Saya Pamit...

Saya Pamit...
Part 13


__ADS_3

"bun nanti Ara pulang kuliah mau main ke apartemen abang boleh ya, kangen banget sama kak Leena"


"boleh tapi tanya abangmu dulu, atau tanya kak Aleena dia dirumah nggak"


"siap bun"


Menjadi anak bungsu membuat Azkara diratukan oleh papa, abang dan juga kakeknya. Tak pernah ada yang bisa memarahinya karena pasti akan dibela oleh sang kakek.


Tak sabar rasanya menunggu waktu pulang kuliah tiba, sekarang ia tak lagi merindukan abangnya melainkan kakak iparnya karena dia dapat bercurhat sesuka hatinya tanpa batasan.


Sedangkan saat bersama Azriel dia tidak akan sebebas bercerita dengan Aleena karena pasti Azriel akan menyuruhnya pergi sebelum memulai bercerita.


Sepulang kuliah Azkara langsung pergi ke apartemen Azriel, namun sebelumnya ia membeli beberapa kue dan juga buah.


Sementara di apartemen aleena sedang bermanjaan dengan kedua orang tuanya meski melalui telepon, rindu rasanya kepada dua orang yang sangat ia sayangi.


"Kamu sakit nduk kok lemes gitu kayaknya"


"nggak kok buk, alhamdulillah Aleena sehat"


"jaga kesehatan lho ya, ibuk sama bapak udah nggak sabar pengen punya cucu" mendengar pernyataan ibunya membuat Aleena tersenyum getir.


Tak ada niat sedikit pun untuk membuka aib suaminya, bagi Aleena biarlah dia yang merasa sakit jangan kedua Orang tuanya karena beliau sudah cukup berjasa bagi hidupnya dan kini biarlah mereka menikmati hidup mereka tanpa memikirkan permasalahan Aleena.


"assalamualaikum kakak"

__ADS_1


"wa'alaikumussalam sebentar"


"udah dulu ya buk, ada tamu"


"iya nduk assalamualaikum"


"wa'alaikumussalam"


Setelah mematikan telepon Aleena keluar dari kamar dan mendapati adik iparnya sedang duduk didepan televisi.


"adek baru pulang?"


"iya kak, nih ara bawa roti enak banget kakak pasti suka"


"udah bilang buna belum kalau mau kesini, nanti kamu dicari buna lho"


"eh bentar, kakak sakit ya keliatan sembab banget"


"alhamdulillah kakak sehat ko"


Mereka mulai mengobrol hangat sebelum azkara memulai sesi curhatnya.


Mereka bersama hingga sore hari hingga tak sadar Azriel sudah pulang dari kantor.


"dek pulang sana kamu" usir Azriel yang entah itu serius atau bercanda

__ADS_1


"nggak mau, malah adek mau tidur sini sama kak Aleena"


"nggak lah, sana pulang"


Aleena tak berani menyahut apapun obrolan mereka, sikap Aleena memang seperti ini jika tidak ada Azriel maka ia bisa tertawa bebas sedangkan jika sudah ada Azriel maka ia akan menjadi pendiam sangat.


Sepertinya bukan pendiam tapi lebih disebut takut, dia seakan tertekan bathinnya dan membuat mentalnya jatuh jika didekat Azriel.


Azkara yang sudah kesal dengan abangnya itu langsung pulang tanpa pamit kepada Azriel,


"heh, bang Azriel tuh jahat banget jadi orang nggak bisa lihat adeknya seneng gitu" gerutu Azkara


Diapartemen


"pijitin kaki saya dong" ucap Azriel dingin


"iyya"


"ngobrolin apa kamu sama ara tadi? heh palingan juga kamu sok caper lagi sama dia. Saya tahu akal busuk kamu itu yang sok sok an baik padahal busuk" caci Azriel, jangan tanyakan Aleena dia hanya diam menahan sesak.


Tapi rasa sakitnya sekarang tak sesakit dulu lagi, bisa dikatakan ia sudah kebal dengan cacian dan hinaan serta tuduhan Azriel.


"loh adek kok udah pulang" tanya Restu, sang papa


"diusir abang, katanya suruh pulang" kesal Azkara

__ADS_1


"kan memang abang udah nikah jadi nggak boleh seenaknya lagi" nasehat Erlin


"padahal kak Aleena udah izinin lho"


__ADS_2