkapkan"


"kamu beda, sebelum datangnya Lyora tadi kamu masih biasa aja kenapa sekarang marah-marah"


"abang yang pancing lho, dah lah capek ngomong sama abang yang nggak bisa ngertiin orang sama sekali"


Setelah mengatakan itu Aleena mendekat kearah Andra dan menggendongnya lalu keluar kamar tanpa menoleh ataupun berkata sepatah pun.


Aleena merebahkan dirinya disamping Andra didalam kamar tamu lantai dasar, tak lupa ia mengunci pintu dan mematikan lampu meski ia sedikit takut kegelapan.


Dikamar utama semalam penuh Azriel tidak bisa memejamkan matanya, terbiasa tidur dengan Aleena membuatnya susah untuk berjauhan.

__ADS_1


Mungkin disini yang salah dirinya karena sudah mengambil kesimpulan sendiri tanpa bertanya apa yang sedang Aleena rasakan.


Setelah subuh Aleena segera menuju dapur berhubung Andra belum bangun, disana sudah ada mbok Warsi dan mbak Yeni yang akan bersiap memasak.


Aleena tidak segan untuk bergabung dengan mereka bahkan dia juga turut membantu, jadilah mereka masak bersama.


Matahari mulai naik, cahayanya mulai terang dengan begitu Aleena bergegas masuk kamar dan membangunkan putranya.


Tak lupa ia membawa satu tumbler susu strowberi, sukses membangunkan Andra tanpa rewel Aleena langsung berpamit untuk kekamar mandi dan mandi.


"unda, adla entut andi don" teriak Andra dari luar sembari mengetok pintu kamar mandi


"sebentar bunda pake baju, Andra tunggu ya"


"siap bos"


Dikamar Azriel terlihat sangat kucel, dengan kantung mata yang begitu kentara dipadukan dengan wajahnya yang kusut sungguh tidak enak dipandang.


Waktu sarapan Azriel segera turun, disana nampak Aleena yang menyiapkan bekal makanan yang mungkin satu untuk Aleena atau mungkin untuk dia dan satunya zudah dipastikan untuk Andra.


"pagi bunda" sapa azriel berusaha membuka topik pembicaraan


"pagi yah" jawaban biasa aja yang terdengar jutek ditelinga Azriel.


"loh mau kemana, kan belum sarapan" tanya Azriel kaget melihat Aleena membawa dua bekal yang sudah Aleena tata tadi.

__ADS_1


"ke butik dulu, nanti sarapan disana"


"yaudah ayo sekalian sama abang"


"nggak usah abang sarapan aja dulu, Aleena bawa mobil sendiri"


"Assalamualaikum" salam aleena dengan mencium tangan Azriel, setelah kepergian Aleena Azriel mendadak seperti orang linglung untuk sejenak.


.


.


.


"unda isa niak mobin ya, ebat banet"


"naik ya sholeh bunda, nggak boleh dibalik hurufnya"


"iyya, maap unda"


#hollaa hollaa hollaa


Mohon maaf akhir akhir ini jarang update, tugas author buanyak sekalihh apalagi bentar lagi ujian duh mumet author. Tapi nggak papa kita punya Allah semoga Allah permudahkan segala urusan kita semua aamiin aamiin yarobbalalamin.


Sekian dulu bay bayy

__ADS_1


__ADS_2